Catatan Pengantar

7:30:00 AM



Saya kembali membuat blog, entah untuk keberapa kali. Sejak kuliah, saya memang aktif menulis di media gratisan ini. Banyak hal diceritakan. Bisa soal pandangan politik, cerita cinta, galau skripsi atau apapun itu. Pengalaman tersebut sedikit banyak berkontribusi pada kemampuan menulis saya. Soalnya, dari tahun ke tahun, blog memberi kesempatan untuk menulis dengan gaya apa saja. Dari sini, setidaknya, saya bisa melihat perubahan gaya tulisan, penggunaan kata dan konstruksi berpikir. Blog memberi ruang untuk jadi penulis sekaligus editornya.

Kenapa harus membuat blog baru? Kenapa tidak menggunakan blog yang lama?

Ya, ini mungkin jadi salah satu opsi untuk merangsang kembali gairah menulis. Sebab, belakangan saya merasa begitu tumpul dalam menyusun kata-kata. Kemampuan untuk curhat lewat tulisan seakan mulai menghilang. Menyedihkan sekali. Padahal, saya pernah mencapai sebuah fase menjadi – sebut saja – seorang yang haus dan lapar menulis. Saya ingin sekali kembali ke masa itu, masa ketika aktifitas harian yang dicetak dalam teks pada kurun waktu tertentu dapat dibaca dengan perasaan geli, malu, bangga ataupun senyum-senyum tak jelas.

Alasan berikutnya karena begitu banyak hal yang ingin saya ceritakan – selain dengan teman dan pacar saya tentunya. Cerita-cerita yang dimaksud adalah pengalaman personal yang tidak bersifat private yang mungkin memiliki kemiripan dengan permasalahan sejumlah banyak orang. Menulis di media sosial jadi cara membedahnya untuk kemudian menemukan seberapa jauh tatanan sosial politik di jaman ini mempengaruhi kehidupan kita. Toh, di era teknologi digital ini, media sosial menjadi alat yang cukup efektif menyebarkan ide-ide politik, baik di tingkat kelompok maupun personal.

Paling tidak, asumsi tadi, cukup membedakan cerita yang akan dituliskan dalam blog ini dengan perilaku beberapa selebritis yang doyan mengumbar urusan pribadinya di televisi, koran, radio ataupun jejaring sosial. Saya akan selalu memberi jarak pada ruang pribadi orang lain ataupun saya sendiri. Tulisan dalam blog ini akan banyak mendiskusikan ide ataupun kejadian, bukan urusan pribadi orang-orang tertentu.

Saya juga akan banyak menceritakan pengalam personal dan pandangan politik yang dikemas dalam berbagai gaya tulisan. Beberapa catatan yang pernah diposting di facebook ataupun blog-blog sebelumnya, mungkin dengan perbaikan di sana-sini ataupun ditampilkan seadanya, akan kembali disajikan. Paling tidak, saya akan coba lebih jujur dan terbuka di sini, yang di tahap awal bisa dilihat dari pencantuman identitas asli pemilik blog – yang sebelumnya tidak pernah saya lakukan.

Catatan awal ini sekaligus menjadi pernyataan mengenai ditutupnya blog-blog terdahulu. Namun, mereka tidak akan pernah mati. Tidak akan pernah! Blog-blog itu akan tetap hadir di sebuah tempat di mesin penelusuran google. Mereka akan terus bicara soal gagasan seorang (yang pernah) muda.

Walau begitu, seperti yang terjadi pada blog-blog sebelumnya, saya tidak bisa janji bahwa ini akan jadi blog terakhir. Yang jelas, hari ini saya sedang berada di sini, entah untuk singgah ataupun menetap. Kan, hidup memang selalu begitu. Ia menyajikan kisah soal jatuh-bangun, hidup-mati dan datang-pergi. Persis seperti pribahasa, “patah tumbuh, hilang berganti”.


Salam.

*Foto: Richard Sandy Lengkong

You Might Also Like

0 comments

Tentang Saya

My photo

Dengan bakat masak telur, mie instant dan air panas, saya bercita-cita jadi master chef.

"Tembok!"

Informasi diperoleh secara cuma-cuma. Ia ada disekitar kita. Tiap orang berhak mengaksesnya untuk mengembangkan diri atau menghindari pembodohan. Karenanya, privatisasi informasi merupakan sebuah bentuk penyelewengan intelektual.

Coretan di Tembok!