Efek Rumah Kaca dan Keyakinan Menciptakan Pasar

2:22:00 PM


PASAR BISA DICIPTAKAN!!!

Efek Rumah Kaca hadir kembali dengan membawa optimisme, setelah sekian lama dililit frustasi karena album ketiga tidak kunjung rampung. Kini, mereka mulai melemparkan single “Pasar Bisa Diciptakan” yang sejak 10 Juli 2015 diputar serentak di 144 radio di seluruh Indonesia.

Lagu ini sebenarnya sudah dibuat sejak tahun 2008. Idenya diambil dari kegelisahan dalam berkarya di industri musik Indonesia. “Pasar Bisa Diciptakan” juga disebut sebagai kelanjutan lagu “Cinta Melulu”[i]. Dari sisi musik, nyaris tidak terlihat perbedaan dari lagu-lagu sebelumnya. “Pasar Bisa Diciptakan” masih menunjukkan bahwa Efek Rumah Kaca masih tetap berada di jalurnya.

“Pasar Bisa diciptakan” merupakan keyakinan kolektif personil Efek Rumah Kaca. Lewat lagu tersebut, mereka tidak terlihat berupaya menawarkan perubahan. Lirik yang disampaikan terdengar lebih kontemplatif. Berbeda dengan “Cinta Melulu” yang begitu kental dengan aroma sinis di sana-sini.

Meski demikian, mereka bukan tidak melihat permasalahan musik di tanah air. Di bait pertama lagu, Efek Rumah Kaca telah membangun pemaknaan tentang sesuatu yang lebih indah, dan menolak apa yang mereka sebut dengan “remah-remah sepah”. Di sini, ada semacam penolakan dan pernyataan secara tidak langsung bahwa mereka tidak mau mengalah. Tak mungkin juga menciptakan lagu ‘sekedarnya’. Bagi mereka, karya seni haruslah memiliki nilai-nilai ideal sesuai sudut pandang kolektif. Asumsi ini bisa dilihat dari cara mereka menyampaikan lirik di bait selanjutnya “Kami hanya akan mencipta// Segala apa yang kami cipta// Bahagia”.

Di saat bersamaan, terlihat keinginan Efek Rumah Kaca untuk tetap memberi bobot pada tiap karya yang diciptakan, sesuai dengan standar mereka. Dengan kata lain, kepuasan atau kebahagiaan yang disinggung pada bagian sebelumnya, haruslah memberi efek yang – di lagu “Jangan Bakar Buku” – mereka sebut anastesi. Membius. Penilaian ini berdasarkan penggalan lirik “Kami ingin lebih bergizi// Bukan hanya yang malnutrisi// Substansi”. Paling tidak, dari lirik tadi, Efek Rumah Kaca meyakini bahwa karya yang mereka ciptakan harus bisa menghadirkan sensasi dan semangat, minimal bagi personil band.

“Kami bawa mengembara// Ke dasar jiwa// Ke dasar jiwa.”

“Menembus rimba dan belantara sendiri// Pasar bisa diciptakan// Membangun kota di peradaban sendiri// Pasar bisa diciptakan.”

Bagian yang dituliskan berturut-turut menunjukkan sisi kontemplatif dari lagu ini. Jika pada lagu “Cinta Melulu” Efek Rumah Kaca banyak mengejek kondisi musik Indonesia dengan menempatkan lirik-lirik semacam “Atas nama pasar semuanya begitu banal” atau “Lagu cinta melulu// kita memang benar-benar melayu// Suka mendayu-dayu”. Dalam “Pasar Bisa Diciptakan” ceritanya lain. Mereka seperti berusaha meyakinkan diri sendiri bahwa setidaknya mereka masih bisa “Membangun kota di peradaban sendiri”.

Lantas, apakah “Pasar Bisa Diciptakan” adalah bentuk penonjolan sisi egois band Efek Rumah Kaca? Bisa jadi. Itu jelas jadi pilihan kolektif personil untuk tidak menciptakan lagu ala kadarnya, tak mau berkompromi dan tetap di jalur yang mereka yakini sejak awal. Lalu bagaimana dengan penggemar dan penikmat musik di tanah air? Mereka tentu saja tetap mendapat tempat. Peradaban tak pernah lahir dari kesunyian. Dan lagi, saya kira, Efek Rumah Kaca tak mungkin membangun dan menempati kota sendirian.

Sekali lagi, Pasar Bisa Diciptakan!!!


***
TAHUN 2007, penyelamat musik indonesia itu menyatakan kehadirannya. Sajian musik dan lirik yang terdengar berbeda membuat mereka berhasil menyabet sejumlah penghargaan di antaranya, “Best Indonesian Song of 2008” untuk tembang Cinta Melulu, “The Best Cutting Edge” MTV Indonesia Music Award 2008, “Editor’s Choice 2008” versi Rolling Stone Indonesia, “Class Music Heroes 2008” dan nominator Anugrah Musik Indonesia Award 2008[ii]. Desember 2009, lagu “Di Udara” dan “Cinta Melulu” masuk dalam “150 Lagu Indonesia Terbaik Sepanjang Masa Versi Majalah Rolling Stone Indonesia”. Efek Rumah Kaca, oleh sejumlah media juga dijuluki sebagai Penyelamat Musik Indonesia[iii].

Efek Rumah Kaca pantas mendapat penghargaan. Buat saya, mereka menawarkan pilihan berbeda terkait referensi musik di tanah air. Tahun 2007-2009 industri musik di Indonesia didominasi oleh band-band beraliran melayu yang mengusung tema-tema cinta dan patah hati. Keadaan ini turut menggusur eksistensi sejumlah band-band kawakan yang tak ingin dan tak bisa menyesuaikan aransemen musik dengan selera pasar.

Dari sudut pandang bisnis industri, tentu tak ada yang salah dengan hegemoni musik melayu. Mau tidak mau, harus diakui bahwa sajian lirik yang sederhana dan mudah dicerna, dengan tema-tema populis lebih masuk telinga masyarakat kebanyakan. Hanya saja, secara subjektif, saya merasa bosan dengan suguhan musik dan tema lirik yang itu-itu saja. Saya tak menolak musik dan lirik bertema cinta serta patah hati. Hanya saja, dominasi dan repetisi tema patah hati seakan membuat diri ini begitu inferior dan tidak berdaya. Menyedihkan.

Dalam suasana seperti ini, Efek Rumah Kaca hadir. Ia mendobrak kemapanan dan menjadi antitesis. Efek Rumah Kaca hadir dengan keyakinan untuk tidak mengikuti arus. Mereka seakan coba menampar banyak pegiat musik Indonesia dengan menyatakan bahwa lagu seharusnya tidak terputar-putar pada tema “Cinta Melulu”, ada permasalahan sosial, politik, HAM dan lingkungan hidup yang bisa disuarakan.

Sejumlah lagu menjadi bukti bagaimana mereka mendobrak stagnasi, sebut saja “Mosi Tidak Percaya” yang menceritakan kebosanan mereka pada janji-janji politik, “Jangan Bakar Buku” mengritik kelakuan sejumlah pihak yang melakukan pemberangusan dan pembakaran buku-buku, “Efek Rumah Kaca” bicara mengenai ketidakpedulian manusia pada perubahan iklim, “Kenakalan Remaja Di Era Informatika” dan “Belanja Terus Sampai Mati” merupakan lagu yang membahas dinamika sosial di negeri ini. Sementara itu, “Di Udara”, “Hilang” dan “Jalang” merupakan lagu-lagu yang mengangkat isu pelanggaran HAM di Indonesia.

***
Bagaimana dengan lagu bertema cinta? Meski mendobrak tatanan lirik bertema cinta, bukan berarti mereka mengabaikan sama sekali topik ini. Hanya saja, Efek Rumah Kaca menampilkannya dengan lebih gagah, bersahaja dan tidak bersikap mengemis. “Jatuh cinta itu biasa saja,” kata mereka. Saya kira, tak ada yang biasa dari reaksi sepasang manusia yang sedang jatuh cinta.  Toh, jatuh cinta merupakan gejala hormonal yang sangat mempengaruhi tingkah laku manusia. Pengalaman subjektif membuat saya harus membantah anggapan mereka. Sayang sekali.

Kekuatan lain yang dimiliki Efek Rumah Kaca adalah pemilihan kata. Siapapun akan sepakat, band ini memiliki perbendaharaan kata yang begitu kaya. Tak hanya itu, mereka begitu lihai mengawinkan kata demi kata dengan cara mengejutkan. Lihat saja bagaimana mereka berusaha membangunkan Indonesia dari tidur panjangnya dalam lagu “Menjadi Indonesia”, “Lekas bangun dari tidur berkepanjangan// menyatakan mimpimu// cuci muka biar terlihat segar// merapihkan wajahmu// masih ada cara menjadi besar”. Dalam lagu “Jangan Bakar Buku”, istilah medis diselipkan untuk menegaskan kekecewaan mereka terhadap tindakan pembakaran buku, dengan lirik “Bait demi bait pemicu anestesi// hangus sudah// hangus sudah”.

Efek Rumah Kaca adalah band yang mengusung musik pop dengan adonan indie rock, progressive rock, punk, new wave hingga jazz. Ia begitu dekat dengan nuansa musik yang dibangun band-band semacam Pink Floyd maupun Radiohead.

Tentu saja, mereka membawa suguhan alternatif di tengah-tengah dominasi musik melayu. Tak hanya itu, mereka juga berhasil menempatkan lirik kedalam musik. Kadarnya pas. Tak menor. Sehingga, emosi yang dibangun dalam karya mereka bisa sampai ke telinga pendengar, paling tidak saya sendiri.


***
CHOLIL MAHMUD, vokalis sekaligus gitaris Efek Rumah Kaca, mengaku frustasi dengan proses penyelesaian album ketiga. Ia juga bosan menyanyikan lagu yang itu-itu saja di atas panggung. “Main sudah seperti pencet tombol autopilot. Di panggung saya bermain, tapi pikiran tidak ada di sana,” kata dia.

Alternatif untuk menghibur diri harus dicari. Pandai Besi – yang tentu saja bukanlah kloning dari band sebelumnya - dibentuk. Band ini kemudian hadir dengan instrumen yang lebih kaya, dengan tambahan trompet, keyboard dan vokal latar.

Tak butuh waktu lama bagi Pandai Besi untuk mengacak-acak aransemen musik asli Efek Rumah Kaca, hingga membuat para penggemar seakan-akan mendengar lagu baru. Namun, tidak akan ada yang kecewa dengan ‘kenakalan’ personil Pandai Besi. Di sini, mereka justru hadir dengan aransemen magis.

Lihat saja bagaimana mereka mengaransemen ulang lagu “Di Udara”. Jika di Efek Rumah Kaca lagu ini hadir dengan penonjolan suara gitar, tidak demikian dengan versi Pandai Besi. Hadirnya instrumen tambahan membuat sayatan gitar Cholil tidak lagi mendominasi. Tak cukup sampai di situ. Pandai Besi membuat lagu yang sama menjadi terdengar lebih gelap. Lebih suram. Namun, sama sekali tidak menghilangkan pesan yang ingin disampaikan.

“Di Udara” versi Pandai Besi seakan berhasil menghadirkan kembali Wiji Thukul, Munir, aktivis HAM dan pejuang pro demokrasi yang hilang maupun dibunuh, yang hingga hari ini kasusnya belum juga selesai. “Di Udara” menjadi semacam pernyataan kepada pemerintah serta pelaku pelanggar HAM bahwa “Aku Tak Pernah Mati, Tak Akan Berhenti!” – mereka masih ada dan bersuara di sana-sini.

Sebelumnya, bagi saya, lewat tembang “Di Udara”, Efek Rumah Kaca telah berhasil mengambil peran sebagai – meminjam istilah Chairil Anwar – Binatang Jalang. Oleh Efek Rumah Kaca, bait “Aku Tak Pernah Mati, Tak Akan Berhenti!” seperti diteriakkan dengan suara serak dan bernada tinggi serta mata berkaca-kaca, namun dengan keyakinan yang tidak bisa ditawar-tawar.

Pandai Besi jelas merupakan proyek penumpahan hasrat kreatif. Masing-masing personil dipersilahkan menumpahkan imajinasi mereka. Hasilnya, belum setahun kehadiran mereka, Tempo memilih “Daur, Baur” sebagai album terbaik tahun 2013[iv]. “Kelompok musik ini membawa lagu-lagu Efek Rumah Kaca ke tataran yang belum pernah mereka gapai: gelap, satir, penuh emosi dan liar,” demikian pernyataan Tempo.

Sejumlah kritikus musik seakan dibuat kehilangan taji. Album “Daur, Baur” banjir pujian di sana-sini. Majalah Rolling Stone Indonesia menyatakan, “Andaikan Pandai Besi adalah band baru dan ini adalah materi lagu baru, maka ‘Daur, Baur’ akan menjadi album debut Indonesia terbaik sejak album pertama Efek Rumah Kaca[v].”





[i] http://www.rollingstone.co.id/article/read/2015/07/13/140502847/1093/efek-rumah-kaca-rilis-single-terbaru-pasar-bisa-diciptakan-
[ii] http://efekrumahkaca.net/id/diskografi
[iii] http://efekrumahkaca.net/en/news/blog-members/item/19-efek-rumah-kaca-band-cerdas-visioner#.VaPp2l-qqko
[iv] http://seleb.tempo.co/read/news/2014/01/11/112544014/daur-baur-album-terbaik-2013-pilihan-tempo
[v] http://efekrumahkaca.net/id/pandai-besi

You Might Also Like

0 comments

Tentang Saya

My photo

Dengan bakat masak telur, mie instant dan air panas, saya bercita-cita jadi master chef.

"Tembok!"

Informasi diperoleh secara cuma-cuma. Ia ada disekitar kita. Tiap orang berhak mengaksesnya untuk mengembangkan diri atau menghindari pembodohan. Karenanya, privatisasi informasi merupakan sebuah bentuk penyelewengan intelektual.

Coretan di Tembok!