Jatuh Cinta. Titik.

9:38:00 AM



PERASAAN itu lahir beberapa menit lalu. Waktu kamu balas sapaanku dengan kepala tertunduk. Hanya suara lembut yang bisa didengar, tak begitu jelas. Lalu, kamu cepat-cepat masuk ruangan. Selama beberapa detik, aku seperti hilang kesadaran. 


Tak sampai setengah menit pertemuan awal kita. Tapi ketika rotasi bumi berhenti, sedetik bisa jadi seumur hidup. Dan, ketika bumi kembali berotasi hanya penyesalan yang tersisa. Berjuta "harusnya" pun termuntah. Akhirnya, aku menarik kesimpulan bahwa kesempatan yang dibiarkan berlalu adalah masalah. 

Dari luar ruangan, sesekali kuperhatikan tingkahmu, ekspresimu. Ruangan dengan cat tembok yang seragam dan monoton, jadi meriah karena nada bicara dan tawa yang bertubi-tubi kamu lepaskan. 

Energimu seakan tak habis. Lucu. Seperti balita yang selalu gelisah saat disuruh diam. Aku lihat kamu berpindah dari kelompok satu ke kelompok lainnya. Gerak tangan, kaki dan kedipan mata mengeluarkan ragam warna. Ruang diskusi tak lagi didominasi warna putih yang monoton itu. 

Kamu lincah. Kesana-kemari. Sementara, aku hanya mampu membiarkan aliran darah yang bergerak. Dan, di saat bersamaan, memberi kesempatan lebih banyak pada otak untuk bekerja. 

Beberapa menit lalu, diskusi belum mulai. Namun, pikiranku sudah bicara lebih banyak dari biasanya. Aku merasa sistem organisme tubuh tidak terorganisir. Mereka tidak kompak satu sama lain. Otak tak bisa memerintahkan kaki dan mulut. Ia mencaci-maki ketidakberdayaanku dan menyesal tinggal di tubuh yang lebih keras berpikir daripada berbuat. 

Tangan juga mulai mengutuki kaki, yang tak bisa memindahkan badan dari kursi jahanam ini. Ia tak mampu membuat tangan jadi lebih nakal, sekedar melambai atau memegang tanganmu, lalu bilang "namaku Themmy!" 




DI RUANG DISKUSI yang pengap, mataku punya alasan menembus kepulan asap. Kamu. Ya, kamu alasan itu. Ini adalah cara dan kesempatan paling masuk akal untuk curi-curi pandang. Dengan ruangan yang terbakar rokok, mataku bisa lebih aman memandangmu. Asap rokok bisa mengurangi energi listrik akibat pertemuan dua pasang mata. 

Sedikit licik memang. Tapi, banyak hal terasa wajar dilakukan dengan cara-cara licik. Toh, sejak kecil kita sudah diajarkan bahwa pengetahuan manusia hadir setelah kelicikan ular berhasil memperdayai Adam dan Hawa? Dari sudut pandang ini, tindakan licik adalah induk dari pengetahuan baik-jahat. 

Aku gunakan cara licik untuk menatapmu, memberi kesempatan imajinasi untuk melompat kesana-kemari: berkenalan, minta nomor telepon atau minta pertemanan di facebook. Berharap bisa mengajakmu liat sunset, naik gunung, makan cakalang fufu dengan dabu-dabu yang bikin keringetan, atau bikin apa saja sampai mata mulai ngantuk, sampai aku punya kesempatan bilang, "selamat tidur, mimpiin aku, jangan lupa bangun, ya!" 

Cara licik harus kugunakan, karena terlebih dahulu jatuh cinta dan belum punya kesempatan mengatakannya, atau sekedar menunjukkan itu.

Aku jatuh cinta sama kamu, orang yang belum aku kenal. Yang asal, IPK dan latarbelakang keluarganya belum kuketahui. "Ah, persetan dengan bibit-bebet-bobot," pikirku, "aku jatuh cinta, bukan pilih Presiden!" 

"Lagi pula, Samson-Delila, Romeo-Juliet dan Om Berti-Tante Sartje, tak akan jadi cerita kalau tahu siapa diri mereka. Betapa berbeda dan berbahayanya dampak cinta mereka." 

Ya, kamu pasti kenal mereka --- selain Om Berti-Tante Sartje tentunya --- yang dibuat lupa diri karena jatuh cinta. Samson, karena jatuh cinta pada Delila, rela membongkar rahasia kekuatannya. Dan, di saat bersamaan, menunjukkan kelemahannya. Kisah Samson-Delila, aku pikir, mirip dengan Romeo-Juliet. Mereka menebar cinta dengan membunuh status sosial. Entah itu sentimen RAS atau konflik keluarga. 

"... the truth is, baby, blind love is true," yang dituliskan Bon Jovi dalam Bed of Roses, mungkin berangkat dari kisah tadi. 

Om Berty-Tante Sartje punya sedikit kemiripan dengan dua pasangan yang disebut sebelumnya. Namun, untuk pasangan ini, baiknya aku ceritakan saat kita sudah punya kesempatan jalan bersama. Aku kurang enak hati, mereka berteman denganku di facebook. Hanya saja, yang jelas, dengan atau tanpa catatan sejarah, siapapun yang memperjuangkan kemerdekaan cintanya telah menjaga eksistensinya sebagai manusia bebas. 

Aku masih membayangkan, bila nantinya kita beda dalam banyak hal, biarkan saja itu, tak usah disama-samakan. Kita tak akan pernah jadi sama. Bahkan, dalam kebersamaan, kita akan hadir sebagai individu yang berbeda. 

Jika nanti kita punya kesempatan dan waktu bersama, lupakan segala perbedaan. Nikmati saja dan rayakan cinta kita! 



JATUH CINTA pada pandangan pertama, memberi kesempatan padaku untuk cinta pada cinta. Membebaskan hasrat manusiawi dan berharap dapat bersamamu tanpa memusingkan latar sosial-historis. Aku jatuh cinta pada manusia, bukan simbol dan atribut sosial. 

Di dunia ini, setahuku, yang selamat dari konstruksi sosial-politis adalah jatuh cinta. Sebab, ia sudah lahir sebelum manusia mendirikan agama ataupun negara. Ia eksis ketika konstruksi sosial bahkan belum terpikirkan. 

Jatuh cinta adalah naluri alamiah manusia, yang tak bisa dipolitisir, bahkan oleh lembaga pernikahan dengan ritual-ritual yang ribet itu. Menikah itu urusan antara manusia dengan agama dan negara. Jatuh cinta itu urusanku dengan kamu. Urusan kamu dengan aku. Urusan kita. 

Begitu juga halnya dengan pacaran. Ini hanya simbol sosial belaka. Simbol tak akan eksis, jika tidak diberi makna. Maksudku, aku sudah jatuh cinta padamu, dengan atau tanpa status pacaran. Ia bisa hidup hanya karena aku nyaman memandangmu, atau karena ledakan-ledakan ekspresif darimu --- yang entah apa itu. 

"Kalau begitu, apa sebutan untuk pasangan?" tanya seorang kawan, suatu ketika. Aku lebih suka menyebutnya: orang yang kucintai. Terkesan alay, tapi rasanya itu yang paling alamiah. 

Ah, semakin berat pikiranku. Begini hematnya, penting atau tidaknya simbol sosial, aku jatuh cinta padamu. Titik. 



MEREKA PERANG TEORI, aku sibuk perang di hati. Tak ada lagi konsentrasi untuk terlibat dalam diskusi dan beberapa perdebatan di ruangan ini. Ekspresimu cukup menyedot energiku. 


Begitu banyak suara sahut-menyahut, tapi hanya suara batukmu yang tertangkap telinga. Begitu banyak gerak badan, tapi aku hanya tertarik menyaksikan rambutmu yang tertiup angin. 

Hari ini, aku mengutuk semua jenis doktrin maskulinitas yang mengatakan jatuh cinta itu biasa saja. Gerak tangan yang hasilkan ragam warna, sistem organisme yang tak terorganisir, imajinasi yang nampak seperti halusinasi adalah contoh bahwa jatuh cinta itu luar biasa. Surealis. 

Diskusi berakhir. Seperti di kebanyakan diskusi mahasiswa, mereka sepakat menyimpulkan gagasan, menjalin kompromi, lalu menyembunyikan perbedaan ide. Aku tidak. Selain jatuh cinta, dan membayangkan banyak hal tanpa berbuat sesuatu, aku tak mendapat kesimpulan apa-apa. 

Kemudian, mereka pulang ke rumah masing-masing. Kamu juga. Aku juga. Tapi, bayangan dan pikiran tentang kamu belum pulang ke tempat asalnya. Aku masih memikirkan kamu. Berkali-kali kupikirkan, apakah aku ada dalam pikiranmu? 





*** 


Pertengahan 2013, lupa bulan, lupa hari, lupa jam. Cuma ingat, saat itu aku jatuh cinta.


Sumber Foto
http://www.vemale.com/relationship/love/12891-saat-anda-jatuh-cinta-sendirian.html

You Might Also Like

0 comments

Tentang Saya

My photo

Dengan bakat masak telur, mie instant dan air panas, saya bercita-cita jadi master chef.

"Tembok!"

Informasi diperoleh secara cuma-cuma. Ia ada disekitar kita. Tiap orang berhak mengaksesnya untuk mengembangkan diri atau menghindari pembodohan. Karenanya, privatisasi informasi merupakan sebuah bentuk penyelewengan intelektual.

Coretan di Tembok!