Ruang Tanpa Rasa

10:17:00 AM


Di meja segi empat ini dunia kita menyusut. Kecil dan sempit. 

Angin selalu bisa membawa desah nafasmu untuk menyentuh kulitku yang begitu sensitif. Tapi kita tak banyak bicara. Hanya sesekali saja membuang kata. 

Benda kecil berbentuk segi empat menjadi alasan keterasingan kita. Ya, ponselmu itu. Kau sibuk bercerita dengan mereka yang terpisah ruang dan waktu. Mereka yang tak tersentuh. Mereka, yang mungkin sama dengan kita, merasakan paradoks dunia teknologi modern: mendekatkan yang jauh, menjauhkan yang dekat.

“Tak usah naif. Sekarang kita punya desa buana,” sindirmu. 

Aku tahu itu. Alat komunikasi modern membuat dunia berada di genggaman tangan. Segala sesuatunya menjadi begitu cepat dan nampak dekat. Jarak dan waktu kempis sesuai kecepatan jaringan internet. 

Tapi bukan itu. Kau masuk di ruang yang percuma: ruang maya. Suatu ruang yang justru menyembunyikan yang nyata. Kau tenggelam dalam genangan kata. Tanpa rasa. Lalu mengejar segala sesuatu yang menempatkan manusia dalam sosok teks-teks kaku tak berekspresi. 

Yang lebih parah lagi, jumlah detik yang terbuang sama dengan total harga tiga gelas kopi yang makin mengganjal mataku. Aku tak kuasa menginterupsi lakumu itu. 

Kau bisa saja sesekali melemparkan senyum pada ponsel yang tak bernyawa, tak berjiwa. Mungkin, begitu juga orang yang berkomunikasi denganmu. Percakapan itu,menghasilkan senyum yang tak perlu mengetahui balas. Senyum yang tercetak dalam rangkaian huruf. Aku tak tega membredel senyum itu. 

Ah, inilah alienasi itu. Kedekatan yang tersekat. Tapi, aku juga begitu: tercebur dalam lumpur hisap kalimat-kalimat resah ini. Tentu karena aku tak mampu mengintervensi dan menginterupsi perilaku mengasingkan dirimu itu. 

Barangkali, benar juga kata seorang kawan, “kata yang tak berkendara dengan angin, membawa kita dalam keterasingan”. 

Entahlah. Yang jelas ada pelajaran yang bisa kudapati dari kotak minimu itu. “Bahwa bukan hanya kata yang hilang… tapi juga rasa”.


You Might Also Like

0 comments

Tentang Saya

My photo

Dengan bakat masak telur, mie instant dan air panas, saya bercita-cita jadi master chef.

"Tembok!"

Informasi diperoleh secara cuma-cuma. Ia ada disekitar kita. Tiap orang berhak mengaksesnya untuk mengembangkan diri atau menghindari pembodohan. Karenanya, privatisasi informasi merupakan sebuah bentuk penyelewengan intelektual.

Coretan di Tembok!