Solidaritas untuk Paris dan Eksistensi Haters di Facebook

12:42:00 AM




Apakah solidaritas untuk kemanusiaan harus bergantung reaksi Facebook?

Facebook menyediakan fitur khusus bernama Safety Check untuk menyikapi pembantaian di Paris, Prancis. Namun, respon itu melahirkan perdebatan di jejaring sosial. Solidaritas yang begitu masif, setidaknya dibanding tragedi di lain tempat, melahirkan berbagai tuduhan prematur dan terkesan bersifat apriori.

Aktifasi fitur Safety Check dalam tragedi Paris, oleh Facebook, misalnya, mendapat respon ‘miring’ dari sejumlah netizen. Soalnya, belum lama ini juga terjadi serangan teroris di Beirut, Lebanon, yang tidak kalah mengerikan. Di sana, setidaknya 43 orang meninggal, dan 239 luka karena serangan yang diduga didalangi ISIS. Tapi, saat kejadian tragis di Beirut itu, Facebook dinilai tidak melakukan apa-apa. Itu belum ditambah dengan kasus-kasus jatuhnya korban perang di Palestina dan Irak. Facebook nyaris tidak membuka ruang serupa. Akibatnya, solidaritas bagi Paris dituding sebagai solidaritas yang bias barat.

Bersamaan dengan aktifasi Safety Check, dalam kurun waktu relatif singkat, pengguna Facebook turut memanfaatkan avatar bendera Prancis untuk menunjukkan keprihatinannya. Aksi solidaritas bentuk ini, kemudian kembali mendatangkan kesan tak simpatik. Berbelasungkawa pada kematian ratusan manusia di Paris dituduh tidak nasionalis. Bersolidaritas bagi korban-korban di Paris dituding mendukung atau melawan agama tertentu. Dengan kata lain, respon atas aksi pembantaian tidak selalu mendatangkan prihatin.

Tidak bisa begitu, saya pikir. Hanya karena Facebook berbelasungkawa pada tragedi Paris, dan tak memberi tempat pada tragedi kemanusiaan lainnya, bukan berarti jadi alasan bagi kita layak melupakan atau malah membenarkan tragedi kemanusiaan di sana. Rasa prihatin semestinya timbul karena ada manusia-manusia yang jadi korban perang, bukan karena bergantung sikap Mark Zuckerberg, pendiri Facebook. Sebab, seperti kebanyakan kita, Mark Zuckerberg bukanlah pihak yang terkena dampak langsung dari jahatnya perang.

Solidaritas untuk Prancis juga dihubung-hubungkan dengan tragedi kemanusiaan di tanah air. Begitu banyak kejadian menimpa rakyat Indonesia dalam kurun setahun, namun solidaritas yang hadir tidak semasif tragedi di Paris. Lihat saja kebakaran hutan di banyak tempat baru-baru ini, penembakan di Papua atau bagaimana publik merespon 50 tahun pelanggaran HAM di Indonesia serta International People’s Tribunal (pengadilan rakyat terkait peristiwa 1965) yang digelar di Belanda. Ada kesan, Indonesia di pelupuk mata tak tampak, Prancis di seberang lautan tampak.

Harus diakui, solidaritas terhadap permasalahan kemanusiaan di beberapa tempat di Indonesia tidak mendapat respon masif jika dibandingkan dengan tragedi kemanusiaan di Paris. Padahal yang jadi korban juga sama-sama manusianya. Paris jauh, Indonesia dekat, tapi kenapa mereka lebih banyak berduka pada sesuatu yang sulit dijangkau?

Tentu saja, kita tidak bisa menuduh semua yang menggunakan avatar bendera Prancis sama sekali tidak berduka dengan kejadian-kejadian di tanah air. Pastinya, ada alasan kuat yang mendorong pengguna Facebook, dalam skala relatif besar, untuk menunjukkan simpati pada rakyat Prancis. Perkara keberpihakan itu atas dasar kesadaran atau sekedar ikut-ikutan, kita tidak bisa cepat-cepat memberi vonis.

Saya pikir, jika Anda – para haters – merasa lebih banyak bersolidaritas pada kemanusiaan ketimbang reaksi pengguna Facebook yang tergolong meragukan, maka sudah sepantasnya Anda-Anda sekalian mempersilahkan mereka untuk bersolidaritas, karena tentu Anda sudah terlebih dahulu prihatin pada nyawa-nyawa yang jadi korban di Paris. Toh, hanya karena respon publik begitu besar pada korban-korban tersebut dibanding korban-korban di tempat lain, tak lantas membuat Anda membenarkan pembunuhan, bukan? Bukankah Anda sekalian menolak penembakan dan pengeboman yang membunuh masyarakat sipil di manapun ia berbeda?

Tentu saja, saya sama sekali tidak berniat membela Facebook. Namun, meremehkan solidaritas untuk sesama manusia bukanlah tindakan yang bisa dibenarkan. Kealpaan Facebook dalam memberi ruang solidaritas bagi tragedi serupa, bukan jadi alasan untuk melupakan pembunuhan di Paris. Ekspresi kemanusiaan seharusnya tidak boleh bergantung pada reaksi Facebook menyikapi suatu persoalan.

Lebih menjengkelkan lagi, perdebatan di dunia maya membawa segala sesuatu yang justru ingin mendiskreditkan agama tertentu. Mereka seperti ingin bilang bahwa ISIS merupakan sebuah representasi dari ajaran suci, sehingga layak membantai seluruh lawannya – yang kemudian diberi gelar kafir. Dari situ muncul tuduhan, semisal, invasi Amerika Serikat ke Irak sebagai perang antara Kristen melawan Islam. Begitu juga serangan Israel ke Palestina yang dinilai perang antara Yahudi dengan Islam. Kita tidak seharusnya berpikir serendah itu. Amerika Serikat, Irak, Israel maupun Palestina adalah negara, bukan agama.

Soal korban-korban yang berjatuhan – seperti halnya di Paris, Irak, Afghanistan, Lebanon serta Palestina – kita perlu melihatnya sebagai manusia-manusia yang menjadi korban kejahatan perang. Tak bisa dibenarkan. Kebanyakan korban itu tidak bersenjata dan tidak mempersiapkan dirinya untuk berperang. Membunuh mereka dengan senjata dan bom adalah tindakan pengecut, yang harus dikutuk. Apapun negaranya.

Saya menolak stigma negatif terhadap Islam, karena ISIS bukanlah representasi pemeluk agama ini. Saya punya banyak sahabat yang menunjukkan sikap jauh berbeda dengan yang ditampilkan ISIS selama ini. Mereka, sahabat-sahabat itu, menempatkan perbedaan keyakinan dalam toleransi dan rasa saling pengertian. Mereka memandang manusia sebagai manusia.

Dengan begitu, saya juga menolak tindakan Israel yang menyerang warga sipil di Palestina. Seperti dilakukan ISIS, membombardir penduduk-penduduk yang tidak mempersiapkan diri dengan senjata, dan tak ada niat berperang, adalah tindakan terkutuk. Karena itu, penggunaan ayat “Israel adalah bangsa kepunyaan Allah” untuk melegitimasi pembunuhan di Palestina, bagi saya, adalah sebuah cara mengesampingkan kasih bagi sesama manusia dan menggantikannya dengan kebencian.

Saya memang bukan pakar agama, namun sepengetahuan saya, ada nilai-nilai perdamaian dalam agama yang sengaja dikesampingkan pada banyak peperangan. Agama bisa jadi alat mendamaikan tiap manusia. Dengan ayat-ayatnya, manusia bisa mendapat penyegaran rohani. Tapi, ajaran agama juga ditafsir untuk melakukan hal sebaliknya. Manusia bisa saling bunuh karena tafsir teks kitab suci. Mereka bisa menghabisi nyawa seorang ‘kafir’ dengan keyakinan akan memperoleh tempat yang layak di surga. Hal yang disebut terakhir, dilakukan ISIS untuk menghabisi musuh-musuhnya. Hal yang disebut terakhir pula, yang digunakan para haters untuk melegitimasi pembunuhan itu.

Kita memang tidak tahu motif pengguna Facebook, yang jutaan jumlahnya, memilih bersolidaritas dengan memasang bendera Prancis. Kita juga belum bisa mendapat jawaban pasti kenapa publik merespon lebih tragedi Paris dibanding tragedi-tragedi lainnya. Bisa jadi karena keberpihakan Facebook atau mungkin karena Mark Zuckerberg sudah lebih dahulu menggunakan avatar bendera Prancis. Bisa jadi karena pembunuhan di Paris mendapat porsi lebih di media-media di seluruh dunia. Kita tidak tahu pasti.

Maksud saya begini, solidaritas untuk (ke)manusia(an) harusnya menempatkan manusia sebagai korban. Tak memandang agama, warna kulit, aliran politik, bangsa dan negara. Artinya, kita harus mengutuk pembantaian di Paris, seperti mengutuk kekerasan di Papua ataupun Palestina. Kita harus mengutuk pembunuhan para jendral serta orang-orang yand diduga PKI. Kita juga tak boleh melupakan kekerasan pada kelompok ataupun individu yang berusaha mempertahankan hak hidup dan ruang produksinya. Hal itu, tentu saja, bisa terwujud kalau pikiran kita benar-benar adil menyikapi tragedi kemanusiaan.

Dengan begitu, sentimen pada solidaritas kemanusiaan tidak perlu ada. Kita seharusnya bisa bersama-sama menyuarakan penolakan pada perang, apapun alasannya. Sebab, adalah suatu keinginan bodoh mengharapkan datangnya perdamaian lewat perang. Saya yakin, hanya orang-orang bejat yang bisa tersenyum ketika menyaksikan bom jatuh di pemukiman penduduk dan merasakan kemenangan saat melihat tewasnya anak-anak sekolah, ibu-ibu rumah tangga, serta bapak-bapak yang sedang menjalankan pekerjaannya.

Lalu, apakah solidaritas Facebook dan pengikutnya yang terkesan bias barat itu layak menghadirkan penilaian semisal “Saya Tidak Berdoa untuk Paris karena bla, bla, bla”? Jika hal tadi mendapat pembenaran, saya kira, nilai-nilai kemanusiaan kita sudah sampai pada tahap paling memprihatinkan. Sebab, sekedar berbelasungkawa pun kita sudah lupa caranya. Atau, bisa jadi, karena terlampau banyak dipertontonkan kebencian, kita tak ingat lagi rasanya prihatin.

Jadi, jika enggan bersolidaritas pada kemanusiaan, maka jangan halangi orang lain untuk melakukan itu.

*

**Sumber gambar: https://aws-dist.brta.in/

You Might Also Like

0 comments

Tentang Saya

My photo

Dengan bakat masak telur, mie instant dan air panas, saya bercita-cita jadi master chef.

"Tembok!"

Informasi diperoleh secara cuma-cuma. Ia ada disekitar kita. Tiap orang berhak mengaksesnya untuk mengembangkan diri atau menghindari pembodohan. Karenanya, privatisasi informasi merupakan sebuah bentuk penyelewengan intelektual.

Coretan di Tembok!