Surat untuk Frank Sinatra

6:05:00 AM



Dear Frankie,

Hak istimewa dari masa lalu yang tak dimiliki masa depan adalah kenangan. Tiap orang punya cerita sendiri sesuai dengan apa yang ditemuinya di masa lalu. Namun, saya pikir, dari pengalaman yang bermacam-macam itu kesamaannya terletak pada kebanggan dan penyesalan. Saya tak tahu pasti bagaimana Anda menikmatinya. Tapi, tiap kali mendengar My Way, saya membayangkan Anda merengkuh dua hal tadi secara bersamaan.

Saya tahu, lagu itu memang bukan ciptaan Anda. Paul Anka menuliskan lirik My Way setelah mendengar lagu Comme d’habitude, yang dinyanyikan Claude Francois. Menurut Paul, lagu itu tidak bagus namun menyimpan sesuatu yang hebat di dalamnya. Tapi, sudah pasti, Paul Anka punya pertimbangan sendiri ketika memilih Anda untuk menyanyikan lagu ini.

Toh, di masa itu ada Elvis Persley atau Paul sendiri yang bisa menyanyikannya, namun dia berpikir, “Hanya Frank yang cocok menyanyikan lagu ini”. Barangkali, persoalannya bukan sekedar karakter suara. Paul bisa menjadikan pengalaman hidup Anda sebagai bahan pertimbangan.

Mungkin saja, Paul Anka pernah mendengar cerita soal film porno yang pernah Anda perankan di usia 19 tahun, serta upaya bunuh diri hingga 2 kali pada kurun 1952-1953 karena masalah percintaan, atau cerita-cerita amoral lain yang Anda perbuat. Sehingga, dengan pengalaman hidup yang rumit tersebut, Anda diyakini bisa menyampaikan pesan lagu ini lebih baik dari yang lainnya.

Saya tak bermaksud membesar-besarkan masa suram Anda. Hanya saja, saya selalu membayangkan Anda menyanyikan lagu ini dengan setumpuk keyakinan, sambil menertawakan cibiran orang-orang yang menilai tindakan Anda sebagai kebodohan.

Itu kenapa ketika My Way dinyanyikan ulang oleh Paul Anka, Elvis Persley, Sex Pistol, Bono U2, Robbie Williams, Megawati Soekarnoputri, hingga Aburizal Bakrie, suasana yang terbangun tidak bisa melampaui ketika Anda menyanyikannya. Bukan berarti hidup orang-orang itu lebih baik dari Anda. Tapi, bagi saya, Anda memiliki faktor-faktor yang dibutuhkan untuk menyampaikan pesan dalam lagu ini.

Ok Frank, saya tidak akan meneruskan pembicaraan soal masa lalu Anda. Sebagai pemuda yang hidup di tahun 2015, menceritakan kehidupan Anda secara panjang lebar adalah tindakan sok tahu. Lagi pula, bukan hal baik membicarakan urusan pribadi seseorang.

Sebab, kata kawan baik saya, “Seorang yang berpengetahuan luas membicarakan ide, seorang yang berpengetahuan sedang membicarakan kejadian, dan seorang yang berpengetahuan di bawah rata-rata akan membicarakan orang”.

Saya tidak tahu apakah penilaian itu bisa dibenarkan. Namun, dalam surat ini, saya hanya akan menyampaikan pandangan subjektif saya tentang lirik lagu My Way.

Anda boleh mengernyitkan dahi, tertawa geli atau justru sepakat dengan gagasan-gagasan saya. Syaratnya, Anda harus membaca surat ini hingga selesai. Membaca keseluruhan bait demi baitnya. Tak perlu dibalas, Frank. Tak usah repot-repot. Anda cukup menjadi pembaca yang baik saja.

***

Dalam perasaan terpuruk, saya tidak mungkin memilih D’Masiv sebagai referensi musik. Makin berantakan hidup saya. Bukan apa-apa, Frank, saya sadar manusia bisa merasakan patah, sedih dan tidak selalu kuat. Hanya saja, mereka memperlihatkan kegalauan sebagai akhir hidup tanpa ada kemungkinan lain setelahnya.

Dalam tema cinta, D’Masiv memang memiliki kemampuan untuk membuat seorang yang patah menjadi hancur lebur. Beberapa karya mereka sebenarnya, lebih menakutkan dari lagu Gloomy Sunday. Anda tentu tahu apa maksud saya.

Barangkali tidak seluruh lirik lagu mereka bernuansa kehancuran yang tiada tara. Tapi, lewat beberapa hits, yang mau tidak mau mesti saya dengar (sampai hafal malahan), saya tak ingin bereksperimentasi lebih jauh. Saya bayangkan, masih ada pemandangan gelap di lagu-lagu selanjutnya.

Ya, meskipun D’Masiv juga punya lagu “Jangan Menyerah” yang penuh dengan semangat memotivasi. Tapi, lagu ini tetap saja tidak bisa menimbulkan kekuatan dalam diri. Di balik lirik yang mengajak pendengarnya untuk bersemangat menjalani hidup, tersimpan nada-nada kepasrahan. Lalu, bagaimana kekuatan bisa hadir dengan penyampaian yang terkesan tak berdaya? Akhirnya, saya tetap saja melihat lagu ini berujung pada kehancuran.

Tentu saja, dalam banyak hal, D’Masiv masih lebih baik dari saya. Mereka telah berkarya dan menyampaikan perasaan lewat musik, itu poin pentingnya. Mereka juga telah berhasil menggapai popularitas, dengan lagu-lagu yang diterima publik.

Saya tak memungkiri itu. Karenanya, surat ini bukanlah alat untuk mengkerdilkan mereka. Ini hanya sekedar cerita tentang referensi musik yang saya perlukan dalam keadaan galau.

Bagi saya, lagu My Way kental dengan keyakinan dan totalitas menjalani hidup. Ia seperti curhatan seseorang yang segera menjelang ajalnya, lalu menceritakan segala sesuatu yang telah diperbuatnya di masa silam. Tapi bukan tentang pengakuan dosa, penyesalan dan ungkapan rasa bersalah atas tindakan yang sudah diperbuat.

Curhatan itu penuh dengan kebanggaan atas banyak hal yang sudah dilakukan dengan gagah berani. Bagian yang cukup penting dalam lagu ini adalah membalik rasa bersalah itu sebagai tindakan yang dilakukan secara sadar dan sesuatu yang pernah dinikmati pada kurun waktu tertentu.

Itu sebabnya, lagu My Way, jadi semacam manifesto untuk memproklamirkan keyakinan tiap individu dalam menentukan jalan hidupnya sendiri.

Oh ya, Frank, beberapa teman saya juga cukup menggemari lagu ini. Kami sering menyanyikannya sambil menutup mata. Itu adalah cara paling mudah untuk menikmatinya. Ya, My Way bisa menguatkan perasaan-perasaan bimbang. Ia bisa menjadi pengantar topik-topik diskusi tentang masa lalu yang tak selalu heroik namun terasa begitu penting untuk diceritakan.

Saya juga, Frank. Ketika hari ini saya diperhadapkan dengan konsekuensi yang ditimbulkan oleh tindakan di masa lalu, saya coba merasionalisasi pesan-pesan dalam lagu ini. Penyesalan tentu saja ada, tapi saya tidak mungkin terus-terusan larut di dalamnya. Sebab, terlampau lama memikirkan banyak hal yang sudah terjadi hanya akan melupakan beberapa kesenangan di hari ini.

Buat saya, cerita di masa lalu hanya cocok sebagai lucu-lucuan saja. Ia tak lebih dari bahan ngobrol sambil minum kopi dengan teman-teman. Saya sadar, betapapun memalukan dan menyedihkannya kehidupan di masa lalu, orang yang menjalaninya tetaplah sama: saya. Adalah sebuah kebodohan jika saya mengutuki diri saya sendiri atau menganggapnya sebagai orang lain.

Saya juga tak mungkin menyalahkan orang-orang terdekat atas segala hal yang tak diinginkan. Bagaimanapun, mereka punya kehidupan sendiri yang harus dijalani. Ini bukan perkara ego personal. Orang-orang di sekitar saya tadi, dalam beberapa hal, memang punya kemampuan untuk menolong dan berbagi. Namun, pada sisi lain, keputusan untuk menentukan jalan hidup tetap berada di tangan saya sendiri. Setidaknya, saya bersyukur, berada di antara mereka yang bersedia membantu sesuai kapasitasnya.

Dan, jika hari ini saya menghadapi beberapa hal yang tidak menyenangkan, bukanlah sesuatu yang adil mempermasalahkan masa lalu – termasuk juga orang di sekitarnya. Seperti yang sudah saya singgung sebelumnya, masa lalu selalu menyimpan kebanggan dan penyesalan. Hari ini, saya harus mengenangnya secara bersamaan.

Kata Pramoedya Ananta Toer, “kalau masa lalu tidak bisa jadi pembantu, lebih baik lupakan”. Saya sepakat dengan itu. Karenanya, saya berusaha memaknai berbagai kejadian, sebagai instrumen untuk menghadirkan daya kreatif. Tak peduli apapun bentuknya.

Saya sudah menikmati banyak hal di masa lalu, Frank. Menjadi seorang yang bangga dan meyakini pilihan hidup, sambil mengabaikan kemungkinan-kemungkinan lain. Meski hari ini, beberapa hal berubah, saya yakin tidak pernah ada waktu yang terbuang percuma. Setidaknya, saya sudah mengambil bagian saya untuk mengisi hidup. Dan, yang paling penting, tidak lari dari kenyataan.

Meski cerita di masa lalu tak lagi hadir di hari ini, dan saya tak tahu apa yang akan terjadi besok, tapi saya yakin, saya pasti bisa menikmatinya. Karena, bagi saya, kehidupan adalah proses menemukan kebahagiaan secara terus menerus.

Tentu saja, saya tidak ingin menghabiskan waktu untuk menduga kemungkinan-kemungkinan yang akan datang. Hari ini perlu dimanjakan dengan kegembiraan.

Bukan berarti saya tak punya rencana, Frank. Saya akan memanfaatkan kebebasan untuk melakukan banyak kesenangan: keliling pulau naik motor, trip ke pulau-pulau terluar atau sekedar berjemur di pantai.

Apa itu menyenangkan buatmu? Saya sendiri tak sabar menjalaninya. Ini adalah pengalaman pertama yang tak ingin saya lewatkan. Tentu saja, Anda akan ikut, jika rencana itu terwujud. Mengunjungi tempat-tempat baru tak akan memukau tanpa nyanyian Anda.

Sudah dulu, ya, Frank. Saya sudah terlalu banyak ngomong. Mungkin Anda punya kesibukan yang harus diselesaikan. Tapi, saya berjanji akan bersurat lagi jika ada selera menulis.

Selamat bersenang-senang, Frank. Titip salam untuk Fredie Mercury dan John Lennon. Saya juga akan menyertakan mereka dalam petualangan itu.

Carpe Diem!



*Sumber Foto

You Might Also Like

6 comments

Tentang Saya

My photo

Dengan bakat masak telur, mie instant dan air panas, saya bercita-cita jadi master chef.

"Tembok!"

Informasi diperoleh secara cuma-cuma. Ia ada disekitar kita. Tiap orang berhak mengaksesnya untuk mengembangkan diri atau menghindari pembodohan. Karenanya, privatisasi informasi merupakan sebuah bentuk penyelewengan intelektual.

Coretan di Tembok!