Manifesto Haters

12:20:00 PM



Menghakimi kesalahan seseorang bukanlah hal yang sulit, apalagi jika dilakukan secara keroyokan. Saya, kamu, kita, hanya perlu satu kesalahan untuk menghancurkan karakter seseorang. Setelah itu, tinggal seret pelaku ke sebuah kursi lalu cerca dengan berbagai tuduhan yang akan sulit dibantah. Serasional apapun pembelaan tertuduh, dia akan selalu salah. Selalu dibantah. Ingat, kita jamak, tertuduh tunggal, dan suara terbanyak adalah yang paling benar. Bukan begitu?


Kenapa? Ada yang salah? Jangan pura-pura, deh! Hari ini, apa yang lebih gampang dibikin selain membicarakan kehidupan orang lain atau menghukum kebodohan-kebodohannya? Toh, pikiran kita belum tiba ditahapan menganalisis suatu kejadian, apalagi melahirkan ide-ide revolusioner? Jangan mimpi, ah.

Sebagai masyarakat bermental keroyokan, sudah jadi kewajaran untuk beramai-ramai meninju kebodohan orang lain, tanpa perlu sungkan. Selagi kesalahan itu benar-benar terlihat, satu-satunya hal yang paling bisa dilakukan adalah menghancurkannya. Selagi kita banyak, akan lahir tuduhan-tuduhan kolektif, lalu pikiran-pikiran kita yang picik akan melahirkan beragam ide.

Sekali lagi, kita adalah masyarakat yang bermental keroyokan. Jika seseorang berada dalam posisi salah – namun masih berada dipihak kita – maka kita akan membelanya, mengeroyok musuh atau memutuskan bertarung semua lawan semua: tawuran. Namun, jika kesalahannya sama sekali tak ada hubungan dengan kepentingan kita, maka kita berhak mengeroyok orang tersebut. Itu sudah jadi hukumnya.

Jangan pernah lewatkan kesempatan ini atau kita akan menyesal. Bisa jadi, besok atau lusa, ia – orang yang bersalah tadi – akan menyadari perbuatannya lalu memilih bertobat. Selain itu, ceritanya akan berbeda jika hanya saya atau Anda seorang diri yang melakukan serangan. Kita, saya atau Anda bisa saja balik dihajar dengan kekuatan yang sama sekali tidak diperkirakan. Ingat: bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh.

Rasionalitas dan berpikir logis, dalam kasus ini, bukan lagi hal penting. Tuduhan – sekali lagi tuduhan, sodara-sodari –  itu yang kita perlukan. Singkirkan dulu segala pemahaman soal berpikir adil. Hari ini kita sudah menjadi hukum itu sendiri. Jangan pernah padamkan kebencian dan kebodohan-kebodohan yang kita pelihara – itu adalah senjata untuk menghakimi kesalahan-kesalahan yang sudah diperbuat orang lain.

Itu kenapa manusia disebut makhluk sosial. Urusan pribadi bisa jadi persoalan bersama. Saya, dia atau Anda, akan selalu membawa nama kelompok. Kesalahan pribadi akan selalu jadi dosa bersama. Pastinya, hari ini, kita – bukan dia atau mereka – tak punya masalah pribadi, tak ada yang benar-benar terlihat, setidaknya.

Tapi, mereka itu, orang-orang di luar kita, jelas melakukan praktik-praktik busuk: selingkuh, poligami, seks bebas dan berbuat hal-hal di luar moralitas. Tindakan tersebut sudah sangat, sangat jelas meresahkan dan bisa menjangkiti masyarakat luas. Karena itu, sudah sepantasnya kita juga merasa risau.

Memangnya, Anda bisa bayangkan, sahabat baik Anda yang tertimpa persoalan tadi? Membiarkannya terjadi adalah suatu kejahatan, bukan? Karena itu, dalam kasus ini, sahabat Anda tidak lagi punya hak pribadi untuk menentukan benar-salah atau baik-buruk. Anda jelas lebih tahu segala konsekuensi yang akan merugikan masa depannya. Otomatis, Anda merasa perlu ikut campur dalam urusan pribadinya, bukan?

Sementara, di lain sisi, kita sedang menjalani hidup yang baik-baik saja: masih bisa sekolah, kuliah, urus kerja dan rumah tangga, hingga menjalankan ibadah sesuai agama masing-masing. Hidup kita ini mulia sekali. Tak ada soal. Kita bisa menikmati segala sesuatu yang kita jalani, dengan menyembunyikan beberapa kesalahan dan kebodohan hal yang bersifat privat. Meski demikian, kita sama sekali tidak boleh mentolerir kesalahan orang-orang di luar kita. Haram hukumnya. Kita harus buat perubahan. Harus!

Apakah kita menindas? Tidak, tentu saja. Pastinya, tak ada yang bisa merasakan pahitnya penindasan selain kita. Penindasan adalah pertarungan antara yang mengendalikan kuasa melawan mereka yang tidak memiliki akses terhadap kuasa. Apa yang kita lakukan adalah pertarungan tunggal melawan jamak, sedikit lawan banyak. Pertarungan antara yang sama-sama tidak berkuasa bukanlah penindasan, itu adalah hal yang alamiah dan naluriah.

Lalu, jika ada yang merasa ditindas karena perbuatan dan tindakan kita, bagaimana?

Jika pada akhirnya ada yang merasa dijajah, ditindas, itu urusannya secara pribadi. Kita tidak perlu peduli dan tak usah ambil pusing. Toh, kita hanya melampiaskan hasrat yang selama ini terpendam dan harus meledakkannya, supaya tidak menimbulkan kebusukan di dalam diri? Jika kita menang, karena kita banyak, bukan berarti kita menindas. Jikapun, hari ini, kita berkuasa bukan berarti kita menjajah. Kita hanya berupaya menjaga segala sesuatunya seragam dan terkendali. Nggak neko-neko. Itu saja.

Sebab, kita adalah kebenaran, pusat dari segala pengetahuan baik dan jahat. Kita adalah standar moral. Di luar kita, segala sesuatunya adalah bajingan, jahanam dan sampah. Selain kita, segala sesuatu tentang perjuangan adalah tentara bayaran, palsu dan ditunggangi. Kita adalah sumber segala sesuatu tentang perjuangan. Kita adalah kelompok orang yang berusaha menciptakan keteraturan dan banyak hal yang bisa dikontrol agar tidak melahirkan perbedaan.

Kebenaran ada di pihak kita, sodara-sodari. Kita harus terus melanjutkan perjuangan ini, hingga tertuduh benar-benar tak bisa bicara, remuk, hancur dan lenyap dari peredaran. Kita harus membalaskan segala sesuatu yang tidak menimpa kita diperbuat penjahat itu!

Jangan menyerah kawan-kawan, Nikita Mirzani tertuduh belum binasa!

Kita masih ada dan bertambah banyak!

Panjang umur solidaritas!


Panjang umur perlawanan!


sumber gambar: weheartit.com

You Might Also Like

0 comments

Tentang Saya

My photo

Dengan bakat masak telur, mie instant dan air panas, saya bercita-cita jadi master chef.

"Tembok!"

Informasi diperoleh secara cuma-cuma. Ia ada disekitar kita. Tiap orang berhak mengaksesnya untuk mengembangkan diri atau menghindari pembodohan. Karenanya, privatisasi informasi merupakan sebuah bentuk penyelewengan intelektual.

Coretan di Tembok!