Logika Move On

7:08:00 PM



Sepanjang tahun 2015, move on menjadi sebuah istilah yang sering digunakan untuk menunjukkan keberhasilan seseorang yang berhasil melampaui galau. Move on, jika diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia, bisa diartikan jalan terus. Namun sebagai suatu konsep yang hegemonik, ia adalah upaya untuk melupakan atau beranjak dari subjek dan suasana-suasana tertentu. Move on bisa juga seperti yang dikatakan Pramoedya Ananta Toer, “Jika masa lalu tidak bisa jadi pembantu, maka lupakan.”

Berdasarkan penelusuran di dunia maya, sejumlah definisi mengenai move on bisa ditemukan  (silahkan cari sendiri), dan saya kira bisa dipetakan dalam dua kategori: pertama, sebagai bagian dari pengalaman subjektif, move on adalah upaya melupakan dan menemukan subjek maupun suasana baru, atau dikatakan berhasil jika seseorang tiba pada tahap itu. Contohnya, upaya move on dari gagal tes CPNS, gagal masuk kampus favorit, tidak naik kelas, atau... dikatain pacar, cipokanmu payah! Kondisi ini membuat seseorang sebisa mungkin tidak hanya melupakan individu atau kelompok, tapi juga realitas kegagalan tersebut. Di bagian ini, move on berarti melupakan subjek dan suasana – ataupun keduanya secara bersamaan.

Kedua, move on bisa berarti situasi yang menempatkan seseorang pada proses menemukan dan melupakan secara bersamaan. Contohnya, setelah lama jadi penyanyi yang jadi fantasi seksual banyak pemuda-pemudi di negara ini, sebentar lagi Pasha Ungu jadi wakil walikota Palu. Di bagian ini, move on serupa dengan adaptasi. Artinya, suka-tidak suka, individu atau kelompok dituntut belajar menyesuaikan diri dengan suasana baru – tentu tanpa harus melupakan individu atau suasana di masa silam.

Dua konsep yang sudah disebutkan tadi, persis seperti yang diyakini kaum empiris. Menurut mereka, kemampuan orang untuk move on bergantung pada field of experience (lapangan pengalaman)-nya atau term of reference (kelompok rujukan)-nya. Kaum empris percaya, move on adalah ledakan sensasi personal manusia melalui penginderaan. Melalui alat indera, manusia bisa memahami kualitas fisik lingkungannya, bahkan lebih dari itu, manusia bisa memperoleh pengetahuan dan semua kemampuan untuk berinteraksi dengan dunianya[i].

Karena move on berhubungan dengan pemaknaan inderawi manusia, dan karena sifatnya yang begitu subjektif, maka tiap orang akan punya cerita sendiri. Ada yang berhasil, ada yang masih berproses, ada pula yang gagal. Ada yang cepat, ada yang masih berproses, ada pula yang lambat. Kira-kira – jika saya boleh menggeneralisir – seperti itulah hasil yang didapati.

Nah, kalau move on adalah urusan personal dan kemampuan tiap orang bergantung pengalaman hidupnya, lalu apalagi yang perlu dibahas?

Hingga tiba di bagian ini, saya sebenarnya tidak begitu mengetahui untuk apa membahas move on panjang-lebar – selain karena saya berulang kali gagal melakukannya. Tapi, tentu saja, selalu ada alasan. Ingat, kita sedang membahas logika. Menurut dosen filsafat waktu saya kuliah dulu, yang lebih bikin semangat ngantuk daripada belajar, upaya menemukan kebenaran harus dilakukan lewat meragukan kebenaran-kebenaran yang sudah mapan. Tesis-antitesis-sintesis. Lalu, sinteisis akan menjadi tesis kembali.

Maksudnya? Jadi begini. Hari ini, banyak orang masih percaya dengan konsep move on yang sudah disebutkan tadi. Tapi, mempercayainya begitu saja tanpa usaha mencari tahu kebenaran adalah perbuatan yang agak kurang bijak. Dengan menemukan konsep move on – kalaupun dia benar-benar ada – setidaknya akan membawa kemaslahatan bagi banyak umat manusia di dunia ini.

Nah, jika kaum empiris melihat move on berangkat dari realitas yang dimaknai oleh penginderaan seseorang, maka Sigmund Freud punya penjelasan lain. Menurut dia, move on timbul karena dorongan biologis yang bertentangan dengan realitas kehidupan[ii]. Jadi, keinginan seseorang untuk move on bukan dikarenakan faktor eksternal namun lebih karena faktor internal, yang adalah dorongan biologis.

Maksudnya begini, apa yang Freud sebut Id (bagian paling primitif dan asli dari kepribadian manusia) berisikan segala sesuatu yang secara psikologis bertugas menjalankan prinsip-prinsip kesenangan (pleasure principle). Tujuannya, mengurangi atau membebaskan sesorang dari ketegangan. Jadi, jika pasangan mengatakan bahwa “cipokanmu payah!”, maka percayalah itu adalah dorongan Id. Dan jika Anda mulai berselisih paham lalu memutuskan untuk move on, maka Id-lah pihak yang harus dipersalahkan.

Lho, lalu kenapa ada yang bermasalah atau malahan gagal move on?

Tenang saja, Freud sudah memberi penjelasan mengenai hal tersebut. Pada suatu titik, naluri kebinatangan manusia memang tidak selalu berhasil dijalankan. Soalnya, selain Id, ada juga yang namanya ego dan superego. Ego adalah mediator antara hasrat-hasrat hewani dengan tuntutan rasional dan realistik. Sementara itu, superego adalah hati nurani (conscience) yang merupakan internalisasi dari norma-norma sosial dan kultural masyarakat. Semacam ‘polisi’ kepribadian, begitu.

Karena Ego-lah orang bisa gagal move on dan bertindak atas pertimbangan-pertimbangan rasional dan realistis. Ketika Id mendesak untuk move on, ego memperingatkan Anda “sabar, kan masih bisa belajar cipokan?!” atau “semua yang jago cipokan, awalnya juga payah. Jangan move on, deh!”  Namun, jika Anda (yakin) seorang yang rupawan dan tetap memilih move on, itu berarti ego menuruti desakan Id sambil bersiap-siap dihukum superego dengan perasaan bersalah.

Nah, lewat konsep psikoanalisa Freud, maka move on bisa lahir tanpa tafsir empiris dan karena itu ia bukanlah naluri eksklusif manusia. Maksudnya? Hewan juga bisa move on?

Bisa, jika tidak dilihat dari kaca mata empiris. Sebab, menurut kepustakaan yang dihimpun Saroyo[iii], pakar primatologi Sulawesi Utara, selama dua dekade terakhir, penelitian tentang manajemen konflik pada hewan yang hidupnya berkelompok terfokus pada reuni pascakonflik atau rekonsiliasi. Individu-individu yang bertengkar segera melakukan tingkah laku afiliasi setelah konflik agresif. Ada dua fungsi rekonsiliasi pada satwa primata: pertama, untuk memperbaiki kerusakan hubungan karena agresi, dan kedua, untuk mereduksi ketidakpastian pasca konflik dan tekanan pada individu tersebut.

Tuh, primata bisa berdamai dan melupakan masalah. Mereka bisa move on, kan?

Meski demikian, saya rasa, konsep dari Freud masih memiliki kelemahan. Sebab, dengan hanya bertumpu pada ‘kesenangan’ sebagai alasan untuk move on, maka gagasan psikoanalisa sebenarnya melupakan akar masalahnya. Sebab, ada banyak orang yang menolak ‘move on’ (dalam artian mencari kesenangan), bukan karena mereka ingin terus larut dalam kesedihan, namun karena inti permasalahan yang sedang mereka hadapi belum terselesaikan. Akar atau inti permasalahan itu sendiri, juga bukan seperti yang disebutkan kaum empiris, yang berdasarkan subjektifitas.

Kok bisa? Kalau bukan karena pengalaman subjektif dan dorongan biologis, lalu apa yang membuat move on eksis?

Menurut Dede Mulyanto, tak mungkin gerakan move on bergerak sendiri karena, pertama-tama, gerakan move on mengandaikan 1) kejelasan apa yang dituju, 2) kejelasan bagaimana kita bergerak mencapai tujuan[iv]. Dua hal inilah yang dilupakan oleh Freud dan psikoanalisanya. Artinya, jika orang harus menikmati kesenangan, maka itu tidak akan dilakukan dengan meninggalkan persoalan yang belum terselesaikan. Sebab, tanpa menyelesaikannya, sulit bagi kita menentukan bagaimana caranya move on – toh kita tidak sedang bicara lari dari kenyataan. Sesuai sudut pandang ini, saya kira, baik empirisme maupun psikoanalisa patut dikritik. Psikoanalisa irasional, empirisme emosional.

Mari kita coba lebih mendekati filsafat Marx. Di sini, ditemukan pengertian yang paling pokok, move on merupakan akibat dari adanya pertentangan di antara kekuatan yang saling berlawanan dan tidak dapat didamaikan[v]. Dan, sejarah manusia adalah sejarah pertarungan kelas[vi]: pertarungan antara yang berkuasa dan yang tidak memiliki akses tehadap kuasa, pertarungan antara mereka yang menguasai alat produksi dan yang dieksploitasi untuk pemenuhan produksi kapital, atau pertarungan antara borjuis dengan proletar.

Nah, dengan konsep ini, move on bukan lagi karena urusan subjektif atau dorongan biologis – atau yang emosional dan yang irasional. Ia justru hadir karena ada kesadaran objektif, bahwa eksploitasi dan penindasan yang dirasakan seseorang, sifatnya bukanlah individual, namun sistemik. Karena itu, untuk menjawab pertanyaan Dede Mulyanto tadi, move on bertujuan merebut kekuasaan dari borjuis menjadi kekuasan proletar. Bagaimana caranya? Individu-individu harus menyatukan diri dalam sebuah gerakan (organisasi) massa: Revolusi!

Ehemmm!

Maaf di bagian terakhir kesannya terlalu menggebu-gebu.

Sebenarnya, saya hanya berupaya membantah anggapan psikoanalisa Freud yang menyatakan bahwa move on lahir dari dorongan biologis untuk menemukan kesenangan belaka. Sebab, orang-orang yang bertahan dan enggan pergi untuk menyelesaikan sebuah persoalan adalah orang-orang yang sedang mengupayakan bisa-cipokan-dengan-baik-dan-benar move on yang sebenar-benarnya. Selain itu, gagasan yang terakhir diajukan, juga berupaya membantah move on beranjak dari pengalaman subjektif individu per individu. Konsep tersebut justru akan mengaburkan massa rakyat dari musuh mereka yang sebenarnya: sistem yang menindas!

Lalu, apakah argumentasi di atas hanya cocok untuk melihat permasalahan sistemik, dan dengan begitu filsafat Marx tidak bisa diterapkan dalam urusan move on karena diputusin pacar atau yang sifatnya personal?

Jelas cocok. Lewat analisis Marx, kita bisa mengatahui alasan Anda atau pacar Anda memilih move on. Dan itu sudah sangat, sangat dan sangat pasti bahwa dalam relasi yang Anda jalin, terdapat suatu praktik-praktik penindasan antara yang kuat terhadap yang lemah. Salah satu di antara Anda, sudah mengambil peran sebagai borjuis ataupun proletar. Sudah pasti juga ada dominasi peran dan monopoli informasi dalam hubungan itu dan tak ada relasi emansipatoris, misalnya ada yang merasa lebih jago cipokannya. Sehingga, satu-satunya jalan yang harus diambil adalah revolusi move on!

Bagaimana dengan mereka yang gagal atau bermasalah dengan move on?

Itu juga sudah sangat jelas: mereka, orang-orang yang gagal dan bermasalah dengan move on, masih belajar cipokan yang baik dan benar terikat oleh rantai-rantai penindasan dalam relasi. Mereka belum khatam teori revolusi move on. Karenanya, mereka perlu merumuskan strategi dan taktik yang efektif.

Setidaknya, dari penjelasan panjang-lebar mengenai move on ini, ada beberapa hal yang bisa disimpulkan. Pertama, memilih move on berpotensi menggiring Anda untuk menjadi emosional, irasional atau revolusiner. Kedua, ada bentuk perjuangan yang bisa dipetakan ketika – sejak dalam pikiran – memutuskan move on: memperjuangkan perasaan, memenuhi dorongan biologis atau memerdekakan diri dari rantai-rantai yang eksploitatif. Ketiga, kegigihan Anda membaca artikel logika move on hingga bagian akhir, menunjukkan beberapa hal: 1) Kita harus meragukan kemapanan konsep move on hari ini dan mengajukan analisis-analisis tandingan untuk kemaslahatan umat manusia. 2) Seperti halnya saya, Anda juga bermasalah dengan move on. 3) Barangkali, Anda justru sedang bersusah payah ingin belajar cipokan yang baik dan benar move on?

Venceremos!!!

Manado, 9 Januari 2016




Sumber Gambar: lovethispic



[i] Jalaluddin Rakhmat, Psikologi Komunikasi, (Bandung: Rosda, 2008).
[ii] Ririn Ambarini, Konflik Batin Dolour Darcy: Pendekatan Psikoanalisis Freud Terhadap Tokoh Utama Novel Poor Man’s Orange Karya Ruth Park, (Undip: Tesis Magister Ilmu Susatra, 2008).
[iii] Saroyo, Karakteristik Dominasi Monyet Hitam Sulawesi (Macaca nigra) di Cagar Alam Tangkoko – Batu Angus Sulawesi Utara, (IPB: 2005).
[v] Luois Kattsoff, Pengantar Filsafat (Yogyakarta: Tiara Wacana,  2004).
[vi] Manifesto Partai Komunis

You Might Also Like

1 comments

Tentang Saya

My photo

Dengan bakat masak telur, mie instant dan air panas, saya bercita-cita jadi master chef.

"Tembok!"

Informasi diperoleh secara cuma-cuma. Ia ada disekitar kita. Tiap orang berhak mengaksesnya untuk mengembangkan diri atau menghindari pembodohan. Karenanya, privatisasi informasi merupakan sebuah bentuk penyelewengan intelektual.

Coretan di Tembok!