Arus Balik INOVASI

3:06:00 PM




TAHUN 2010, beberapa senior terkejut. Kepada mereka, saya menunjukkan Surat Keputusan Rektor Universitas Sam Ratulangi Manado, tentang Kepengurusan di Lembaga Pers Mahasiswa INOVASI. Bagaimana tidak kaget, sekitar 4 atau 5 tahun, organisasi ini tidak mendapat legitimasi dari pihak rektorat. Mereka beraktifitas namun dianggap tidak ada.

Permasalahan itu, sebelum tahun 2010, dipicu dinamika politik di dalam kampus. Pimpinan Universitas, melalui Pembantu Rektor bidang kemahasiswaan, mengeluarkan Petunjuk Teknis (Juknis) tentang organisasi kemahasiswaan intra kampus.

Pengurus INOVASI menyatakan penolakan di forum-forum resmi, maupun dalam diskusi non-formal. Mereka, yang saat itu didominasi aktivis ekstra kampus, beranggapan, Juknis adalah kelanjutan kebijakan NKK/BKK yang digunakan rezim Orde Baru untuk membungkam daya kritis mahasiswa.

Saat itu, berkembang wacana perampingan unit-unit kegiatan mahasiswa. Perampingan yang dimaksud, misalnya, UKM Catur, UKM Wushu, UKM Taekwondo, disatukan ke dalam UKM Olahraga. INOVASI, Fodim, Debat Bahasa Inggris, masuk dalam UKM Penalaran.

Juknis, lantas dinilai bukan hanya memberangus organisasi kemahasiswaan tapi juga kebebasan berekspresi mahasiswa.

Akibatnya, pimpinan Universitas didesak mendukung program Student Government. Itu berarti, hubungan antara pimpinan mahasiswa dengan pimpinan Universitas, harus bersifat koordinasi. Bukan komando, seperti yang mereka maknai dalam Juknis. Mahasiswa ingin mengatur dirinya sendiri.

Selisih pendapat tak bisa dihindari. Beberapa kali, sekretariat INOVASI digembok secara paksa. Walau akhirnya, dibuka kembali oleh pengurus. Puncak perselisihan itu adalah tidak diakuinya kepengurusan INOVASI oleh Pimpinan Universitas. Malahan, dengan kontrol kekuasaan yang dimiliki, Pembantu Rektor bidang Kemahasiswaan, menunjuk sejumlah nama sebagai pengurus INOVASI yang sah.

Keputusan itu ditolak. Alumnus INOVASI dari berbagai penjuru turun gunung. Setiap orang yang tidak pernah bersinggungan dengan organisasi dilarang memasuki sekretariat. Bisa dikatakan, dalam beberapa saat, INOVASI berstatus siaga satu.

Dampak lain dari penolakan Juknis adalah terpecahnya pendapat di tingkatan elit mahasiswa. Mereka nyaris tidak bisa membedakan teman dengan lawan. Kelompok pendukung rektorat dituding berhasil dibujuk dengan berbagai fasilitas dan kesempatan berkeliling Indonesia.

“Beberapa dari kami tetap berjuang, menjaga idealisme dengan bertarung melawan pimpinan Universitas, apapun resikonya. Namun, secara keseluruhan, aktivis mahasiswa menjadi lemah dan menjadi anak baik-baik[i],” tulis Nono Sumampouw, dalam Catatan Tentang Rumah Kami.

Bagi INOVASI, perselisihan dengan pimpinan Universitas berarti membuat penerbitan secara mandiri, tanpa berharap subsidi Universitas. Akibatnya, dalam sebuah terbitan, pengurus sempat mencantumkan Tuhan Yang Maha Esa, sebagai pelindungnya.

Dengan sistem underground, mereka banyak menyuarakan ide-ide kebebasan berekspresi. Di samping, menyerukan, tentu saja, “Pencabutan Juknis!”


DI PERPUSTAKAAN Depdikbud Sulawesi Utara, di kota Manado, beberapa mahasiswa tekun mengutak-atik buku teks. Mereka datang dari berbagai disiplin ilmu dan tidak saling kenal. Seringnya frekuensi bertemu, entah bagaimana ceritanya, mendorong mereka membentuk sebuah kelompok studi bernama Mesikolah, yang artinya kira-kira: Ayo Sekolah!

Mereka adalah Peter Tappi, Harry Marentek, Ronny Inkiriwang, Kardin Tiah, dan Selvy Sambuaga – sekumpulan mahasiswa dekade 1980an.

Dalam kurun 7 bulan, macam-macam mereka buat: komunikasi dengan Kelompok Netral Diskusi Muda (Kondida) di Jakarta, kontak dengan Bakom PKB[ii] pusat dan daerah, hingga menggarap the right man on the right place.

Setelah berpuas diri dengan aktifitas diskusi, mereka coba menggagas penerbitan kampus. Namanya, seperti yang sudah disepakati, adalah INOVASI.

27 Februari 1985, edisi perdana majalah INOVASI terbit. Tanggal itu sekaligus diperingati sebagai hari lahir organisasi ini. Drs. Ishak Pulukadang, Deputi Pembantu Rektor bidang Kemahasiswaan, kemudian menjadi pemimpin redaksinya.

Edisi awal majalah ini berisi informasi kegiatan yang sudah dan akan diselenggarakan Universitas. Ada berita soal kunjungan Meneteri ke kampus, kegiatan KKN serta seminar-seminar di berbagai fakultas. Di masa awal kemunculannya, penerbitan ini jadi semacam media humas Universitas.

Di masa itu, INOVASI juga berada di puncak kemapanan materiil. Subsidi terbitan turun tiap bulan dengan beragam cara: langsung dari Universitas, ataupun dari pemasangan iklan-iklan rokok di halaman belakang majalah.

Pada catatan redaksi edisi Maret 1985, mereka menuliskan rangkaian kalimat yang mirip manifesto. “Sebuah lakon kini telah dimulai, yang nanti akan menjadi sebuah sejarah. Sejarah pers mahasiswa Universitas Sam Ratulangi. Tak dapat dikatakan baru, memang. Tapi kini, tengah berlangsung sutradara dalam dunia pers mahasiswa Unsrat[iii].”

Harus disadari, seheroik apapun pernyataan sikap redaksi kala itu, INOVASI berada dalam asuhan Badan Koordinasi Kemahasiswaan-Unit Kegiatan Pers. Di masa pemerintahan Soeharto, seluruh organisasi kemahasiswaan harus berada langsung dalam ‘asuhan’ pimpinan Universitas.

Orde baru sudah kapok dengan keterlibatan politik mahasiswa. Demonstrasi menolak modal asing yang berbuntut Malapetaka Lima Belas Januari (Malari) cukup menampar wajah pemerintah Soeharto. Belum lagi, menjelang pemilu 1977, mahasiswa menggelar demonstrasi menolak pencalonan diri Soeharto sebagai presiden dan mendesaknya untuk mundur dari jabatan.

Setahun kemudian, pada 1978, membalas ‘kekurangan-ajaran’ mahasiswa, pemerintah memberlakukan Normalisasi Kehidupan Kampus/ Badan Koordinasi Kemahasiswaan (NKK/BKK). Lewat kebijakan tersebut, pemerintah nampak berhasil meredam keterlibatan politik mahasiswa. Kaum terpelajar, harus kembali ke dalam kampus dan mengurusi perkuliahannya.

Praktis, dalam kurun 1985 hingga akhir 1980an, INOVASI tidak bisa berbuat banyak selain mengikuti kebijakan tersebut. Akibatnya, pemberitaan yang disajikan cenderung datar dan miskin eksperimentasi, baik ide maupun gaya tulis.

Memasuki awal 1990an, INOVASI berbenah. Struktur organisasi dirombak. Box redaksi seluruhnya mulai diisi mahasiswa. Majalah ini, kemudian, mendeklarasikan dirinya sebagai pers mahasiswa.

Hal yang terlihat dari perubahan status tersebut adalah penyajian topik liputan. Isunya mulai beragam. “Masalah Lingkungan di Sulawesi Utara[iv]”, “Hari Ibu dalam Sisi Emansipasi[v]”, “SDSB tidak bersalah[vi]”, “Tata Niaga Cengkih dalam Gugatan[vii]” hingga “Teluk Manado Milik Siapa?[viii]

Paska reformasi hingga awal 2000an, analisis redaksi INOVASI semakin tajam dan kritis. Ada Rezim Datang, Rezim Pergi, yang bercerita pergantian kekuasaan dari Soeharto pada Habibie. Serta topik otonomi daerah.

Di dekade ini, INOVASI mulai mengalami pencabutan subsidi. Namun, memiliki lebih banyak kebebasan berekspresi. Penerbitan tidak melulu dalam format majalah. Ada juga edisi fotocopy sebagai penerbitan bawah tanah. Tujuannya, menyampaikan ide-ide untuk menggulingkan kekuasaan fasis Soeharto.

Tak begitu mengejutkan, jika menjelang kejatuhan Soeharto, sekretariat INOVASI juga menjadi tempat rapat untuk mempersiapkan demonstrasi besar-besaran di Sulawesi Utara.

Saya kira, jika di awal kelahirannya, INOVASI mencapai puncak kemapanan materiil, maka di awal 1990an hingga awal 2000an, penerbitan ini mencapai puncak intelektual.


SAYA tentu saja gembira dengan SK Rektor tadi. Ada dua hal yang saya bayangkan dari situ. Pertama, INOVASI tidak berada di bawah UKM Penalaran, dan tentunya menjadi cara kecil menolak Juknis. Kedua, kerja-kerja pengurus akan dimudahkan dengan subsidi Universitas.

Beberapa saat kemudian, saya menghubungi rekan-rekan lain untuk menyusun program kerja pengurus INOVASI. Dalam setahun, kami berharap bisa memproduksi setidaknya 2 atau 3 cetak terbitan, dalam bentuk apapun.

Selain itu, ada pengurus yang bertugas mendisain ulang logo, menginventarisir perbendaharaan, dan merancang anggaran organisasi untuk setahun kedepan.

Awalnya, segala sesuatu berjalan sebagai mana mestinya. Tapi kemudian, muncul persoalan utama: bagaimana manajemen keredaksian nantinya?

Memang, sebelum dan setelah memperoleh SK Rektor, beberapa senior dan alumnus sempat memberi pembekalan, serta berbagi pengalaman terkait manajemen keredaksian INOVASI. Namun, saya kira itu belum cukup.

Soalnya, keterampilan jurnalistik tidak mungkin bisa didapat hanya dengan mendengar kisah-kisah romantik para pendahulu. Karena, kemampuan mengemas sebuah laporan menjadi penting dan enak dibaca, butuh metode yang tepat dan eksperimentasi secara berulang-ulang. Macam aktifitas manusia zaman beruburu-meramu, keterampilan menulis harus melewati tahap trial and error.

Kami, pengurus saat itu, sadar, ada jenjang intelektual yang terputus.

Kebingungan kami, lalu membuahkan hasil: satu per satu pengurus mundur. Bukan hal mengejutkan. Dalam stagnasi, ada dua hal yang paling bisa dilakukan: memperbaiki atau mencari suasana baru. Banyak yang memilih opsi terakhir.

Otomatis, tersisa saya dan beberapa kawan dekat. Barangkali, selain berusaha memperbaiki suasana, alasan kami bertahan adalah enggan disebut pecundang.

Seingat saya, nyaris satu semester tidak ada perubahan – selain jumlah anggota yang tinggal beberapa orang saja. Di saat bersamaan, kendala penerbitan belum kunjung terpecahkan.

Demi mengisi waktu, aktifitas yang paling banyak dilakukan hanyalah ngopi dan main catur. Sementara, untuk menunjukkan eksistensi INOVASI, kegiatan yang dibuat adalah diskusi film dengan mengundang orgnaisasi intra maupun ekstra Universitas, serta melibatkan diri pada aksi-aksi demonstrasi baik di dalam maupun di luar kampus.

Saya sadar, hal-hal itu masih jauh dari harapan. Terlalu banyak omong, tidak lantas membuat saya pantas disebut aktivis pers mahasiswa. Karena, tanpa produk jurnalistik, orasi aktivis pers mahasiswa tidak lebih dari omong kosong.

Dalam segala hal yang saya perbuat, satu hal yang pasti: INOVASI belum kemana-mana.


MENJELANG semester kedua periode kepengurusan, Jhonny Sitorus datang ke sekretariat. Ia, yang lebih dikenal dengan panggilan Jontor, adalah seorang alumnus INOVASI. Lulus kuliah, ia ke Jakarta dan sempat menjadi jurnalis majalah Tempo, serta radio Trijaya.

Ketika bertemu, Jontor menanyakan kegiatan dan program-program pengurus. Dengan sangat malu, saya cerita kendala yang sedang kami hadapi. Tak ada jawaban yang diberikannya saat itu. Seperti banyak senior yang sempat saya temui, ia memberi motivasi lewat pengalamanya sebagai pengurus di penerbitan pers mahasiswa.

Nada bicaranya tenang, namun sesekali menekan. Di INOVASI, sekitar tahun 1998-1999, ia menjabat sebagai Pemimpin Perusahaan. Pada kurun 2000-2001, sebagai upaya menyelamatkan organisasi, Jontor sempat mengambil alih posisi Pemimpin Umum, untuk membuat sebuah terbitan.

Beberapa minggu setelah pertemuan itu, Jontor meminta saya untuk segera menghubungi pengurus yang tersisa. “Mau ada pelatihan,” jawabnya singkat.

Sore hari, kami sudah berkumpul di sekretariat. Ada sekitar 10 orang di sana. Kalau saya tidak salah ingat, ada Apriana Sinaga, Adventus Hamonangan dan Icha Weydekamp – yang kelak akan menjadi pengurus INOVASI. Saya berhasil membujuk mereka untuk sekedar merasakan penderitaan, yang belum dibayangkan sebelumnya.

Di lain pihak, Jontor sudah membawa seperangkat LCD. Pengurus hanya perlu duduk dan mendengarkan apa yang akan disampaikan.

“INOVASI mungkin bisa coba mulai dengan media online. Pake blog gratisan aja dulu,” kata dia membuka percakapan. “Kedepan, banyak media akan banyak menggunakan web sebagai produk jurnalistiknya.”

Sesaat kemudian, lampu dimatikan. Jontor memulai pelatihan. Kepada kami, ia mengajarkan bagaimana mengelola blog dan mengemas tulisan yang sesuai dengan pemberitaan online. Saya serius mendengarkan. Saya kira, ini bisa jadi pilihan alternatif yang sangat mungkin digunakan.

Sambil terus bicara, tangannya menggerak-gerakan mouse dan mengetik keyboard laptop. Ia menuju sebuah web penyedia situs gratisan: wordpress. Ia mendaftarkan INOVASI sebagai pengguna situs tersebut. Sore itu, inovasionline.wordpress.com dibuat.

Jontor kemudian menunjukkan teknik mengunggah tulisan di sana. Satu tulisan dibuatnya, yang kemudian menjadi artikel perdana. Judulnya, “Launching Perdana INOVASI Online”.

Sejak pelatihan yang diselenggarakan Jontor, INOVASI mulai menggunakan media online sebagai media pemberitaan. Sampai sekarang, selain penerbitan cetak, media online tetap digunakan – meski dengan berbagai modifikasi di dalamnya.

Entah kapan tepatnya kegiatan itu, mungkin akhir 2010 atau awal 2011. Yang saya ingat, INOVASI bisa punya media online, karena pelatihan yang dibikin Jontor.


FEBRUARI 2016, INOVASI berumur 31 tahun – lebih tua dari usia kebanyakan pengurusnya. Enam tahun semenjak kembali mendapat legitimasi Universitas, nyaris tidak ada progress menarik. Sejumlah periode kepengurusan memang sempat menerbitkan beragam produk jurnalistik, semisal, buletin, tabloid, majalah maupun pemberitaan dalam format online.

Tapi, sekali lagi, itu hanya sebagai wujud mempertahankan eksistensi. Lihat saja, topik penyajian analisis yang kembali didominasi isu pendidikan, mulai dari Excellent University, Sekolah untuk Anak Jalanan, Soal Mahasiswa Baru hingga tentang Jurnal Ilmiah di Kampus.

Zaman terus bergerak maju, tapi INOVASI kembali ke dalam kampus.

Mirip dengan periode kepengurusan saya, pengurus-pengurus periode berikutnya, barangkali juga tidak bersedia disebut pecundang.

Dibanding generasi sebelumnya, secara intelektualitas dan kreatifitas, INOVASI era 2010 hingga 2016 berada pada titik memprihatinkan. Saya kira, manajemen organisasi dan redaksi masih menjadi masalah utama yang tak kunjung bisa diselesaikan.

Padahal, jika dilihat lebih teliti, beberapa pengurus dan mantan pengurus, sebenarnya punya kemampuan menulis yang tak bisa dibilang ‘kacangan’. Ada yang punya prestasi menulis, baik di tingkat lokal maupun nasional.

Namun, bicara INOVASI, tentu saja bicara peningkatan keterampilan menulis secara kolektif. Itu dari sisi internal. Sementara, fungsi eksternalnya, penerbitan mahasiswa semestinya bisa menjadi bacaan alternatif bagi masyarakat kampus maupun masyarakat umum.

Saya kira, pengurus INOVASI perlu menghancurkan mental-mental ketidakberdayaan yang mereka bangun sendiri. Upaya memperkuat manajemen redaksi harus segera dan mendesak dilakukan. Metode penentuan topik-topik yang dianggap penting harus diperbaiki. Referensi dan pengenalan kasus, wajib dipahami oleh tim redaksi. Praktik-praktik liputan mesti jadi sebuah kebutuhan mengembangkan diri.

Setidaknya, bisa disepakati, informasi dari pers mahasiswa masih sangat diperlukan. Mereka bisa jadi antitesis pemberitaan industri media yang mulai dikuasai konglomerat sekaligus pimpinan partai. Kehadiran pers mahasiswa, setidaknya, bisa membongkar konspirasi media dengan parpol. Pers mahasiswa juga bisa menuding, mana jurnalis, mana jurkam.

Jika kedepan pengurus bisa menambal lubang kesalahan, maka fungsi pers mahasiswa itu cepat atau lambat bisa diperankan. Tentu saja, hal itu jika pengurus INOVASI bisa membalik arus stagnasi, dalam beberapa tahun belakangan ini.

Ah, saya masih tetap banyak omong!



[i] https://inovasionline.wordpress.com/opini/catatan-tentang-rumah-kami/
[ii] Sebuah lembaga semi pemerintah
[iii] Majalah INOVASI No 2, Tahun I, Maret 1985
[iv] INOVASI No. 53 Juli-Agustus 1990
[v] INOVASI No. 57 Desember 1990
[vi] INOVASI No. 61 November Tahun 1991
[vii] INOVASI No. 79 Tahun X, 1995
[viii] INOVASI No. 82 Tahun XII, 1997-1998

You Might Also Like

2 comments

  1. judul liputan kami jg kena semprot. hahahaha makasih Kak them... tulisan.a membuat ingat mantan #eeeh masa lalu maksud.a, hehehe

    ReplyDelete
  2. Mungkin terlalu mewah masalah INOVASI jika disandingkan dengan Persmanya kita di UNG bang. Semoga kawan2 Inovasi bisa terus maju dengan semangatnya!

    ReplyDelete

Tentang Saya

My photo

Dengan bakat masak telur, mie instant dan air panas, saya bercita-cita jadi master chef.

"Tembok!"

Informasi diperoleh secara cuma-cuma. Ia ada disekitar kita. Tiap orang berhak mengaksesnya untuk mengembangkan diri atau menghindari pembodohan. Karenanya, privatisasi informasi merupakan sebuah bentuk penyelewengan intelektual.

Coretan di Tembok!