Agama di Kolom Komentar Facebook

6:12:00 AM




Di era Orde Baru, kerangka pikir masyarakat Indonesia dibentuk sesuai keinginan penguasa. Di masa itu, pemerintah Orba membungkam mulut-mulut yang berbeda pendapat. Informasi yang diperbolehkan hanyalah yang sejalan dengan keinginan penguasa. Tindakan itu, sesungguhnya menunjukkan sisi paranoid penguasa. Mereka takut, kritik warga bisa mengganggu langgengnya kekuasaan mereka. Jalan satu-satunya adalah membungkam atau malah memberangus kelompok yang tak sepikir. Dengan monopoli informasi, pemerintah saat itu berusaha mengamankan kekuasaannya. Tapi, pemerintah Orba lupa, mereka tak selamanya bisa membohongi semua orang. Ada waktunya monopoli informasi akan dipatahkan. Benar kata Wiji Thukul, "Mulut bisa dibungkam. Tapi, siapa bisa menahan pertanyaan dari lidah jiwaku?"

Pada suatu ketika pemerintahan Orba ambruk. Informasi tak lagi didominasi satu pihak. Indonesia memasuki babak baru. Beraneka macam informasi beredar lewat jejaring sosial, (kadang-kadang) tanpa sensor maupun bredel. Publik dengan cepat bisa membuat maupun mengakses informasi. Kondisi ini bukan tanpa soal. Keberagaman dan kecepatan informasi, banyak kali melahirkan kegaduhan. Pengguna jejaring sosial sering diperhadapkan dengan kabar yang bertolak belakang. Tanpa kehati-hatian, konsumsi informasi  bisa berdampak pada sesat pikir.

Kita bisa temukan kegaduhan tadi, salah satunya, dengan melihat kolom komentar di tautan berita yang mengangkat topik soal konflik bernuansa agama. Sentimen kelompok bertebaran di sana-sini. Tanpa mencari tahu informasi secara utuh dan melakukan analisis kasus, para komentator bisa cepat-cepat membangun tuduhan. Lebih banal lagi, banyak dari komentator itu sebenarnya tidak berada di lokasi kejadian, namun sangat bersemangat membenarkan tindakan satu pihak dan menyalahkan pihak lainnya. Banyak juga di antara para komentator yang tampil sebagai orang yang mengenal agama dengan baik, kadang-kadang justru mengeluarkan argumentasi terburu-buru. Mereka cenderung mengajukan opini yang mengarah pada fanatisme buta. Apapun persoalan yang terjadi pada individu berbeda agama, ujung-ujungnya dihubungkan dengan masalah seluruh umat.

Maksud saya begini Nyong dan Noni. Dalam banyak konflik berlatar agama, permasalahan yang mengawalinya dipicu berbagai faktor. Agama bukanlah satu-satunya faktor, atau malah sama sekali tidak menjadi alasannya. Menurut publikasi Center for Religious and Cross-Cultural Studies (CRCS), dalam beberapa kasus konflik berlatar agama, didapati bertemunya kepentingan-kepentingan politik lokal dengan (manipulasi) simbol keagamaan. Menurut mereka, konflik agama mungkin memiliki unsur identitas agama, tapi jarang menjadi penyebab utama. "Menyebut konflik agama diakibatkan intoleransi adalah penjelasan yang terlalu mudah --- sama halnya dengan konflik-konflik agama di banyak tempat lain," demikian dituliskan dalam laporan berjudul "Politik Lokal dan Konflik Keagamaan".

Sementara, dalam buku "Kekerasan Komunal: Anatomi Resolusi Konflik di Indonesia", para penulisnya sepakat bahwa konflik berlatar agama di beberapa tempat di Indonesia, dipicu oleh faktor-faktor semisal: lemahnya kontrol negara, ketidakadilan, kesenjangan ekonomi dan rusaknya jaringan sosial budaya lokal-tradisional di masa Orde Baru. Pandangan lain mengatakan, konflik ini sengaja dirancang, dengan dugaan, rezim lama ingin menciptakan image, jika mereka diturunkan maka Indonesia akan kacau.

Karena beragam faktor yang mendasarinya, tak tepat pula menuding agama sebagai pemicu utama pertikaian antar kelompok. Sebab, secara historis, sebelum terbentuknya agama sebagai lembaga dan penanda identitas, konflik antara individu maupun kelompok sudah terjadi. Ralf Dahrendorf, misalnya menyatakan, konflik merupakan fenomena yang selalu hadir (inherent omni-presence) dalam setiap masyarakat manusia. Perbedaan pandangan dan kepentingan yang mendorong lahirnya konflik adalah sesuatu yang alamiah dan tak terhindarkan.


Sampai di sini, kita bisa ketahui, agama bukan merupakan sebab utama lahirnya konflik antar kelompok. Ada kepentingan-kepentingan lain di balik konflik yang mengusung agama sebagai identitas penanda. Hanya saja, kita tidak bisa memakan mentah-mentah pendapat Dahrendorf soal konflik sebagai sesuatu yang alamiah. Sebab, hari ini, kealamiahan konflik telah diambil alih oleh faktor-faktor politis yang menimbulkan lahirnya pertikaian antar kelompok. Tak ada yang alamiah dari konflik hari ini. Dan, karenanya, ia bisa dihindari.

Kembali pada komentator-komentator di facebook. Ujaran kebencian pada kelompok agama tertentu, setelah konflik, menunjukkan ketiadaan minat untuk memperbaiki pengetahuan. Barangkali, karena malas berpikir rasional, satu-satunya yang bisa dibuat adalah banyak bicara. Sialnya, pernyataan-pernyataan yang dikeluarkan tidak memperbaiki keadaan --- kalau bukan memperburuk. Meski menjadi pihak yang begitu bersemangat mengipas bara kebencian, komentator-komentator itu bukanlah pihak yang secara langsung merasakan dampak konflik. Persis komentator sepakbola: banyak bicara, tapi tidak berkeringat di lapangan.

Lalu, bagaimana cara mengatasi komentar-komentar kebencian pada agama tertentu di media sosial? Saya pikir, perkembangan teknologi harus diikuti oleh perkembangan cara berpikir manusia. Perkembangan itu tentu bukan dengan mengharapkan kembali dibentuknya Departemen Penerangan. Lembaga ini tidak akan memperbaiki keadaan. Mengusulkan kembalinya mesin pembungkam kebebasan berpikir dan berpendapat adalah sebuah kemunduran ide.

Saya tidak bermaksud menghalangi upaya-upaya bersolidaritas pada sesama manusia. Nyong dan Noni selalu punya hak untuk itu. Namun, saya rasa, solidaritas itu seharusnya dibangun bukan dengan cara menebar kebencian pada seluruh pemeluk agama tertentu. Solidaritas atas nama kemanusiaan, seharusnya tidak dilakukan dengan menumpas kemanusiaan itu sendiri. Penting juga bagi publik mengetahui perbedaan antara kebebasan berpendapat dengan ujaran kebencian. Analisis konflik jelas tak sama dengan menghasut kelompok tertentu untuk melakukan tindak kekerasan terhadap benda maupun manusia. Kritik tak sama dengan caci-maki. Komparasi ini penting untuk menjauhkan kita dari sesat pikir.

Di era komunikasi digital ini, publik memang dituntut untuk mencari tahu kebenaran informasi dan mengembangkan pengetahuan. Jangan hanya baca status facebook Jonru. Namun, di saat bersamaan, kita juga perlu membuang informasi-informasi sarat kebencian untuk menjaga kesehatan berpikir. Kalau dua hal ini sulit dilakukan, mungkin komentator-komentator itu lebih nyaman menyaksikan pertikaian ketimbang perdamaian antar umat manusia. Atau barangkali, mereka memang sekelompok orang paling rajin beribadah, tapi malas mengasah otak. Apapun agama mereka.

You Might Also Like

1 comments

Tentang Saya

My photo

Dengan bakat masak telur, mie instant dan air panas, saya bercita-cita jadi master chef.

"Tembok!"

Informasi diperoleh secara cuma-cuma. Ia ada disekitar kita. Tiap orang berhak mengaksesnya untuk mengembangkan diri atau menghindari pembodohan. Karenanya, privatisasi informasi merupakan sebuah bentuk penyelewengan intelektual.

Coretan di Tembok!