5 Kegagalan Hoax Naiknya Harga Rokok

1:06:00 PM


Belakangan, para perokok di Indonesia mendapat teror. Bertubi-tubi, informasi tentang naiknya harga rokok tersebar di media massa maupun media sosial. Belum sempat bibir ini menghembuskan asap, kabar tak mengenakan selanjutnya kembali muncul: daftar harga rokok yang baru telah beredar.
Tentu saja, informasi tersebut perlu diragukan. Lewat artikel ini, saya berusaha membedahnya. Hanya saja, saya tidak akan menyinggung persaingan bisnis antara industri farmasi melawan industri rokok. Tidak juga membahas potensi impoten dan membandingkannya dengan perokok yang hobi bikin anak. Bukan pula membandingkan ancaman kematian dengan perokok yang berumur panjang.
Dalam artikel ini, saya hanya akan menunjukkan betapa tidak konsistennya kabar yang beredar tentang naiknya harga rokok. Pihak yang menyebar hoax, entah sadar atau dalam keadaan mabuk, dan apapun motifnya, tidak mempertimbangkan sejumlah faktor ketika mendesain wacana.
Sebagai seorang perokok, saya sadar perlunya menghormati orang lain yang tidak merokok. Selain itu, beberapa kampanye terkait kesehatan perlu mendapat dukungan. Namun, yang saya sesalkan, hal-hal yang bersifat persuasif tidak ditemukan dalam semarak hoax naiknya harga rokok.
Bagi saya, membujuk orang untuk berhenti merokok tidak sama dengan menakut-nakuti mereka. Apalagi dengan kabar yang dipenuhi kebohongan.
Gagal Menafsir Berita
Dari beberapa artikel yang saya baca, besar kemungkinan hoax kenaikan harga rokok itu disebabkan oleh kegagalan menafsir isi berita di Kompas.com yang judulnya “Bagaimana jika Harga Sebungkus Rokok Lebih dari Rp.50.000?
Dalam berita tersebut, Hasbullah Thabrany, Kepala Pusat Kajian Ekonomi dan Kesehatan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, menyatakan, sejumlah perokok akan berhenti merokok jika harganya dinaikan dua kali lipat.
“Sebanyak 72 persen bilang akan berhenti merokok kalau harga rokok di atas Rp.50.000,” ungkap Hasbullah pada kompas.com dalam acara 3rd Indonesian Health Economics Association (InaHEA) Congress di Yogyakarta.
Di berita itu, tak ada satupun kalimat yang menyatakan harga rokok akan naik. Rekomendasi riset Hasbullah dkk, dimodifiasi oleh artikel-artikel hoax yang kemudian disebar dan menjadi trending topic di jejaring sosial. Rekomendasi riset yang mendukung naiknya harga rokok, dianggap merupakan pernyataan bahwa harga rokok memang telah naik.
Logikanya macam begini, jika saya berharap bisa segera menikah, maka harapan tersebut adalah pernikahan itu sendiri.
Sesat!
Gagal Memahami Tulisan Sendiri
Bagian ini masih berhubungan dengan hasil riset yang dipublikasi kompas.com. Ketika membaca artikel hoax lainnya dengan judul “Harga Rokok Naik Menjadi Rp.50 Ribu Per Bungkus!”, alih-alih merasa terteror saya justru menggelinjang karena geli. Kenapa?
Sebab, meski di judul tersebut penulisnya menyatakan harga rokok telah naik, namun tidak demikian dalam keseluruhan artikel!
Dalam artikel tersebut, penulisnya meminjam mulut anggota DPR RI, mengutip hasil riset Hasbullah dkk, hingga nasib buruh pabrik rokok dan petani tembakau jika harga dinaikkan. Tapi, ya gitu, deh. Tak ada satupun pihak yang menyatakan harga rokok sudah naik.
Jadinya, judul nggak nyambung dengan isinya. Lebih ngehe lagi, di penghujung tulisan ia menutup dengan kalimat, “… Maka, bola liar sekarang ada pada presiden Jokowi. Apakah wacana tersebut akan disetujui? Kita tunggu perkembangannya.”
Logika macam apa ini, setelah lempar hoax, ngajak presiden main bola liar! Lah, terus rokok yang naik jadi Rp.50ribu itu di mana? Zimbabwe, kah?
Ah, Om, waktu nulis panjang-lebar itu sadar atau lagi mabuk lem sih!
Gagal Verifikasi
Jadi, penyebar hoax kenaikan harga rokok, bukan cuma dilakukan oleh individu per individu. Tapi ada juga lembaga berita. Saya tak akan menyebut nama medianya. Anda bisa mengetahui sendiri jika menelusuri berita berjudul “Harga Rokok Naik Bulan Depan, Berikut Daftar Harganya”.
Penulis berita ini sudah benar-benar kebangetan liar imajinasinya. Meski pemerintah dan pengusaha telah membantah wacana kenaikan harga rokok, si penulis malah menebar data yang tak diverifikasi terlebih dahulu. Bukannya meluruskan kesalahan, ia malah mengeluarkan daftar harga rokok yang baru.
Dji Sam Soe Rp.72.500 per bungkus, Sampoerna A Mild Rp.72.500, Djarum Super Rp.67.500, Surya Rp.75.000, U Mild Rp.71.500, Marlboro Rp.71.500, dan lain sebagainya.
Data yang disebar hanyalah fantasi penulis berita belaka. Ilusi. Kalau meminjam istilah Ebiet G Ade, “Bercinta dengan bayang-bayang”. Istilah populernya: onani. Alias masturbasi.
Walau pemerintah dan pengusaha belum menyusun harga rokok, ia telah yakin hitung-hitungannya masuk akal. Barangkali harga rokok memang akan naik segitu. Tapi belum bulan depan. Mungkin, nanti. Ketika tim nasional sepak bola Indonesia sudah bisa ikut Piala Dunia.
Gagal Berbohong
Kita kemudian tahu, bahwa kabar tentang naiknya harga rokok hanya sekadar wacana. Tak akan terjadi pada bulan depan. Tapi, tetap saja ada kelompok yang anti rokok belum patah semangat menyebar kebohongannya.
Seorang penyebar hoax, contohnya, di kolom komentar Facebook-nya, sempat menuliskan bahwa Rp.50.000 adalah harga minimum yang berlaku di bandara. Sejurus kemudian, dengan yakin, ia menambahkan, “Pasti jadi, kalau presiden setuju”.
Huh, sudah bohong dan dibohongi, yakin pula!
Sudahlah, kalian sudah gagal. Bikin sesuatu yang lain aja deh. Karena nggak ngerokok, kalian pasti lebih pinter atur duit. Mending serius nabung aja buat nikah atau beli pesawat!
Gagal Mewujudkan Harapan
Terlepas dari berbagai kegagalan tadi, ada satu kegagalan yang rasanya menyakitkan: gagal menaikkan harga rokok. Kegagalan itu tak kalah sakitnya dengan perasaan Lionel Messi yang gagal membawa Argentina juara Copa America.
Dan sebagaimana halnya sikap ksatria Messi, saya berharap, wahai orang-orang yang memungut rupiah dari menyebar kebohongan dan hoax, cepat-cepatlah pensiun dari kebiasaan kalian. Bukan apa-apa, bahkan membuat kebohongan saja kalian begitu bebal.

artikel ini sebelumnya dimuat di Mojok

You Might Also Like

0 comments

Tentang Saya

My photo

Dengan bakat masak telur, mie instant dan air panas, saya bercita-cita jadi master chef.

"Tembok!"

Informasi diperoleh secara cuma-cuma. Ia ada disekitar kita. Tiap orang berhak mengaksesnya untuk mengembangkan diri atau menghindari pembodohan. Karenanya, privatisasi informasi merupakan sebuah bentuk penyelewengan intelektual.

Coretan di Tembok!