Obituari tentang Papa

1:38:00 AM



Pergi tanpa pamit, di 5 Januari 2017.

Saya baru melepas kepergian Papa --- orang yang paling berpengaruh dalam hidup saya. Perpisahan tanpa pamit ini, begitu buruk dan membuat saya sangat terpukul. Di mata saya, ia jadi citra ideal kepala keluarga. Papa tak pernah menyerah bahkan dalam situasi yang paling sulit. Wataknya keras, tapi bertanggung-jawab.

Ketika tenaganya masih kuat, dia sering meneriaki anak-anaknya atau keponakannya yang kedapatan mabuk. Tetapi, dia juga tak sungkan menggendong seorang yang menderita sakit akibat konsumsi obat berlebih. Bagi Papa, tanggung-jawab haruslah merupakan tindakan kemanusiaan. Seseorang boleh marah dan naik darah, tapi tak boleh pongah.

Ketika krisis moneter menimpa Indonesia, ia ikut terkena dampak PHK. Perusahaan tempatnya bekerja, gulung tikar. Sementara, semua anak masih sekolah. Tapi, depresi ekonomi itu, tak serta-merta membuatnya patah. Beberapa cara dilakukannya untuk membiayai kebutuhan sekolah. Ia pernah mondar-mandir Jakarta-Surabaya untuk mengurus surat-surat mobil yang dibutuhkan klien. Ia juga ikut membantu Mama membuat bakpao untuk dijual ke warung-warung terdekat.

"Papa tidak punya warisan buat kamu. Papa cuma bisa berusaha kasih sekolah sebaik-baiknya," kata dia ketika saya hendak masuk jenjang pendidikan tinggi, 2007 silam.

Saya ingat betul, di bandara Juanda kala itu, matanya nampak berkaca-kaca melepas kepergian saya. Dia tahu, anak bungsunya begitu jauh dari konsep maupun praktik-praktik kemandirian. Bagi orang yang terbiasa melindungi saya, perpisahaan waktu itu adalah keputusan yang cukup berat.

Dalam kurun 2 tahun belakangan, terjadi perdebatan repetitif di antara kami. Kalau bukan menyoal kerja, pernikahan, ya, urusan spiritual. Tiga poin tadi nyaris selalu dia sampaikan ketika menghubungi saya lewat telepon ataupun ketika bertemu langsung di Manado.

Poin pertama agaknya bisa diterima. Tiap bertemu, dia seakan cemas melihat tampilan fisik saya. Badan kurus dan rambut gondrong membuat saya terlihat mirip orang-orangan sawah. Padahal, saya sering bilang pada Papa, bahwa saya bisa mengurus diri sendiri: makan cukup, minum cukup. Meski demikian, ia tak pernah bosan-bosan mendesak saya untuk bekerja di Jakarta, Surabaya atau tinggal bersamanya.

Alasan kedua, soal pernikahan, membuat saya agak bingung. Bukan apa-apa, 40 tahun lalu ketika dia menikahi Mama, usianya sudah 35 tahun. Itu berarti, setidaknya, ia baru bisa protes sekitar 7 sampai 8 tahun lagi. Maka, tuntutan ini, paling sering saya abaikan atau sekedar menjawab sekenanya. "Belum mikir sampai situ. Papa aja nikah udah tua," jawab saya yang membuatnya tertawa lepas.

Alasan ketiga, soal ibadah, lebih dikarenakan disiplin spiritualnya. Sejak SD, saya sering mendapati Papa dan Mama bangun pagi-pagi sekali untuk berdoa dan bernyanyi. Aktifitas itu terus berlanjut hingga menjelang akhir hidupnya. Dia selalu mendoakan anak-anaknya agar mendapat perlindungan dan diberkati Tuhan.

Suatu kali, Papa sempat cemas dengan aktifitas kerohanian saya. Dia lalu melempar sebuah pertanyaan yang kemudian jadi diskusi serius.

"Kau masih masuk gereja atau ndak?"

"Males."

"Lho, kenapa? Kau ini masih percaya Tuhan atau tidak?"

"Masih percaya Tuhan, Pa. Tapi, pejabat-pejabat gereja terlalu sibuk urus uang dan politik."

"Kau jangan ikut yang salah."

"Nah, kalau gitu buat apa aku dengar mereka?"

"Umat Kristen dituntut untuk bersekutu!"

Di kemudian hari, saya tak lagi memperpanjang diskusi dengan topik serupa. Memberi jawaban yang menyenangkan tentu akan menenangkannya.

"Kau ada masuk gereja tadi?"

"Ada, Pa."

"Gereja di mana?"

"Kampus."

Tapi belakangan, kritik yang sering saya sampaikan padanya, mendapat tempat belum lama ini. Komisi Urusan Kematian (KUK) gereja, enggan memfasilitasi pemakamannya karena masalah tunggakan iuran. Konsekuensi dari itu, ambulance dan salib untuk kubur harus dipesan sendiri oleh keluarga.

Padahal, tindakan itu justru semakin menjauhkan gereja dari ajaran Yesus. Khususnya perintah agar umat-Nya mau mengasihi sesama manusia seperti mengasihi diri sendiri. Saya jadi kasihan pada pengurus gereja model begini. Sebab, mengabaikan pelayanan karena permasalahan iuran, membuat KUK gereja tak berbeda dengan BPJS. Anda bisa mendapat pelayanan hanya jika telah melunasi iuran.

Bagi saya, sistem administrasi yang dibuat pengurus gereja, harusnya bertujuan untuk memudahkan pelayanan. Bukan sebaliknya: pelayanan gereja ditentukan oleh syarat-syarat administratif. Titik fokus pada pelayanan kemanusiaan, harusnya bisa menjadi pembeda gereja dari organisasi lainnya. Tapi, saya harus bisa menerima kenyataan. Pengurus KUK, sudah menunjukkan sikapnya. Ada uang, Anda di sayang. Tak ada uang, Anda ditendang. Jika Yesus mengajarkan kasih pada sesama manusia, maka Anda bisa lihat kepada siapa kasih pengurus KUK diarahkan.

Saya ingin sekali mendiskusikan permasalahan ini dengan Papa. Saya ingin tahu, pandangannya tentang sistem yang bobrok macam begitu. Tapi tak ada jawaban yang bisa saya dengar. Papa sudah tak ada. Beberapa hari lalu Dokter menyatakan dia telah meninggal dunia. Meninggalkan orang-orang yang mencintainya. Selama-lamanya.

Saya belum lupa keinginan yang disampaikannya di telepon, semalam sebelum meninggal. Waktu itu, Papa terdengar begitu emosional. Ia tidak ingin saya jauh-jauh darinya. Barangkali, Papa masih memandang saya sebagai bungsu yang tak punya kemampuan selain main playstation.

"Besok kau tinggal sama Papa dan Mama aja."

"Nggak mau, Pa. Aku tinggal di kos aja."

"Di sini aja, supaya makanmu bisa diatur."

"Nggak ah, Pa, di sana kemana-mana jauh."

"Lho, kan banyak angkot di sini. Apanya yang jauh?"

"Memang ada angkot, tapi kemana-mana tetap jauh."

"Tinggal sini saja. Kau tidak sayang Papa, ya?"

"Sayang, Pa. Besok aku kesana, deh."

"Betul, ya. Besok Papa tunggu kau."

"Iya, besok aku kesana."

Keesokan harinya, saya menemuinya di rumah sakit. Terbujur dengan infus dan alat bantu oksigen. Papa sudah tak sadar. Saya beberapa kali membisikkan kata di telinganya: "Pa, ini Themmy, Pa."

Dia merespon dengan suara, tapi tak bicara. Saya harap, dia segera meraih kembali kesadarannya. Sayang, tak ada yang berubah. Berjam-jam kemudian, organ tubuhnya menyerah. Jantungnya melemah. Otaknya tak lagi bekerja. Papa meninggal. Saya menangis, Mama apalagi. Sore itu, saya berbisik sesenggukan, "Maaf, Pa. Aku sayang, Papa."

Papa sudah tak ada. Ia meninggalkan begitu banyak kebaikan. Bagi saya, kepergiannya menjadi kehilangan terbesar sepanjang umur saya. Hingga hari kematiannya, satu hal yang bisa saya simpulkan: Papa terus berusaha menjadi pelindung saya.

Tugas itu sudah selesai. Saya akan terus merindukannya, membanggakannya dan menceritakan kebaikan-kebaikannya.

Selamat jalan, Papa!

***
Dalam kurun beberapa waktu, saya kira saya hanya bermimpi. Ternyata tidak. Kepergian Papa nyaris membuat saya jatuh. Tapi, teman-teman saya menjadi penopang yang hebat. Kepada mereka, saya ucapkan banyak terima kasih. Saya tak pernah bisa membalas kebaikan itu.


**
gambar diunduh dari: rexsl

You Might Also Like

0 comments

Tentang Saya

My photo

Dengan bakat masak telur, mie instant dan air panas, saya bercita-cita jadi master chef.

"Tembok!"

Informasi diperoleh secara cuma-cuma. Ia ada disekitar kita. Tiap orang berhak mengaksesnya untuk mengembangkan diri atau menghindari pembodohan. Karenanya, privatisasi informasi merupakan sebuah bentuk penyelewengan intelektual.

Coretan di Tembok!