Surat Solidaritas Buat Afi Nihaya Faradisa

3:30:00 AM



Afi Nihaya Faradisa yang baik,

Apa kabar?

Saya berharap, Afi selalu dalam keadaan sehat. Iya dalam situasi dunia yang penuh kebencian, orang-orang seperti Anda perlu menjaga kesehatan. Kenapa? Ya, supaya bisa terus memberi contoh buat banyak orang. Bahwa, di tengah kegaduhan media sosial yang menjengkelkan ini, berpikiran waras bukanlah sesuatu yang mustahil. Anda sudah membuktikan itu.


Oh ya, Facebooknya sudah aktif lagi ya? Puji Tuhan. Saya enggak habis pikir. Kok, bisa-bisanya akun Anda disuspend. Otoritas facebook itu, kadang-kadang, memang macam robot. Hanya berbekal laporan dari beberapa batang akun siluman, mereka bisa main blokir. Enggak pake pikir-pikir. Keterlaluan!

Beruntung, orang-orang yang sayang Afi bikin protes massal. Bahkan, seorang teman, di akun Facebooknya, sampe maki-maki Mark Zuckerberg lho. Dari dia, saya jadi tahu Afi. Iya, sebelum akun Afi diblokir, saya jarang baca status-status soal agama. Bikin sesak dada. Tapi solidaritas buat Afi mengubah segalanya. Saya jadi penasaran, “Kenapa banyak orang bela-belain (akun facebook) anak SMA?”

Kemudian saya tahu, orang-orang itu ternyata bersolidaritas pada akal sehat. Mereka enggak rela menyaksikan kebencian diparadekan secara bebas. Tapi, di sisi lain, ide-ide tentang cinta, kasih dan perdamaian dikubur hidup-hidup. Maka, membela Afi adalah sebuah cara menegakkan kewarasan.

Padahal, saya rasa, status facebook Afi berjudul “Warisan” bukanlah bahasan baru. Ia sudah banyak dibicarakan bahkan sejak zaman rica bulum pidis (lombok belum pedes). Tulisan itu jadi terasa menggigit, karena perdebatan yang repetitif. Seakan-akan membicarakan agama tidak bisa dilakukan tanpa mengumbar kebencian.

Banyak orang, tanpa melakukan analisis, menghubungkan semua-muanya dengan agama. Akibatnya, kesalahan satu orang jadi tanggungan seluruh umat. Walau, kita tahu, tak ada satu agama pun yang menang dalam perdebatan ini. Segarang-garangnya berdebat, yang menang tetap kelompok-kelompok politik tertentu.

Kok bisa? Beberapa riset menyebut, dalam banyak konflik berlatar agama, permasalahan yang mengawalinya dipicu berbagai faktor. Agama bukanlah satu-satunya, atau malah sama sekali tidak menjadi alasan. Seperti dijelaskan dalam publikasi Center for Religious and Cross-Cultural Studies (CRCS), yang berjudul “Politik Lokal dan Konflik Keagamaan”.

Menurut publikasi itu, dalam beberapa kasus konflik berlatar agama, didapati bertemunya kepentingan-kepentingan politik lokal dengan (manipulasi) simbol keagamaan. Menurut mereka, konflik agama mungkin memiliki unsur identitas agama, tapi jarang menjadi penyebab utama.

Sayangnya, situasi menjengkelkan itu sengaja dipertahankan. Karena, dengan isu-isu agama, presepsi publik relatif mudah dibangun. Ya, seperti Afi tulis, sebabnya karena logika warisan. Padahal, jika dibanding tanah atau benda, agama warisan tidak dibatasi luas wilayah, juga bukan sesuatu yang bisa dilihat dan dipegang. Ia hanya bisa dinilai dari tafsir masing-masing orang, yang tak pernah seragam dan selalu dinamis.

Karena kondisi immaterial dan kemalasan menganalisis masalah, sebagian orang jadi khwatir. Mereka takut warisannya direbut. Lalu ribut. Karena agama warisan itu, jangankan dengan orang lain, di lingkaran keluarga saja, kakak-beradik bisa berseteru. Kalau saja mereka tahu, enggak ada warisan siapapun yang direbut. Agama dan keyakinannya akan tetap jadi milik masing-masing orang.

Sebenarnya, lewat tulisan Afi, banyak orang punya kesempatan memahami itu. Karena, menurut saya, Afi tidak sedang membahas agama siapa yang paling benar. Tapi, soal bagaimana berpikir rasional. Bukan begitu?

Jika saja orang tidak cepat-cepat nyinyir, mereka akan tahu bahwa agama bukan sekedar perkara tumpas-menumpas perbedaan. Bukan sekedar rebutan atau banyak-banyakan umat. Seperti yang Afi bayangkan, “Masing-masing umat tak henti saling beradu superioritas seperti itu, padahal tak akan ada titik temu.”

Saya jadi inget lagu Imagine-nya John Lennon. Di situ, kata dia, membayangkan dunia yang damai tanpa batas-batas negara atau agama, bukanlah tindakan susah dan bisa dibikin tiap orang.

Tapi, karena lagu itu, beberapa orang menganggap John Lennon Antikris. Saya malah pernah diceritain bahwa lagu Imagine jadi semacam hymne di gereja setan. Jadi, bukan cuma Afi kok yang dituduh macem-macem.

Maka, dari banyak kenyinyiran yang Afi dan John Lennon terima, saya jadi tahu, bahkan sekedar membayangkan dunia yang damai saja susahnya minta ampun. Itu baru di dalam pikiran. Belum pada perbuatan. Sedih, ya?

Kalau saja orang mau memahami kodrat manusia, maka mereka akan sadar bahwa keberagaman adalah sesuatu yang alamiah. Enggak ada lagi keinginan membangun dunia yang seragam. Mengharapkan perdamaian tapi memberangus perbedaan-perbedaan di dalamnya, adalah bentuk kedamaian palsu.

Karena kebencian belakangan ini, orang lupa bahwa agama juga punya kisah damai yang melampaui identitas kelompok. Dulu, di Sekolah Minggu, saya pernah denger cerita orang Samaria yang baik hati. Dia menolong orang asing yang hampir mampus digebukin perampok. Karena kasihan, orang Samaria itu membalut luka, memberi tumpangan, mencarikan penginapan, serta menanggung biaya perawatannya.

Padahal, sebelumnya, ada seorang imam dan seorang dari suku Lewi yang lebih dahulu menyaksikan peristiwa itu. Kata guru Sekolah Minggu, imam dan suku Lewi adalah gambaran orang yang dekat dengan ajaran agama. Tapi, ternyata, mereka tidak mempraktikkan ajaran tersebut dalam kehidupan sehari-hari.

Bagi Yesus, atau Nabi Isa, kebaikan orang Samaria itu jadi contoh, ajaran “mengasihi sesama manusia seperti mengasihi diri sendiri”. Karena kasih itu melampaui batas-batas identitas agama.

Tiap kali inget cerita itu, saya jadi inget Gus Dur.

Afi suka beliau? Seperti cerita orang Samaria yang baik hati tadi, Gus Dur juga pernah bilang, “cinta, kasih dan keimanan mampu menembus sekat-sekat formalisme dan simbolisme”. Tidak sulit pula mengingat kalimat Gus Dur yang ajaib ini, “Ketika kamu bisa melakukan hal-hal baik, orang tidak akan menanyakan apa agamamu.”

Karena itu, saya yakin, orang yang terpukau, membagikan status atau ikut bersolidaritas ketika akun Afi diblokir, juga berasal dari berbagai latar agama. Solidaritas kemanusiaan memang harus berpihak pada manusia, apapun agamanya.

Oh ya. Di masa depan, jangan cuma cerita tentang nyaris tercerai-berainya negara karena meributkan agama warisan. Ceritakan juga tentang tulisan Afi. Bahwa, dalam kekacauan logika berpikir, masih ada orang-orang yang berusaha mempertahankan kewarasan.

Mungkin, sekarang atau di masa depan, kita belum akan menginjakkan kaki di bulan atau merancang tekonologi yang memajukan peradaban, seperti yang Afi harapkan. Tapi, setidaknya, kita sudah berusaha menyuarakan bahwa peradaban yang damai tak harus menunggu surga. Perdamaian itu juga bisa hadir di sini, di bumi ini, di negeri ini, dan untuk semua umat manusia.

Sekian dulu, ya. Semangat terus nulisnya. Banyak orang menunggu tulisan Afi. Jangan kalah sama orang-orang nyinyir. Tiap generasi punya hak membayangkan dunia yang lebih baik. Karena, menurut saya, warisan paling berharga dalam sejarah peradaban umat manusia, apapun agamanya, adalah dunia yang damai.

Salam.

Seorang yang mengagumimu.

#Eyaaaakkk

***
 Gambar diambil di sini

You Might Also Like

0 comments

Tentang Saya

My photo

Dengan bakat masak telur, mie instant dan air panas, saya bercita-cita jadi master chef.

"Tembok!"

Informasi diperoleh secara cuma-cuma. Ia ada disekitar kita. Tiap orang berhak mengaksesnya untuk mengembangkan diri atau menghindari pembodohan. Karenanya, privatisasi informasi merupakan sebuah bentuk penyelewengan intelektual.

Coretan di Tembok!