Intro: Orang-Orang di Kantin Kampus

2:53:00 AM





TUJUH hingga delapan tahun lalu, kantin kampus bukan sekedar tempat makan-minum. Orang bisa berada di sana dari pagi hingga diusir. Mereka membicarakan apa saja, karena memang punya kecenderungan yang berbeda-beda.

Di bagian kanan paling ujung, ada sekelompok mahasiswa-mahasiswi yang ributnya minta ampun. Kalau tertawa keras sekali, kadang sambil menghantam meja atau membanting kursi. Sungguh brutal. Dengan jarak antar meja hanya sekitar satu hingga tiga meter, orang lain mungkin akan terganggu. Tapi, mereka nampaknya tidak begitu peduli.

Topik yang dibicarakan bisa terdengar jelas oleh semua orang yang datang ke kantin. Misalnya, tentang seks yang brutal, agama-agama nenek moyang (siapa yang peduli?), cita-cita menjadi dewa, serta ke-tidak-masuk-akal-an lainnya. Karena keanehan tersebut, orang kemudian menaruh curiga. Ada yang bilang, mereka adalah anggota sekte penyembah pohon, jamur atau lumut. Versi lain menyebut, sejumlah orang dalam kelompok itu telah dirasuki arwah Casper. Sungguh mengerikan.

Tiap kali duduk di dekat mereka, mahasiswa dari organisasi kerohanian, yang selalu berhati-hati dalam bicara dan bertindak, berlipat kali semakin hati-hati. Saya, bahkan, pernah dengar seorang mahasiswa berulang-kali menyebut nama Tuhan, ketika mendengar topik-topik yang mereka bicarakan.

Kemudian, bagi beberapa elit politik mahasiswa, mereka dianggap sebagai daki intelektual. Pernah suatu ketika, orang-orang itu menjadikan pemilihan senat mahasiswa sebagai dagelan. Mereka menempelkan poster Mulyadi di seluruh sudut kampus, termasuk di kantin. Mul, panggilannya, digadang sebagai bakal calon ketua senat mahasiswa.

Tentu banyak yang terkejut. Sebelumnya, hanya 2 atau 3 pasang calon yang diketahui getol berkampanye. Karena poster-poster itu, popularitas Mul meningkat dalam waktu singkat. Tak lama kemudian, saya bertemu dan menanyakan wakil yang akan maju bersamanya. Namun, kabar itu segera dibantah.

“Itu babi-babi sana pe karja!” jawab Mul singkat, senyum-senyum, sambil menggaruk kepala. Di sisi lain, mereka, babi-babi yang disebut Mul, menunjukkan wajah tak bersalah sedikitpun. Terus tertawa dan berulang kali menegaskan dukungan.

Mereka sebenarnya bukan kelompok tak percaya Tuhan atau apolitis, seperti yang selama ini dituduhkan. Sebagian orang hanya mengambil kesimpulan terlampau cepat tanpa pernah meminta penjelasan. Tuduhan itu kemudian, menutupi fakta bahwa kelompok ini diisi oleh sejumlah aktivis mahasiswa ekstra atau intra kampus, peneliti muda yang rakus membaca, serta selalu bersemangat mengulas sejarah dan kebudayaan maritim. Tapi begitulah artinya kepercayaan. Karena tak jelas, maka ia dipercaya. “Credo quia absurdum!” kata Nono, salah seorang dari kelompok di sebelah kanan ujung.

Di bagian kiri paling ujung, ada kelompok lain yang dikenal spesialis demonstrasi. Waktu itu, memang, nyaris tiap bulan ada saja mahasiswa yang turun ke jalan atau teriak-teriak di taman kampus, membawa spanduk dan megaphone. Entah mengkritik beberapa lagu Presiden yang di luar ekspektasi, terlalu kuno, dan tentu saja, tidak sesuai dengan perkembangan zaman. Atau, mencibir pemimpin universitas yang sibuk memeras mahasiswa. Dengan ataupun secara legal, pemerasan tetap pemerasan.

Kelompok ini juga tidak lepas dari berbagai tuduhan. Banyak mahasiswa, termasuk dosen, menuduh mereka berpihak pada elit politik tertentu, entah di dalam ataupun di luar kampus. Mereka akhirnya disebut sebagai contoh gagal produk akademik, semacam peristiwa kelahiran karena kondom bocor, lah. “Bikin malu almamater saja,” kata pejabat kampus waktu itu.

Tentu saja, kelompok ini juga tidak peduli dengan berbagai tuduhan-tuduhan tersebut. Kampus seharusnya jadi ruang yang, bukan hanya, mempelajari sejumlah teori tapi juga mempraktikkannya. Melakukan kritik bukan dosa, dan pejabat kampus bukanlah Tuhan beserta malaikat-malaiktannya. Karena fakta itu, pejabat kampus juga bisa salah dalam membuat atau melaksanakan kebijakan.

Anehnya, tuduhan-tuduhan pada kelompok ini, tak hanya dibuat oleh pejabat-pejabat kampus. Ada juga mahasiswa yang, tak bisa dipungkiri, mengambil keberpihakan pada otoritas berwenang. Dan tentu saja, melupakan fakta bahwa mereka juga menikmati hasil dari kritik-kritik tersebut. Cerita singkatnya begini. Sekelompok mahasiswa-mahasiswi itu, pernah mengorganisir aksi untuk menuntut penghapusan pungutan liar di kampus. Hasilnya, beberapa pejabat ditetapkan sebagai tersangka. Pungutan liar dihentikan. Sejumlah elit mahasiswa yang melemparkan tuduhan aneh-aneh itu, yang berusaha menghalangi demonstrasi, dalam kenyataannya, menjadi bagian dari seluruh mahasiswa yang terbebas dari pungutan liar. Saya kira, inilah bagian yang dilupakan.

Di bagian tengah kantin, biasanya diisi oleh berbagai mahasiswa dari macam-macam jurusan. Mereka juga membicarakan banyak hal, misalnya tugas-tugas kuliah, politik nasional sampai politik kampus, sepak bola, rencana shoping, nonton bioskop atau karaoke sepulang kuliah. Bersama mereka, saya menikmati berbagai kegembiraan. Mabuk di kantin kampus sampai pagi, atau terbahak-bahak karena cerita-cerita lucu.

Kelompok bagian tengah ini, agaknya dipenuhi mahasiswa-mahasiswi kreatif. Mereka, yang rata-rata bergiat di biro kemahasiswaan, lembaga legislatif dan eksekutif kampus. Karena itu, mereka sering mengadakan seminar nasional atau kerohanian, acara musik atau selebrasi akbar yang kemudian diselenggarakan tiap tahun.

Kelompok ini juga tak lepas dari kritik. Pihak luar, menuduh mereka terlampau sibuk dengan kegiatan foya-foya, mengabaikan tradisi intelektual dan cenderung berpihak pada otoritas kampus. Karena itu, mereka disebut sebagai sekelompok mahasiswa baik-baik. Atas tuduhan itu, beberapa di antara mereka membuat pembelaan yang, dikemudian hari, saya kira cukup masuk akal. “Kita pe cara menyelesaikan masalah nda sama deng ngoni dan, kita yakin, kita juga ikut melawan sistem dengan kita pe cara,” kata seorang kawan.

Tidak salah, saya kira. Pisau dapur dengan peluru terbuat dari besi yang sama. Perempuan yang membuat masakan dan pejuang di medan perang, berjuang dengan cara berbeda. Persamaannya, mereka semua terlibat perlawanan. Kita tidak seharusnya terburu-buru membuat strata kepahlawanan. Sebab saya percaya, tak ada kontribusi kecil dalam perlawanan. Menyanjung gerilyawan yang jago menembak harus juga menyadari bahwa mereka juga butuh makan.

Pengelompokan di kantin, tentu, tidak monotone. Tiap individu bisa bercampur-baur dari kelompok satu ke kelompok lainnya. Namun, tak bisa dipungkiri, fragmentasi itu hampir bisa disaksikan tiap hari. Sehingga, yang pasti, Anda tidak pernah bosan berada di sana. Ada berbagai pengetahuan dan kegiatan yang bisa didapat.

“Kantin adalah kelas kedua,”seorang kawan suatu ketika mengatakan.

Saya sebenarnya kurang yakin dengan argumentasi itu. Bisa jadi, kelas formal adalah semacam kantin bagi beberapa orang. Sekedar ruang refreshing dan berbasa-basi. Bisa jadi, kantin adalah ruang belajar sesungguhnya.

Bisa jadi.

Bersambung...

***
Foto ilustrasi diambil di sini

You Might Also Like

0 comments

Tentang Saya

My photo

Dengan bakat masak telur, mie instant dan air panas, saya bercita-cita jadi master chef.

"Tembok!"

Informasi diperoleh secara cuma-cuma. Ia ada disekitar kita. Tiap orang berhak mengaksesnya untuk mengembangkan diri atau menghindari pembodohan. Karenanya, privatisasi informasi merupakan sebuah bentuk penyelewengan intelektual.

Coretan di Tembok!