Yang Putus di Kantin Kampus

2:24:00 AM



Mas Eko adalah salah satu orang paling baik yang saya kenal di kampus. Dia selalu bersedia menolong banyak mahasiswa yang menghadapi permasalahan administrasi. Nyaris tak pernah menolak. Dalam situasi darurat itu, ia bisa segera meninggalkan kopi yang belum setengah diminum atau membunuh Samsu yang baru beberapa kali dihisap.


Namun, menjelang sore, hari itu, beberapa teman cepat-cepat merespon. Mereka segera mengenyahkan orang-orang yang berniat mengusik waktu santainya. “Bale besok ngoni. Torang masih minum kopi!”

Akhirnya mas Eko bisa sedikit lebih santai. Minum kopi pelan-pelan dan menghisap kretek dengan tenang.

Di meja yang sama, saya dan beberapa kawan membicarakan pengalaman mistis masing-masing. Tak cukup seru. Sebab, di mana mengerikannya kisah horor jika hanya berputar-putar pada urusan dada dan paha?

Suasana itu kemudian berubah ketika ahlinya mengambil kendali cerita. Kami, tanpa diperintah, segera membentuk posisi seperti planet-planet yang mengitari matahari. Tentu, mas Eko jadi pusatnya.

“Di bagian utara tanah ini, pernah ada pertemuan gaib,” demikian sang ahli membuka kalimat. “Dulu, jin-jin dan orang-orang sakti berkumpul di sana. Bikin semacam rapat.”

Mendengar pembukaan kisah itu, kami jadi penasaran. Mengarahkan telinga masing-masing pada lawan bicara, seakan tak ingin ketinggalan satu kata pun. Saya bisa lihat bagaimana Mul mengankat gelas kopi, yang nampak lebih berat dari biasanya. Gelas itu kemudian dimiringkan ke mulut dengan sangat hati-hati, namun matanya terus menatap si lawan bicara.

Kini, pusat dunia itu menarik lengan secara pelan, mempertemukan Samsu dengan bibirnya, menghisap dalam-dalam, lalu “Bushhhhh...” asap dihembuskan dengan penuh kelegaan. Sejurus kemudian, dahinya mengkerut, seperti berusaha menggapai sesuatu yang telah jauh tertinggal di belakang.

Orang-orang yang membentuk setengah lingkaran masih bersabar menunggu kalimat selanjutnya. Kami penasaran dengan niat jin dan orang-orang sakti, yang menjadikan bagian utara tanah ini sebagai tempat pertemuan.

“Bagian utara tanah ini dipilih karena akan dijadikan pusat peradaban manusia. Pusatnya dunia!” kata mas Eko sambil menatap satu per satu wajah di sekelilingnya. Wajah yang ditatap membalas dengan berbagai respon. Ada yang mengerutkan dahi, ada yang mengangguk atau menggelengkan kepala, ada juga yang menatapnya dengan mata kosong.

Soal kenapa bagian utara tanah ini yang dipilih, bukannya sebuah daratan sunyi di Kutub Utara, tak ada yang mempertanyakan.

Sejurus kemudian, mas Eko nampak segera melanjutkan cerita yang terputus beberapa detik. Orang-orang di sekitarnya mulai merapikan posisi duduk, sedikit mencondongkan kepala seperti yang dilakukan tumbuhan pada cahaya Matahari, serta memperhatikan gerak bibir pencerita.

“Kalian tahu!” kalimatnya memecah keheningan. Kami terhempas dari lamunan masing-masing. Tentu tak satupun dari kami yang bisa memberi jawaban, karena tak tahu apa-apa tentang rencana gaib di tanah bagian utara itu.

Ia kembali menghisap rokok dan meneguk kopi. Lalu bilang, “Waktu itu, saya mendapat tugas untuk mempersiapkan pertemuan. Enggak gampang. Tapi, kalau rencana itu terwujud, tanah di bagian utara itu akan lebih megah dari New York, Roma ataupun Tokyo.”

Kami makin tegang. Mas Eko menguasai ruangan, dan menjawab keraguan itu dengan sekali tatap dan senyum. Berturut-turut, ia menceritakan tanah di bagian utara. Kami hanya memperhatikan, tanpa memotong cerita. Sesekali, saya membayangkan kemungkinan yang terjadi jika kisah itu terwujud.

“Saya bertemu dengan mereka,” terangnya, sambil menyebut satu per satu nama jin dan orang sakti yang tak satupun saya ingat. Saya juga tak ingat apa saja syarat yang harus dipersiapkannya untuk pertemuan itu. Yang saya ingat, kata dia, rencana itu akan terwujud berpuluh-puluh tahun terhitung dari cerita di kantin.

Kami saling tatap. Sebagian di antara kami, menggeleng-gelengkan kepala sebagai tanda kagum. “Luar biasa, mas Eko. Kita sampe badiri bulu-bulu nyawa dengar itu cirita,” kata Alo.

Saya belum begitu bisa membayangkan berada dalam situasi magis itu. Karena penasaran, saya memberanikan diri untuk bertanya. “Mas Eko nda tako?”

Dia tersenyum, menghisap Samsu lalu menghembuskannya puas-puas. “Saya hanya takut Tuhan,” kata dia.

Kami, yang mendengar pernyataan itu, tentu saja tak bisa tak percaya. Hanya orang-orang yang mampu melumpuhkan ketakutan, yang sanggup melewati situasi macam begitu. Tapi, ternyata, mas Eko belum selesai. Ada yang tertinggal dari pernyataan tadi. “Saya juga takut kesepian,” jawabnya dengan disambung sekali batuk.

Saya agak heran dengan penjelasan itu, lalu kembali bertanya, “Loh, bukankah situasi gaib yang mas Eko lewati harusnya identik dengan sepi?”

“Tidak anak muda,” dia kembali menyambungnya dengan sekali batuk. “Dalam suasana magis, saya selalu dipenuhi keyakinan.”

“Tapi, kesepian yang saya maksud ada di sini,” kami semua menatap telunjukknya mengetuk dada sebanyak tiga kali. Pelan, namun tegas. “Kesepian di sini, akan membuat jiwa kita kosong. Bikin kita tak punya daya sebagai manusia.”

“Betul juga mas Eko,” saya membalas cepat. Orang-orang menatap agak kesal karena saya memotong pembicaraan. “Kesepian akan membawa kita ke tempat yang jauh,” kata saya mengutip syair Aerosmith.

“Apaan sih loe, bro. Enggak penting banget!” Cecep menengking. “Silakan dilanjutin ceritanya, mas.”

“Ini bukan perkara sejauh mana kita terhempas dari kenyataan,” mas Eko membantah pernyataan saya Aerosmith. “Jika persoalannya hanya jarak, buat apa ada telkomsel?”

 “Ini soal sejauh mana kita mampu bertahan menghadapi kesepian! Jika ngana enggak cukup kuat menghadapi kesepian,” mas Eko berhenti sejenak untuk kembali menghisap Samsu, “Ngana hanya jadi kerupuk yang melawan angin.”

“Kalian tahu apa artinya jiwa macam begitu?” pusat dunia kembali menatap kami satu per satu. Tak seorang pun berani menjawab. Kami khawatir memberi penjelasan tak masuk akal. Karena itu, kami memilih menanti kalimat dari mas Eko seperti jamur menunggu musim hujan.

“Kerupuk yang melawan angin artinya, kalian masih eksis di dunia ini tapi kehilangan esensi hidup. Enggak enak. Melempem. Lanut!”

Saya takjub dengan penjelasan itu. Pada satu sisi memperoleh kekuatan, namun di sisi lain mengetahui betapa mata kuliah filsafat dipenuhi omong kosong. Hari ini saya menemukan filsafat hidup sesungguhnya!

Bebarapa orang di meja diskusi juga tak bisa menahan haru. Terlihat di mata Cecep ada semacam aquarium yang retak, dengan sedikit getaran saja bisa bikin air membanjiri daratan. “Oh my Jesus Christ, that’s fuckin cool! You’ll never walk alone, mate!” ujar Cecep sambil menggosokkan mata dengan kedua lengan secara bergantian.

Tanpa disadari, sejurus kemudian, kami semua sudah saling bergandengan tangan. Filosofi kerupuk lanut berhasil mempersatukan jiwa-jiwa yang rapuh, agar tidak semakin tidak berguna.

Tapi, mas Eko belum selesai. Kini, kepalnya menatap ke langit-langit kantin. Hanya ada seng di sana. Kami tahu, sebentar lagi, kami akan mendengar kata-kata yang menggetarkan jagad raya.

“Itu yang saya khawatirkan. Kalian terlalu cepat puas, tanpa menanyakan cara agar tidak jadi lanut!?” mas Eko kembali menguasai ruangan. Ia mengarahkan pandangannya pada kami.

Pernyataan itu dengan seketika membuat kami melepas gandengan tangan yang sebelumnya begitu erat. Ah, betapa ketakjuban bisa bikin detil-detil penting terabaikan. Saya malu, tentu saja, ketika menanyakan, “Bagaimana caranya, mas?”

“Di dalam dadamu,” kalimat mas Eko mulai terdengar medok, artinya ia mulai serius. “Kau harus tutup kaleng kerupuk rapat-rapat. Supaya tidak lanut!”

“Bukankah jiwa kita tidak berbentuk, mas?” kini Mul yang bertanya.

Sang ahli menatap Mul dengan mata tajam, mengangkat sedikit ujung kanan bibirnya, lalu menindis kuat-kuat puntung Samsunya dalam sebuah asbak seperti tanpa ampun. “Kata Plato, tubuh adalah penjaranya jiwa. Karena itu, tidak mungkin sesuatu yang tidak punya bentuk bisa, ter atau, dipenjara! Maka, tidak mungkin angin merasuki angin. Pasti merasuki kerupuk!”

Masih menurut mas Eko, “Kita kira, ngoni tahu, tutup macam apa yang dibutuhkan jiwa yang sepi?”

“Bukankah itu artinya jiwa kita akan terus terpenjara dan tidak akan pernah bebas, mas?” Mul masih penasaran.

“Daripada lanut, ngana pilih mana?”

Pertanyaan itu bikin Mul segera mengunci mulutnya. Dahinya segera membentuk kerutan. Mungkin membayangkan perbandingan tersebut: jiwa yang bebas atau lanut? Perbandingan seperti itu, sudah pasti tak didapat dalam kelas. Kami tahu, mas Eko telah memberi pelajaran berharga, saat itu.

“Bagaimana supaya nda lanut dang, mas?” Alo masih penasaran.

“Caranya...”

Belum selesai mas Eko menjawab, seorang perempuan muncul dari kantin bagian dalam. Ia mengangkat satu per satu gelas kopi yang, ternyata, telah surut sedari tadi. “Adohhh... Ba cirita apa ley ngoni samua! Itung jo kamari tu kopi. So gelap, kantin somo tutup!”

“Yah, sadiki ley kowak Ima, mo tambah kopi, kata!” Alo memprotes. Ia tak terima pelajaran filsafat harus berakhir lebih cepat dari yang diharapkan. Kami juga begitu. Tanpa menerima jawaban mas Eko, kami seperti kaleng krupuk tanpa tutup. Bisa masuk angin!

“Halah, sagala rupa. Sambung besok jo. Kita somo pulang!” kata perempuan yang kembali masuk ke dalam kantin, sambil membawa gelas-gelas kopi itu.

Bersambung...

Disclaimer: Kisah ini diambil dari kejadian sesungguhnya, dengan berbagai tipu muslihat di sana-sini. Jang talalu serius neh! :D

You Might Also Like

0 comments

Tentang Saya

My photo

Dengan bakat masak telur, mie instant dan air panas, saya bercita-cita jadi master chef.

"Tembok!"

Informasi diperoleh secara cuma-cuma. Ia ada disekitar kita. Tiap orang berhak mengaksesnya untuk mengembangkan diri atau menghindari pembodohan. Karenanya, privatisasi informasi merupakan sebuah bentuk penyelewengan intelektual.

Coretan di Tembok!