Membicarakan Letak Geografis (kota) Manado

12:31:00 AM

Sudah 6 bulan saya meninggalkan Manado, untuk mencoba peruntungan di Surabaya. Dalam kurun tersebut, saya bertemu dengan orang-orang baru dan berbagi cerita. Topiknya bisa dibilang mirip. Rata-rata menanyakan tempat saya kerja, sudah nikah atau belum, serta dialek yang terdengar agak berbeda.


Penjelasan dari saya juga rata-rata serupa. Kepada mereka, saya menyebut media tempat saya kerja, mengakui bahwa saya belum nikah tapi bahagia, serta menjelaskan alasan dialek yang terdengar berbeda, yaitu karena saya sudah 10 tahun tinggal di Manado.

Bagi saya, ada beberapa kejadian yang cukup unik, ketika orang mendengar kata “Manado”. Misalnya, cepat-cepat membangun generalisasi soal makanan atau kehidupan sosial di sana. Seakan-akan, lebih dari 400ribu penduduk Manado punya selera makan dan gaya hidup yang sama.

Tapi, dalam artikel ini, saya tidak akan membahas itu. Soalnya, dari beberapa percakapan dengan orang yang berbeda, saya merasa perlu mendeskripsikan letak geografis Manado.

Cerita singkatnya, kira-kira begini...

***

Pulau Sulawesi memiliki 6 provinsi yaitu Sulawesi Barat, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara dan Gorontalo. Jumlah itu belum terhitung dengan daerah-daerah yang punya rencana membentuk provinsi sendiri.

Namun, tahun lalu, ketika saya masih berada di Manado, seorang kawan seakan-akan meremas pulau Sulawesi hanya dalam 2 bagian: Makassar dan Manado.

Waktu itu, melalui telepon, dia memberi kabar rencana pertunangannya. Mendengar itu, saya mengucapkan selamat dan menyatakan ikut senang.

Kegembiraan bertambah, ketika dia bilang bahwa calon tunangannya merupakan orang ‘Manado’, dan minta saya menjemputnya di bandara. Saya segera meng-iya-kan, lalu percakapan berlanjut sebagai berikut:

“Pesawatku turun di Makassar, bro. Kamu bisa jemput?”

“Waduh jauh bro. Langsung turun di Manado aja!”

“Berapa jam sih, dari Manado ke Makassar?”

“Mungkin 4 atau 5 hari. Manado itu di Sulawesi Utara. Sedangkan, Makassar di Sulawesi Selatan,” kata saya.

Karena merasa ada yang kurang beres, saya kemudian, menanyakan lokasi pertunangannya. Kawan saya yang sedang berbahagia itu, lalu menjawab: “Gorontalo!”

Kecurigaan saya terbukti benar. Saya kemudian menyarankannya langsung turun di bandara Gorontalo. Tapi, dia masih saja penasaran, lalu menanyakan jarak Makassar ke Gorontalo.

Saya bilang, waktu tempuh Makassar-Manado dengan Makassar-Gorontalo tidak jauh berbeda. Sebab, dari Manado ke Gorontalo, hanya membutuhkan waktu tempuh antara 8 hingga 10 jam.

“Ooo.. aku kira dekat!”

*Kemudian hening.*

***

Ketika saya menggunakan tas bergambar yaki atau yang juga dikenal dengan sebutan monyet hitam Sulawesi (Macaca nigra), seorang kawan yang baru saya kenal, segera membuka percakapan.

“Tasnya bagus, mas. Beli di mana?”

“Saya bawa dari Manado, mas.”

“Oh temen saya kerja di Balikpapan,” jelasnya dengan cukup bersemangat. Saya hanya diam, karena agak bingung dengan pernyataan tersebut. “Jauh dari Manado kah, mas?”

Saya kemudian menjelaskan bahwa Manado berada di pulau Sulawesi, sedangkan Balikpapan di Kalimantan.

“Naik motor berapa jam, memangnya?”

“Beda pulau, mas.”

“Enggak bisa, kah?”

“Enggak bisa, mas. Motornya enggak bisa lewat laut!”

“Oh, saya kira bisa?!”

***

Saya kira, salah kaprah macam begitu, juga berlaku pada warga keturunan yang belum pernah ke Minahasa, Bolaang Mongondow, serta daerah kabupaten kepulauan seperti Siau, Sangihe dan Talaud.

Dalam sejumlah kasus, generalisasi akan membingungkan mereka. Mereka bisa menganggap Sulawesi Utara, provinsi dengan luas sekitar 15.273 km2, 11 kabupaten, 4 kota, 3 bandara, 46 gunung, 17 danau, 30 sungai, serta lebih dari 600 pulau, hanya dengan satu kata: Manado!

Pun begitu, beberapa keturunan dari Siau, Sangihe dan Talaud, yang juga belum pernah ke sana, akan menganggap 3 kabupaten kepulauan tersebut berada pada wilayah administratif dan budaya yang sama: Sangihe (baca: Sangir).

“Wah dari Manado toh,” kata seorang pengemudi taksi online, yang saya tumpangi. “Saya asli Sangir, mas.”

Lalu saya tanya, “Sangir mana?”

“Talaud,” jawabnya.

Supir itu juga menceritakan bahwa saudaranya kerja di Manado. Dia kemudian menyebut instansi, nama dan marga saudaranya, sebelum berujung pada pertanyaan klasik, “Sampean kenal, mas?”

*Suasana kembali hening*

***

Bagi beberapa perantau, yang lahir dan besar di daerah-daerah tadi, hanya menyebut Manado atau Sangihe (jika bertemu kawanua), merupakan cara gampang untuk menjelaskan asal daerahnya. Dengan begitu, mereka tidak perlu repot-repot mengambil peta Sulawesi Utara, untuk menunjukkan letak daerah secara spesifik.

Dalam beberapa kasus, simbolisasi Manado atau Sangihe, bahkan Sulawesi, juga digunakan sebagai pengikat solidaritas orang-orang rantau atau keturunan perantau. Spesifikasi daerah tak jadi soal.

Nah, kalau simbolisasi Manado, Sangihe atau juga Sulawesi, dalam beberapa hal ada gunanya, lalu untuk apa sebenarnya artikel ini dibuat?

Sederhana saja. Paling tidak, jika untuk pertama kalinya Anda punya rencana mengunjungi sebuah kota atau kabupaten di Sulawesi, Anda tidak salah bandara atau pelabuhan.

You Might Also Like

0 comments

Tentang Saya

My photo

Dengan bakat masak telur, mie instant dan air panas, saya bercita-cita jadi master chef.

"Tembok!"

Informasi diperoleh secara cuma-cuma. Ia ada disekitar kita. Tiap orang berhak mengaksesnya untuk mengembangkan diri atau menghindari pembodohan. Karenanya, privatisasi informasi merupakan sebuah bentuk penyelewengan intelektual.

Coretan di Tembok!