Lapak Move On Manado: Sebuah Eksperimentasi Menciptakan Pasar Alternatif!

1:57:00 AM



Malam minggu (19/5/2018), pemuda-pemudi dari berbagai komunitasi di Sulawesi Utara memadati Godbless Park, Manado. Bukan, mereka bukan tipe manusia yang menciptakan keramaian karena takut digerogoti malam minggu yang sepi. Walau mungkin saja ada satu-dua orang yang masuk kategori itu. Di sana, mereka hadir untuk mendukung sebuah pagelaran bertema “Lapak Move On”.


Sejak sore, beberapa di antara mereka sudah mulai menggelar karpet dan menata sejumlah barang. Sebuah ruangan di Godbless Park, yang nampak seperti pendopo, dalam waktu singkat disulap jadi pasar sekaligus galeri seni. Tidak percaya? Baiklah, biar saya ceritakan.

Di bagian timur pendopo, terdapat stand yang secara rapi menjajar sepeda onthel, radio ‘tempo doeloe’ (apa istilahnya euy!? – maklum yang nulis masih remaja! – bakusedu.. wkwkwkwkwk), telepon putar (?) – yang selalu digunakan dalam film Warkop DKI, setrika arang, mesin ketik, vinyl, Video Cassette Recorder (VCR) dan Video player-nya, kaos, rompi dan kemeja flanel.

Oh, mungkin saja perspektif saya kurang tepat ketika menyebut benda-benda itu sebagai tempo doeloe. Sebagai bagian dari sebuah generasi, benda-benda yang saya lihat memang masuk kategori zaman dahulu (zadul). Namun, sebagai orang yang berusaha mengenal teknologi, saya justru tampak seperti manusia purba yang sedang mencari tahu guna telepon putar.

Ya, saya salah. Benda-benda tadi tidak tepat diletakkan dalam kategori zaman dahulu: yang silam dan karatan. Lebih dari itu, ia layak disebut klasik: yang masyhur, bermutu tinggi, sempurna dan tentu saja... abadi.

Semakin ke barat, terdapat stan-stan yang menampilkan buku, zine, lukisan, kerajinan tangan berupa tas, baju, kalung dan lain sebagainya. Namun, tidak semua produk itu dijual. Beberapa di antaranya bisa juga untuk barter, sekedar ditampilkan atau malah dibagi gratis.

Lapak Move On memang direncanakan sebagai ruang eksperimentasi untuk menciptakan pasar alternatif. Pasar yang tidak hanya berorientasi profit dan jual beli, tetapi juga menawarkan sesuatu yang lain: proses berbagi.

Di sini, pelapak tidak sama dengan pedagang. Pengunjung tidak harus jadi pembeli. Dan, diskusi bukan berarti adegan tawar-menawar. Tiap orang yang terlibat bisa berbagi pengetahuan mengenai produk atau barang yang ditampilkan. Mereka bisa juga menukar sesuatu tanpa memperhitungkan harga jual, tetapi kegunaan.

Artinya, jika punya jam tangan – yang dibandrol mahal oleh industri belanja – tapi tidak punya celana dalam dan merasa butuh, Anda bisa menjalin komunikasi yang baik untuk mencapai kesepakatan dengan orang lain yang bersedia menukar celana dalamnya (nya pada kata yang disebut terakhir berarti barang yang dilapak, bukan digunakan – walau tidak jadi masalah jika pada akhirnya Anda bersepakat menukar jam tangan dengan celana dalam yang digunakan seorang peserta lapak).

Penggunaan kata Move On, meski tidak filosofis-filosofis amat, setidaknya merupakan niat untuk meninggalkan hegemoni pasar konvensional: pasar yang umumnya hanya menetap di suatu tempat. Lapak ini direncanakan akan berpindah dari satu daerah ke daerah lain di Sulawesi Utara, tergantung kesediaan komunitas-komunitas yang terlibat.

Sebab, pasar konvensional cenderung berorientasi kecepatan dan produksi massal. Konsekuensinya, overproduksi mengambil bentuk lain: sampah anorganik dan makanan sisa (sementara beberapa anak kos harus menjalani diet tiap akhir bulan). Sebagai antitesis, Lapak Move On berupaya mendistribusikan kembali pengetahuan, dan beberapa hal yang disembunyikan pasar konvensional.

Kembali pada ruangan yang mirip pendopo di Godbless Park, Manado. Sekitar 1 jam setelah waktu buka puasa, pegiat Food Not Bombs (FNB) Manado menyajikan kolak ubi. Manis dan luar biasa enak, namun – sayang sekali – gagal menjadi hidangan “berbuka dengan yang manis” L Meski demikian, siapapun yang hadir dalam kegiatan ini bisa mengkonsumsinya secara gratis. Karena pegiat FNB Manado percaya, “Gratisan Selalu Menyenangkan”. Meski begitu, FNB menolak konsep derma ataupun amal. Sebab, konsep itu dianggap tidak menyerang sumber penyebab kemiskinan dan kelaparan.

FNB merupakan gerakan egalitarian yang tercetus akhir 1980an, saat masyarakat sipil di Amerika memprotes perang dan pengembangan nuklir. Gerakan ini mendasarkan pemikiran bahwa, di bumi yang kaya tidak seharusnya ada orang kelaparan. Karena, mereka menilai, akar kemiskinan dan kelaparan adalah privatisasi dan monopoli akses terhadap sumberdaya alam oleh segelintir orang saja. Seperti kata Gandhi, “Bumi yang luas ini cukup untuk memberi makan semua manusia, tapi tidak seorang rakus” – ceileh ngutip Gandhi!

Tak lama setelah FNB Manado menyajikan kolak ubi sebagai menu buka puasa, yang baru bisa dikonsumsi 1 jam setelah waktu berbuka, ruangan yang mirip pendopo itu mulai diisi pertunjukan musik dan baca puisi. Pertunjukan itu seketika mengubah ruangan lapak jadi teater seni. Pemusik dan pembaca puisi nampak seperti matahari dengan penonton dan peserta lapak sebagai planet-planet yang mengitarinya.

Perubahan situasi itu, kemudian membuat satu per satu peserta lapak terjangkit histeria. Perhatian mereka terpusat pada pemusik dan pembaca puisi yang tidak menggunakan pengeras suara. Sesekali mereka ikut bernyanyi, tepuk tangan, dan kalau sama sekali tidak mengerti lagu dan lirik, hanya menatap dengan mata kosong.

Pertunjukan musik dan baca puisi, yang sekitar 1 jam itu, menjadi jembatan bagi peserta Lapak Move On untuk beranjak pada tahap evaluasi. Tentu saja, sebagai sebuah eksperimentasi awal, kegiatan ini masih jauh dari sempurna. Atau paling tidak, peserta Lapak Move On masih punya keinginan untuk melampaui pencapaian awal tersebut.

Mereka tahu, di malam minggu yang jauh dari kesan sepi itu, Lapak Move On berhasil mengkoneksikan komunitas-komunitas yang sebelumnya tidak pernah berada di satu ruangan yang sama atau bahkan belum pernah bertemu. Namun, sebagai bagian dari kampanye dan upaya berbagi pengetahuan, kegiatan ini agaknya kurang maksimal menarik perhatian orang-orang di luar komunitas.

Ada beberapa faktor yang mungkin perlu disiasati. Pertama, promosi di media sosial barangkali hanya menjangkau orang-orang di lingkaran komunitas. Kedua, pengguna jalan Piere Tendean dari luar area Godbless Park sebenarnya sudah melirik-lirik pagelaran ini. Namun, banyak di antaranya, belum mengetahui inti kegiatan atau ragu bergabung dalam Lapak Move On.

Terlepas dari kekurangan-kekurangan itu, eksperimentasi untuk menciptakan ruang kreasi bagi pemuda-pemudi di Sulawesi Utara, lewat Lapak Move On, seakan-akan telah menjawab kredo yang secara ambisius diserukan Efek Rumah Kaca: Pasar Bisa Diciptakan!

***

Catatan:

1Dua minggu lagi, di malam minggu lagi (2/6/2018), Lapak Move On akan kembali hadir di Godbless Park, Manado. Bukan, mereka bukannya belum Move On. Hanya saja, mereka berkeinginan melampaui pencapaian sebelumnya. Jadi, jika punya sesuatu yang ingin di-lapak-kan, berbagi pengetahuan atau mencari barang-barang menarik, Anda bisa bergabung dalam lapakan ini. Jangan sampai ketinggalan. Jangan sampai Anda mencari, di saat mereka benar-benar sudah Move On! :p

2Anda bisa lihat video dan testimoni dari peserta Lapak Move On dengan menekan tautan berikut: https://www.youtube.com/watch?v=rijdSZn0DRs&t=134s

3. Pada bagian akhir artikel, saya akan menyertakan beberapa foto, yang saya dapat dari penyelenggara Lapak Move On. Sekian, dan terima kasih. Sayonara!














You Might Also Like

0 comments

Tentang Saya

My photo

Dengan bakat masak telur, mie instant dan air panas, saya bercita-cita jadi master chef.

"Tembok!"

Informasi diperoleh secara cuma-cuma. Ia ada disekitar kita. Tiap orang berhak mengaksesnya untuk mengembangkan diri atau menghindari pembodohan. Karenanya, privatisasi informasi merupakan sebuah bentuk penyelewengan intelektual.

Coretan di Tembok!