Surabaya yang Saya Kenal

10:50:00 AM




Surabaya bukanlah kota yang asing buat saya. Di kota ini, saya lahir dan beranjak remaja. Ia adalah asal-mula segala sesuatu tentang saya: konstruksi berpikir, cinta dan penolakan, persahabatan dan perlawanan, serta perkelahian dan perdamaian. Bisa dibilang, Surabaya adalah sebagian dari diri saya hari ini. Dari berbagai kekurangan, juga ketimpangan-ketimpangan sosial-ekonominya, saya bisa mengingat banyak kebaikan di kota ini. 

Di Surabaya, saya tinggal di sebuah kawasan yang mayoritas warganya beragama Islam. Sebagai pemeluk Kristen, yang dikategorikan minoritas, saya tidak pernah merasa kesepian. Tiap dini hari di bulan puasa, teman-teman selalu meneriaki saya untuk ikut sahur. Malam harinya, mereka membawa nasi kotak dari Masjid dan mengajak makan bersama.

Ketika Idul Fitri, kami saling bermaafan dan saya selalu berkunjung ke rumah beberapa teman atau berkumpul di sebuah rumah yang jadi tempat nongkrong kami. Di hari Natal atau tahun baru, mereka memberi selamat dan datang makan di rumah saya. Fenomena itu berlangsung nyaris tiap tahun.

Kedekatan sejak kecil, membuat saya dan teman-teman melupakan banyak perbedaan. Kami cukup mengenal kelebihan dan kekurangan masing-masing. Saya, bersama mereka, belajar untuk menata hidup yang baik, namun juga menyempatkan waktu untuk bolos sekolah, belajar merokok, nonton bokep ketika rumah sepi, mencuri snack di mini market atau ramai-ramai main judi di sebuah rental play station. Kalau saya tidak salah menyimpulkan, kami adalah sekelompok remaja yang berulangkali gagal menghindari dosa, tapi tidak pernah lupa bertobat.

Saya juga mengenal Surabaya sebagai kotanya para penggila sepakbola. Ketika SD, saya dan beberapa teman bercita-cita jadi pesepakbola profesional. Tak heran, jika kami biasa menggiring bola di mana saja: terminal dan jalan raya yang aspalnya setajam pecahan botol bir, lapangan paving, parkiran gereja atau halaman sekolah di dekat pemukiman kami. Soal waktu, bisa kapan saja: pagi, siang, malam atau dini hari. Anda bisa bilang, berikan pada kami sepuluh remaja, maka kami akan segera bermain sepakbola.

Oh ya, saya tidak mungkin melupakan Persebaya dan Bonek. Kesebelasan dan pendukung fanatiknya ini jadi sesuatu yang identik dengan kota Surabaya. Sepakbola bukan hanya sekedar hiburan, tapi kebanggaan bagi masyarakat kota. Bersatu dengan puluhan ribu Bonek di dalam stadion, berarti memasrahkan diri dalam euforia-euforia magis. Marah dan kecewa ketika tim kesayangan gagal menang, tapi bahagia bersama dalam tiap gol.

Pada 2004, saya pernah merasakan itu. Di stadion Gelora 10 November, Persebaya harus menghadapi laga pamungkas menghadapi Persija Jakarta. Menang adalah syarat mutlak untuk juara. Di sisi lain, Persija cuma perlu skor imbang untuk mengangkat piala.

Saya merasakan histeria ketika Persebaya mencetak gol, namun menjadi kalut ketika Persija membalasnya. Selama beberapa menit, rasa jengkel dan cemas bergelut dalam pikiran. Tapi, di menit akhir, Persebaya berhasil mencuri gol. Stadion berguncang, langit menjadi merah karena kembang api dan Bonek berteriak lupa diri.

Ketika wasit mengakhiri pertandingan, saya menangis dan berpelukan dengan orang yang tidak saya kenal. Kebahagiaan hari itu memang layak dirayakan dengan siapa saja.

Ketika SMP, saya mengenal Surabaya sebagai ruang bertumbuh musisi lokal hingga nasional. Saat itu, beberapa di antara kami, cukup terobsesi untuk menjadi Dewa 19, Boomerang, Power Metal, Padi, Tic Band hingga Saint Loco --- sejumlah band yang berasal dari kota ini.

Namun, pada tiap ajang pentas seni di sekolah, saya menyaksikan teman-teman SMP memainkan musik dari band-band impor macam Limp Bizkit, Linkin Park, Metalica atau Guns n' Roses. Saya bayangkan, ada begitu banyak remaja kota yang ingin menembus industri musik nasional lewat kemampuan bermusiknya.

Saya masih mempertahankan mimpi itu ketika beranjak ke bangku SMA: bikin band dan merekam sendiri beberapa lagu ciptaan. Belakangan, jika mengingat lirik dan lagu yang saya tulis, betapa malunya saya. Lirik yang saya tulis terkesan murahan dan merendahkan kemanusiaan: laki-laki yang merasakan patah dan menganggap dunia akan runtuh setelahnya, atau perasaan dicampakkan yang bertahan hingga manusia bisa hidup di planet mars. Lagu? Tak perlu dijelaskan panjang lebar. Anda bisa menebaknya setelah tahu bahwa saya adalah vokalis band. Ah, sial sekali. Orang tak tahu diri itu adalah saya di masa lampau.

Ketika tahun lalu kembali ke Surabaya, setelah 10 tahun kuliah dan kerja di Manado, saya menyaksikan Surabaya yang berbeda tapi wajar. Teman-teman bermain sudah banyak yang menikah dan menyibukkan diri dalam urusan-urusan kerja. Interaksi kami tidak sedekat dulu. Namun, tiap bertemu, secangkir kopi bisa jadi mesin waktu. Kami bisa dengan cepat kembali ke masa lalu dan membicarakan kekonyolan-kekonyolan yang pernah dibuat.

Dari perubahan-perubahan yang terlambat saya pahami, saya tahu, teman-teman saya ---apapun cita-citanya dulu--- tetaplah menjadi sekelompok orang yang berusaha mempertahankan hidup dan masa depan yang lebih baik.

Maka, ketika 5 bom mengguncang (salah satunya di Sidoarjo), pada Minggu dan Senin pagi (13 & 14 Mei 2018), saya tahu pelakunya bukanlah teman saya: secara interaksional maupun ide. Saya belum pernah mengenalnya dalam sejarah hidup saya di Surabaya. Bukan, ini bukan soal orang dalam atau luar, orang asli Surabaya atau bukan. Ini soal orang yang ingin menghancurkan, mempertahankan dan membentuk hidup yang lebih baik.

Saya tidak pernah mengenal Surabaya seperti yang saya tonton di televisi pada Minggu dan Senin pagi. Surabaya, juga teman-teman saya di sana, selalu punya cita-cita. Dan cita-cita itu, tidak bisa dibangun dengan bom, darah dan kebencian. Tidak, seberapapun ambisusnya ide bom bunuh diri, tak ada cita-cita di sana. Hanya pesimisme orang-orang yang berani mati, bukan berani hidup. Tidak, itu bukan Surabaya yang saya kenal.

Nb: Tetap semangat dan selalu waspada, kawan-kawan. Saya hanya menceritakan masa lalu, karena saya tidak ingin terlalu banyak mempromosikan orang yang tidak pernah dan tidak ingin saya kenal.

Salam satu nyali: WANI!!!


***
sumber gambar klik di sini

You Might Also Like

0 comments

Tentang Saya

My photo

Dengan bakat masak telur, mie instant dan air panas, saya bercita-cita jadi master chef.

"Tembok!"

Informasi diperoleh secara cuma-cuma. Ia ada disekitar kita. Tiap orang berhak mengaksesnya untuk mengembangkan diri atau menghindari pembodohan. Karenanya, privatisasi informasi merupakan sebuah bentuk penyelewengan intelektual.

Coretan di Tembok!