Monster

December 27, 2025


Tiap manusia memelihara monster dalam dirinya. Sadar atau tidak. Ia, barangkali, ikut hadir sejak bayi berbaring di dalam perut ibunya. Namun, monster itu akan tumbuh dengan cara atau wujud yang berbeda pada diri tiap orang.

Seperti iman banyak psikolog, genetics load the gun but environment pulls the triger. Dengan kata lain, lingkungan adalah arena berlatih paling ideal untuk menebalkan kekuatan dan impulsivitas monster dalam tubuh.

Naoki Urasawa menggambarkannya lewat karakter Johan Liebert dalam manga/ anime “Monster”.

Johan adalah pemuda jenius yang nir emosi. Ia lahir dari eksperimen yang tak kenal batas, bentukan negara dan sisa-sisa logika Perang Dingin.

Mereka kemudian, menjalankan metode cuci otak dan manipulasi psikologis ekstrem untuk menghapus nama dan identitas Johan kecil. Sang bocah dibayangkan sebagai wadah kosong yang mudah diisi ideologi politik. Lalu, menjadi tiran baru yang akan mengendalikan dunia.

Tapi mereka keliru. Johan tidak pernah berminat jadi pemimpin atau mengendalikan kekuasaan. Justru, dia menjadi individu tak terkendali yang mendambakan kebebasan mutlak.

Proyek ideologis itu gagal. Tapi picu keburu ditarik. Monster dalam diri Johan tumbuh dalam bentuk yang sangat mengerikan. Dan dalam kondisi itu, dia membangun sebuah visi: jadi manusia terakhir di bumi yang hancur, sambil menyaksikan peradaban yang tak sempat menguburkan dirinya sendiri.

Visi itu tentu tidak hadir dari kepala kosong, tetapi dari sebuah hipotesis fatalistik: kematian sebagai satu-satunya kondisi yang tempatkan manusia pada posisi setara – sesuatu yang tidak pernah terberi ketika manusia lahir maupun menjalani hidup.

Kematian, seperti dia bayangkan, akan melepas manusia dari beban moralitas yang mereka buat sendiri. Maka, untuk itu, harus ada kekacauan sebagai fase melenyapkan moralitas, peradaban, dan eksistensi manusia.

Dan karena kematian adalah hal normal di dunia, menurutnya, proses mencapai itu bukanlah hal penting. Dengan berbagai skenario yang rapi, dia merancang pembunuhan demi pembunuhan. Termasuk, memanipulasi pikiran seseorang atau sekelompok orang untuk saling bunuh atau mengakhiri hidupnya sendiri.

Pandangan Johan sekilas tampak sulit kita bantah. Hidup, seperti tercatat dalam beratus-ratus halaman sejarah, tidak pernah benar-benar hadirkan dunia yang setara. Manusia terus mengupayakannya. Kita, entah sampai kapan, akan selalu merumuskan konsep-konsep dunia yang ideal.

Lalu, pertanyaannya, jika kematian adalah satu-satunya kondisi yang tempatkan manusia pada posisi setara, apakah hidup sama sekali tidak layak dijalani?

Sebenarnya, lewat konsep kematian, Johan tidak sedang membayangkan kesetaraan. Namun, ketiadaan. Sebab, kesetaraan tidak pernah eksis dalam kehampaan. Dia justru hadir karena adanya entitas, bentuk dan nilai. Sementara, ketiadaan tidak mewakili apa-apa atau siapa-siapa.

Sebagai contoh, kita tahu, 2+3 sama dengan 10:2. Meski bentuk perhitungannya berbeda, namun nilainya sama: 5. Pada sisi lain, kosong (bukan nol) adalah tiada. Ia tidak berbentuk dan tidak bernilai. Karena itu, kosong sudah pasti tidak punya pembanding.

Dalam aspek sosial, politik dan ekonomi, tentu saja, kesetaraan menjadi imajinasi yang buram. Sampai saat ini, kita bisa saksikan dunia yang dipenuhi jurang-jurang ketimpangan: kemiskinan, korupsi, penjajahan dan lain sebagainya.

Pada saat yang sama, upaya-upaya menciptakan kesetaraan hak tidak akan sama dengan rumusan matematis. Konsep-konsep yang dihasilkan seringkali tidak kokoh dan sangat bergantung pada corak-corak politik di suatu tempat.

Meski begitu, ketimpangan bukan alasan untuk benarkan pandangan Johan. Bahwa, tanpa kesetaraan mutlak, hidup manusia tidak layak dijalani. Karena, seperti yang sudah disinggung sebelumnya, kematian tidak akan pernah memberikan hadiah, selain ketiadaan.

Lagipula, proyeksi-proyeksi tentang dunia yang ideal dan setara, betapapun sulitnya, hanya mungkin diupayakan oleh manusia-manusia yang hidup. Kesetaraan mungkin hanyalah proyek etis, tetapi hidup adalah prasyaratnya.

Kita tahu, sepanjang sejarah, berbagai perlawanan pada ketidakadilan banyak kali gagal. Ia sering kalah. Tapi ia ada. Sementara dalam kematian bukan saja moralitas yang berhenti, tetapi juga kehendak. Di sana, tak ada lagi kesempatan menerima dan menolak.

Pada titik inilah Johan bikin lompatan fatal. Dari pengamatan filosofis, bahwa dunia tidak adil, menuju kesimpulan yang rapuh, bahwa hidup tidak layak dijalani.

Dalam bayangannya, dunia adalah panggung yang rapi dan konsisten. Panggung yang tanpa ironi. “Dunia,” seperti yang dia percaya, “tidak butuh makna. Hanya ada.”

Tetapi kita tidak hidup di panggung yang seperti itu. Dunia tempat kita hidup adalah teater yang kacau, timpang dan kompleks. Kita, bahkan, hanyalah serpih-serpih dari ledakan kosmik yang tak sepenuhnya teratur.

Kita mungkin bisa sampai pada sebuah hipotesis bahwa Johan tidak benar-benar mengupayakan dunia yang setara. Di kepalanya, hanya ada semesta yang tanpa manusia.

Tapi ia tidak sepenuhnya salah. Ia hanya keliru, ketika menyimpulkan bahwa hidup tidak layak dijalani. Sebab, selain dia, ada banyak monster yang enggan cepat-cepat punah. Monster yang tumbuh dengan cara dan presepsi yang berbeda.

Dan, bisa jadi, hidup memang tidak selalu punya makna. Tapi ia membuka ruang penolakan. Sedangkan Johan, justru ingin meniadakannya.

You Might Also Like

0 comments