- November 20, 2024
- 0 Comments
Rasanya
seperti alien yang baru pertama kali datang ke bumi. Coba memahami kota dan
kehidupan yang sama sekali berbeda. Di mana orang-orang bergegas tinggalkan
hari untuk menjadikannya sejarah dan menemui masa depan – yang nantinya juga
akan jadi sejarah.
- May 05, 2023
- 0 Comments
Aku bangun pagi setelah sekian lama. Mungkin bukan sesuatu yang luar biasa. Tapi sedikit selebrasi agaknya layak untuk kerja keras ini. Mencemari blog pribadi bisa jadi salah satu opsi – aku juga sudah lama tidak melakukannya. Jika tulisan ini rampung, maka aku harus menyediakan satu lagi hadiah untuk diri sendiri.
- December 24, 2021
- 0 Comments
Surabaya
bukanlah kota yang asing buat saya. Di kota ini, saya lahir dan beranjak
remaja. Ia adalah asal-mula segala sesuatu tentang saya: konstruksi berpikir,
cinta dan penolakan, persahabatan dan perlawanan, serta perkelahian dan
perdamaian. Bisa dibilang, Surabaya adalah sebagian dari diri saya hari ini.
Dari berbagai kekurangan, juga ketimpangan-ketimpangan sosial-ekonominya, saya
bisa mengingat banyak kebaikan di kota ini.
- May 14, 2018
- 0 Comments
- March 26, 2017
- 0 Comments
“Oh, begini susahnya jadi John Lennon!”
Kabarnya, kalimat itu dikatakan pada tahun 2005, ketika Ahmad Dhani terlibat seteru dengan Front Pembela Islam (FPI). Saat itu, mereka berpolemik soal penggunaan simbol agama dalam album Laskar Cinta. Pendek cerita, kedua pihak sepakat menyudahi perkara tersebut. Dewa bersedia merevisi logo dan mencetak ulang sampul albumnya.
Saya tak ingin mengungkitnya terlampau jauh. Toh, Ahmad Dhani sekarang sudah mau berbagi panggung dengan FPI. Hanya saja ada sedikit rasa penasaran, khususnya tentang hal-hal yang bikin Ahmad Dhani memikirkan posisi John Lennon.
Kedua musisi ini memang memiliki kemiripan. Soal popularitas, jangan ditanya. Penghargaan selalu memburu mereka, baik secara personal maupun grup band masing-masing.
Jika majalah Rolling Stone, dalam “100 Greatest Artists”, menempatkan The Beatles di peringkat 1, maka John Lennon sendiri berada pada urutan 38. Nama John Lennon, oleh majalah yang sama, juga ditempatkan di urutan 5 dalam “100 Greatest Singers of All Time”.
Kategori sebagai musisi berpengaruh juga diterima oleh Ahmad Dhani dan Dewa 19. Pada November 2013, majalah Rolling Stone Indonesia merilis “The Immortals: 25 Artis Indonesia Terbesar Sepanjang Masa”. Dalam daftar tersebut, nama Ahmad Dhani berada pada peringkat 24. Sedangkan, Dewa 19 di peringkat 23.
Kita bisa sepakati, kedua musisi ini adalah legenda: John Lennon milik dunia, Ahmad Dhani milik Indonesia. Gimana?
John Lennon dan Polemik Agama
Selain kemiripan prestasi, antara Ahmad Dhani dan John Lennon, ada juga kemiripan kontroversi. Jika Dhani dituduh menyalahgunakan simbol agama, maka John diprotes karena mengucapkan kalimat yang dianggap melecehkan agama.
Pada Maret 1966, London Evening Standard mempublikasi pernyataan John Lennon yang menyebut, “Aku tidak tahu yang mana yang akan musnah lebih dulu, Rock n Roll atau ajaran Kristen. Tapi, yang jelas kami sekarang lebih terkenal dibanding Yesus.”
Pada Juli 1966, pernyataan itu kembali dicetak Datebook di Amerika Serikat. Publik meresponnya dengan protes. Beberapa stasiun radio dilarang memutar musik the Beatles. Piringan hitam dan memorabilia band tersebut juga dibakar.
Aksi massa kemudian membuat keangkuhan John Lennon melembek. Seperti kucing yang disiram air panas. Pada 11 Agustus 1966, the Beatles menggelar konferensi pers di Amerika, yang juga menjadi hari permintaan maaf John Lennon.
Setelah itu, mereka melanjutkan tur dan, gilanya, tetap meraih sukses besar. Namun, kontroversi akibat pernyataan John Lennon melahirkan keputusan bahwa tur itu adalah konser terakhir di Amerika sebagai the Beatles.
Belum cukup. John Lennon masih punya kontroversi yang beda-beda tipis dengan pernyataan tadi. Begitu keluar dari the Beatles, John memutuskan solo karir. Dia juga terlibat aktif dalam gerakan anti perang. Pada tahun 1971, ia merilis sebuah karya monumental yang dikenang hingga hari ini: Imagine.
Sejumlah pihak memujinya sebagai lagu anti perang universal. Jimmy Carter, mantan Presiden AS, sempat membuktikan secara langsung. Ketika mengunjungi 125 negara, dia mengaku selalu mendengar Imagine diputar. Benar-benar universal bukan?
Namun, selain pujian, tak sedikit juga kecaman terhadap lagu ini. Sebagian pihak menilainya bernuansa antichrist atau freemason. Alasannya, karena dalam lagu Imagine, John membayangkan terciptanya sebuah perdamaian di dunia tanpa agama dan negara.
Merespon tuduhan itu,dalam sebuah wawancara John menyatakan, jika tiap manusia bisa membayangkan dunia dalam keadaan damai, tanpa pembedaan agama dan tidak membanding-bandingkan Tuhan, maka konsep perdamaian dalam Imagine bisa terwujud.
Di situ saya mengingat Gus Dur, John!
John Lennon, Ahmad Dhani, dan Politik
Imagine memang tidak bisa ditafsir secara dangkal. Kita perlu menelusuri latar historis dan ideologis ketika John Lennon menciptakannya. Kita memang boleh melakukan kritik. Tapi, kalau melempar tuduhan tanpa dasar, itu namanya: me-mode-pesawat-otak.
Pada 1971, ketika Imagine dipublikasi, Amerika Serikat masih berperang melawan Viet cong. Sejak mengirim pasukan pada tahun 1957 untuk melatih pasukan Vietnam Selatan, AS belum berhasil menaklukkan Vietnam Utara.
Sebagai bayaran untuk menguasai Vietnam, pemerintah AS harus menerjunkan lebih dari 2,6 juta tentaranya. Belum cukup, sepanjang tahun 1961 hingga 1971, militer AS menyemprotkan sekitar 11-12 juta gallon senjata kimia di hampir 10 persen wilayah Vietnam Utara.
Tak seperti kehebatan yang diceritakan dalam film Rambo, perang Vietnam memberi kerugian yang sangat besar bagi Amerika Serikat. Dalam perang tersebut, diperkirakan lebih dari 50 ribu personil militer AS tewas, serta ratusan ribu menderita cacat dan trauma.
Biaya perang ini juga nyaris membuat pemerintah AS bangkrut. Total pengeluaran untuk perang itu sekitar 173 miliar US dolar, atau setara dengan nilai 730 miliar US dolar di tahun 2013.
Nah, di masa-masa suramnya kemanusiaan itu, ada orang macam John Lennon. Dia jadi salah satu simbol gerakan pemuda, sekaligus salah satu orang yang paling diawasi pemerintah AS.
Apakah John Lennon menerima konsekuensi tadi hanya karena menyanyi? Tidak. Itu hanya salah satu cara kampanye saja. Selain nyanyi, John Lennon terlibat dalam demonstrasi, serta diskusi-diskusi politik.
Pada tahun 1969, dia dan Yoko Ono, istrinya, pernah menyewa billboard di berbagai kota. Tujuannya, untuk mengkampanyekan perdamaian. Jika hari ini kita mengenal sebuah kalimat “War is Over (if you want it)”, ingatlah pada pasangan suami-istri ini.
Pemerintah yang hobi perang dan dikuasai kebencian, sampai kapanpun, akan terusik dengan ide-ide perdamaian. John dan Yoko kemudian dideportasi. Sanksi politik itu tidak bikin kapok. Kampanye anti perang terus mereka suarakan. Pada tahun 1969 pula, John dan Yoko melakukan aksi Bed-In for Peace di hotel Hilton, Amsterdam.
Di Indonesia tahun 2016, dalam ruang dan waktu berbeda, kita menyaksikan sosok Ahmad Dhani.
Ia jadi salah satu seniman yang menceburkan diri dalam dunia politik. Seperti halnya John Lennon, kini negara dan masyarakat begitu memperhatikannya. Saya tak mempermasalahkan keputusannya terjun dalam dunia politik. Siapapun warga negara Indonesia, termasuk juga seniman, berhak untuk itu.
Ahmad Dhani masih juga bersinggungan dengan polemik seputar agama. Bedanya, kini dia tidak hadir sebagai tertuduh. Sekarang, dia justru tampil sebagai seorang yang lantang membela agama. Malahan dalam aksi 4 November lalu, ia dapat giliran orasi di panggung yang sama dengan panggung FPI.
Belakangan, ramai beredar video orasi Ahmad Dhani yang diduga menyinggung simbol negara. Kita belum tahu keasliannya. Cuma, dalam video tersebut, dia menyesalkan sikap Presiden yang tidak menghargai habib dan ulama. Kemudian disusul kata-kata semacam ba *sensor* bi atau an *sensor* jing.
Dalam suasana itu, saya mengingat sesuatu yang kritis sekaligus puitis. Jika John Lennon membayangkan ketiadaan agama, maka Ahmad Dhani menyampaikan dengan cara yang lebih lembut. Lagu “Atas Nama Cinta”, yang dia ciptakan, memuat bait-bait seperti di bawah ini:
… Begitu mudah mulutmu berkata
Atas namakan Tuhan
Demi kepentinganmu
Atas namakan Tuhan
Demi kepentinganmu
… Apapun cara kau tempuh
Untuk dapatkan yang kau mau
Meski harus jual murah
Ayat suci Tuhan
Untuk dapatkan yang kau mau
Meski harus jual murah
Ayat suci Tuhan
Meski terlihat jernih dan tenang, tapi kekuatan pesannya begitu terasa: Jangan bawa nama Tuhan dan Jangan jual murah ayat suci Tuhan!
Terlepas dari polemiknya hari ini, saya yakin, di luar sana masih ada banyak orang yang juga kangen padanya. Mungkin, mereka berharap cinta bisa membawa Dhani kembali. Tapi sudahlah. Ahmad Dhani sudah buat keputusan.
Sekarang, kita hanya bisa benar-benar tahu arti dari kalimat: “Oh, begini susahnya jadi John Lennon!”
Artikel ini pernah dimuat di Mojok
- December 30, 2016
- 0 Comments
Belakangan, para perokok di Indonesia mendapat teror. Bertubi-tubi, informasi tentang naiknya harga rokok tersebar di media massa maupun media sosial. Belum sempat bibir ini menghembuskan asap, kabar tak mengenakan selanjutnya kembali muncul: daftar harga rokok yang baru telah beredar.
Tentu saja, informasi tersebut perlu diragukan. Lewat artikel ini, saya berusaha membedahnya. Hanya saja, saya tidak akan menyinggung persaingan bisnis antara industri farmasi melawan industri rokok. Tidak juga membahas potensi impoten dan membandingkannya dengan perokok yang hobi bikin anak. Bukan pula membandingkan ancaman kematian dengan perokok yang berumur panjang.
Dalam artikel ini, saya hanya akan menunjukkan betapa tidak konsistennya kabar yang beredar tentang naiknya harga rokok. Pihak yang menyebar hoax, entah sadar atau dalam keadaan mabuk, dan apapun motifnya, tidak mempertimbangkan sejumlah faktor ketika mendesain wacana.
Sebagai seorang perokok, saya sadar perlunya menghormati orang lain yang tidak merokok. Selain itu, beberapa kampanye terkait kesehatan perlu mendapat dukungan. Namun, yang saya sesalkan, hal-hal yang bersifat persuasif tidak ditemukan dalam semarak hoax naiknya harga rokok.
Bagi saya, membujuk orang untuk berhenti merokok tidak sama dengan menakut-nakuti mereka. Apalagi dengan kabar yang dipenuhi kebohongan.
Gagal Menafsir Berita
Dari beberapa artikel yang saya baca, besar kemungkinan hoax kenaikan harga rokok itu disebabkan oleh kegagalan menafsir isi berita di Kompas.com yang judulnya “Bagaimana jika Harga Sebungkus Rokok Lebih dari Rp.50.000?”
Dalam berita tersebut, Hasbullah Thabrany, Kepala Pusat Kajian Ekonomi dan Kesehatan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, menyatakan, sejumlah perokok akan berhenti merokok jika harganya dinaikan dua kali lipat.
“Sebanyak 72 persen bilang akan berhenti merokok kalau harga rokok di atas Rp.50.000,” ungkap Hasbullah pada kompas.com dalam acara 3rd Indonesian Health Economics Association (InaHEA) Congress di Yogyakarta.
Di berita itu, tak ada satupun kalimat yang menyatakan harga rokok akan naik. Rekomendasi riset Hasbullah dkk, dimodifiasi oleh artikel-artikel hoax yang kemudian disebar dan menjadi trending topic di jejaring sosial. Rekomendasi riset yang mendukung naiknya harga rokok, dianggap merupakan pernyataan bahwa harga rokok memang telah naik.
Logikanya macam begini, jika saya berharap bisa segera menikah, maka harapan tersebut adalah pernikahan itu sendiri.
Sesat!
Gagal Memahami Tulisan Sendiri
Bagian ini masih berhubungan dengan hasil riset yang dipublikasi kompas.com. Ketika membaca artikel hoax lainnya dengan judul “Harga Rokok Naik Menjadi Rp.50 Ribu Per Bungkus!”, alih-alih merasa terteror saya justru menggelinjang karena geli. Kenapa?
Sebab, meski di judul tersebut penulisnya menyatakan harga rokok telah naik, namun tidak demikian dalam keseluruhan artikel!
Dalam artikel tersebut, penulisnya meminjam mulut anggota DPR RI, mengutip hasil riset Hasbullah dkk, hingga nasib buruh pabrik rokok dan petani tembakau jika harga dinaikkan. Tapi, ya gitu, deh. Tak ada satupun pihak yang menyatakan harga rokok sudah naik.
Jadinya, judul nggak nyambung dengan isinya. Lebih ngehe lagi, di penghujung tulisan ia menutup dengan kalimat, “… Maka, bola liar sekarang ada pada presiden Jokowi. Apakah wacana tersebut akan disetujui? Kita tunggu perkembangannya.”
Logika macam apa ini, setelah lempar hoax, ngajak presiden main bola liar! Lah, terus rokok yang naik jadi Rp.50ribu itu di mana? Zimbabwe, kah?
Ah, Om, waktu nulis panjang-lebar itu sadar atau lagi mabuk lem sih!
Gagal Verifikasi
Jadi, penyebar hoax kenaikan harga rokok, bukan cuma dilakukan oleh individu per individu. Tapi ada juga lembaga berita. Saya tak akan menyebut nama medianya. Anda bisa mengetahui sendiri jika menelusuri berita berjudul “Harga Rokok Naik Bulan Depan, Berikut Daftar Harganya”.
Penulis berita ini sudah benar-benar kebangetan liar imajinasinya. Meski pemerintah dan pengusaha telah membantah wacana kenaikan harga rokok, si penulis malah menebar data yang tak diverifikasi terlebih dahulu. Bukannya meluruskan kesalahan, ia malah mengeluarkan daftar harga rokok yang baru.
Dji Sam Soe Rp.72.500 per bungkus, Sampoerna A Mild Rp.72.500, Djarum Super Rp.67.500, Surya Rp.75.000, U Mild Rp.71.500, Marlboro Rp.71.500, dan lain sebagainya.
Data yang disebar hanyalah fantasi penulis berita belaka. Ilusi. Kalau meminjam istilah Ebiet G Ade, “Bercinta dengan bayang-bayang”. Istilah populernya: onani. Alias masturbasi.
Walau pemerintah dan pengusaha belum menyusun harga rokok, ia telah yakin hitung-hitungannya masuk akal. Barangkali harga rokok memang akan naik segitu. Tapi belum bulan depan. Mungkin, nanti. Ketika tim nasional sepak bola Indonesia sudah bisa ikut Piala Dunia.
Gagal Berbohong
Kita kemudian tahu, bahwa kabar tentang naiknya harga rokok hanya sekadar wacana. Tak akan terjadi pada bulan depan. Tapi, tetap saja ada kelompok yang anti rokok belum patah semangat menyebar kebohongannya.
Seorang penyebar hoax, contohnya, di kolom komentar Facebook-nya, sempat menuliskan bahwa Rp.50.000 adalah harga minimum yang berlaku di bandara. Sejurus kemudian, dengan yakin, ia menambahkan, “Pasti jadi, kalau presiden setuju”.
Huh, sudah bohong dan dibohongi, yakin pula!
Sudahlah, kalian sudah gagal. Bikin sesuatu yang lain aja deh. Karena nggak ngerokok, kalian pasti lebih pinter atur duit. Mending serius nabung aja buat nikah atau beli pesawat!
Gagal Mewujudkan Harapan
Terlepas dari berbagai kegagalan tadi, ada satu kegagalan yang rasanya menyakitkan: gagal menaikkan harga rokok. Kegagalan itu tak kalah sakitnya dengan perasaan Lionel Messi yang gagal membawa Argentina juara Copa America.
Dan sebagaimana halnya sikap ksatria Messi, saya berharap, wahai orang-orang yang memungut rupiah dari menyebar kebohongan dan hoax, cepat-cepatlah pensiun dari kebiasaan kalian. Bukan apa-apa, bahkan membuat kebohongan saja kalian begitu bebal.
artikel ini sebelumnya dimuat di Mojok
- December 30, 2016
- 0 Comments
Belum lama ini, pacar saya nonton film The Conjuring 2. Dari dia, saya dengar, ada setan serem yang mendadak ngetop dan jadi meme di sana-sini. Namanya, Valak. Saya tidak terlampau tahu setan jenis apa dia, dan tidak begitu peduli. Hanya saja, dari sejumlah meme, saya lihat, Valak adalah setan yang pakai baju biarawati. Mukanya putih, kayak orang kebanyakan pake sunblock atau mirip anak TK yang dibedakin emaknya secara brutal. Bibir dan alis matanya warna item. Dengan model begitu, penampilan Valak jadi bener-bener mirip Marilyn Manson pake kerudung.
- June 22, 2016
- 0 Comments
Saya sempat senyum-senyum waktu membaca artikel mojok berjudul "Sisi Lain Orang (Indonesia) Timur yang Jarang Diekspos". Sungguh. Apalagi di bagian Raul Lemos. Bro Muksin Kota punya selera humor untuk menghibur adek-adek yang sedang rapuh. Makanya, saya tidak yakin, bro pernah ditolak cewek.
- June 10, 2016
- 0 Comments
Saya selalu mengenang Jacob tiap kali terjadi pemadaman listrik. Bukan
karena dia bekerja di Perusahaan Listrik Negara (PLN). Bukan, bukan. Ia bukanlah
seorang yang patut dipersalahkan atas pemadaman listrik bergilir di kota Anda.
Jacob adalah seorang kawan yang tinggal di desa Matandoi, Bolaang
Mongondow Selatan. Dari Manado, ibu kota provinsi Sulawesi Utara, desa tersebut
harus ditempuh sekitar 8 jam perjalanan. Sementara, dari kota Kotamobagu
jaraknya kurang lebih 3 jam.
- November 30, 2015
- 0 Comments

.jpg)






