- May 05, 2023
- 0 Comments
Catatan ini dibuat dengan alur melompat-lompat karena masalah daya ingat.
*
Aku kenal Alan di pertengahan 2012. Kami bertemu di tepi pantai yang disembunyikan alang-alang – yang tingginya nyaris 2 meter – dan ditumpuki paku bumi. Kami menyebutnya ‘Olympus’. Aku lupa siapa yang memberi nama itu. Yang jelas, kami (beberapa mahasiswa karatan di Fisip Unsrat) seakan percaya bahwa orang-orang yang berkumpul di sana adalah kumpulan individu-individu dewa.
Belakangan, aku pikir, kepercayaan itu tidak lebih dari sekadar respons atas tumbuhnya semangat indie, kopi dan senja, yang oleh seorang musisi kemudian disebut sebagai taik anjing (wkwkwkwk). Oh, tapi jangan berkecil hati gaes, taik anjing juga punya peran penting terhadap eksitensi anjing itu sendiri. Kalau enggak bisa berak, mana ada anjing yang menjadi teman baik manusia hari ini?
Oke balik lagi ke awal perjumpaan dengan Alan.
Ketika itu, Alan masih berstatus mahasiswa baru dengan kepala plontos, badan ceking dan tidak begitu banyak bicara. Aku tidak begitu ingat bagaimana dia bisa berkumpul bersama kami, atau siapa yang mengajaknya.
Ingatan tentang itu memang hanya sekelebat saja.
... yang lebih panjang dan lekat, kemudian, adalah persahabatan.
*
Tidak berselang lama dari momen perjumpaan di ‘Olympus’...
Di Daseng Panglima, Sekretariat Asosiasi Nelayan Tradisional (Antra) Sulawesi Utara, berlangsung pelatihan paralegal untuk nelayan. Alan yang masih berkepala plontos hadir di situ. Aku kaget (atau justru aku yang mengajaknya, aku lupa), tapi aku tahu dia seorang pemuda dari suatu kampung nelayan.
Di akhir pelatihan, aku memberinya beberapa eksemplar materi diskusi. Aku hanya sedikit berharap – benar-benar hanya sedikit sekali – dia membacanya di rumah, kemudian mendiskusikan dengan teman atau nelayan setempat.
Beberapa hari setelah pelatihan paralegal untuk nelayan, kami berjumpa di kantin kampus. Aku menanyainya tentang materi yang sudah dia bawa pulang: apakah dia baca, diskusikan atau apapun perlakuannya. Kemudian dia menyebutkan suatu jawaban yang sangat di luar dugaanku, “Aku fotokopi materi itu lalu kubagikan pada nelayan-nelayan di kampung,” kata Alan.
Bangsat, pikirku. Saat itu aku tahu, aku bertemu dengan seorang yang energik dan penuh semangat.
Belum berhenti sampai di situ. Beberapa waktu kemudian, Alan bahkan sempat mengorganisir nelayan-nelayan di kampungnya untuk melawan privatisasi laut.
Begini cerita singkatnya. Beberapa kilometer dari kampungnya, terdapat sautu hotel yang membangun pemecah ombak untuk melindungi perahu-perahu pariwisata. Tapi, ketika perahu-perahu nelayan bersembunyi di balik konstruksi bebatuan itu, sekuriti hotel mengusir mereka. Ini yang jadi pangkal masalahnya.
Ketika aku mengajukan pertanyaan soal alasan dia mengorganisir nelayan untuk melawan pengusiran itu, Alan yang kepalanya masih plontos menjawab, “Pemecah ombak itu memang punya mereka. Tapi air dan laut tidak!”
Weeehhh, bravooo!
*
Alan kemudian bergabung di Lembaga Pers Mahasiswa Inovasi. Sebelumnya, dia sudah menjadi anggota Depot Seni Fisip Unsrat. Itu berarti, kami akan lebih sering bertemu dan ngobrol banyak hal.
Aku ingat betul, di Inovasi, Alan adalah salah seorang yang punya progres cepat. Dia tertarik fotografi, menekuninya hingga punya kemampuan mendokumentasikan gambar yang ajaib. Aku mungkin tidak berlebihan di sini. Karena, waktu masih kuliah, dia sempat ditawari jadi fotografer di salah satu kantor berita nasional biro Sulawesi Utara. Tapi dia menolak, karena tidak mau sudut pengambilan gambarnya diatur-atur. Ah, ya sudahlah, ya.
Kemampuan dan minat fotografinya itu lalu membuatku berkali-kali mengajaknya jalan-jalan sambil liputan. Yang paling aku ingat, aku mengajaknya ke Miangas untuk mengikuti selebrasi Manam’mi – penangkapan ikan tradisional masyarakat di pulau itu.
Awalnya Alan ragu untuk ikut, karena momen itu sangat dekat dengan jadwal ujian semester. Tapi aku membujuknya dengan mengatakan, ujian semester selalu ada di tiap semester. Sedangkan kesempatan mengunjungi Miangas, belum tentu terjadi di lain waktu.
Bujukanku berhasil. Dia minta izin ke orangtuanya, aku tidak tahu apa alasannya. Hingga, akhirnya, kami sukses menginjakkan kaki di salah satu pulau perbatasan Indonesia-Filipina.
![]() |
| Nih, kami selfie di puncak Pulau Miangas |
Ingatan lainnya, kami juga pernah bersama-sama mengunjungi Taman Wisata Alam Batuangus dalam momen perayaan “Festival Batuangus”. Waktu itu aku mengajaknya karena butuh transportasi dan joki. Kali ini Alan tidak banyak pikir, dia langsung mengiyakan. Aku menyewa mobilnya, sekaligus menjadikannya sebagai pengemudi.
Bonus dari perjanjian itu, kami punya kesempatan bertamasya dan tinggal di suatu penginapan pribadi yang luas tanahnya lebih besar dari lapangan sepak bola, dengan Selat Lembeh sebagai pemandangan dari beranda rumah. Di sana, kami menghabisi malam dengan minum beberapa kaleng bir bintang, sambil lihat bintang sungguhan dan mendengar debur ombak.
Setelah dari Batuangus, kami kemudian mengunjungi Batuputih. Ini barangkali bukan kunjungan pertama buat Alan. Tapi ketika itu aku bilang ke dia untuk ganti baju dan jangan menggunakan warna merah, karena yaki (monyet hitam sulawesi) akan menjadi agresif dan menganggap orang berbaju merah sebagai lawan yang mesti dihabisi, Alan percaya. Dia cepat-cepat ganti kaos yang sama sekali tidak memiliki warna merah.
Sepulang dari sana, aku jujur padanya, bahwa aku hanya mengarang cerita soal yaki dan kaos merah.
![]() |
| Alan ketipu, kan? wkwkwkwk |
*
Beberapa kali, ketika Alan sedang gundah, dia mengajakku ke rumahnya untuk ngobrol apa saja. Tapi yang paling sering, ketika aku perlu tempat nyaman untuk minum, aku selalu mengajaknya ke rumahnya (mengajaknya ke rumahnya, pilihan kalimat yang memang sangat tepat).
Seiring waktu, terdapat beberapa tempat yang pernah jadi ‘bar darurat’, misalnya pelataran belakang rumah, depan rumah, samping rumah, kamar tidurnya, pagar beton di batas pantai, suatu pantai yang sudah jadi aset pribadi politisi lokal, atau pantai lain yang katanya horor.
Pada suatu ketika, Alan sempat bilang, bahwa ayahnya melarang anak-anak di kampung itu mabuk-mabukan di sekitar rumahnya. Aku kaget, dan ragu meneguk sloki di teritori yang sudah dia sebut. Tapi Alan bilang, peraturan itu dikecualikan untuk teman-teman dari kampus. Oh, ya sudah, aman kalau begitu, pikirku (wkwkwkwk).
Oke, tapi bukan itu poin utamanya.
Tiap kali aku berkunjung ke rumah Alan, keluarganya memang sangat, sangat, sangat ramah. Membuatkan ikan hasil tangkapan dengan bermacam-macam bumbu, yang sangat, sangat, sangat enak. Rumahnya, juga menjadi tempat pelarianku ketika keuangan sedang bergejolak. Pada tahun 2018, contohnya, ketika aku kembali ke Manado, rumah Alan lah yang menjadi tempat transit (tapi dalam kurun nyaris 1 bulan). Alan juga hampir selalu membuatkanku kopi untuk melancarkan adrenalin.
Seturut pengalaman melewati waktu di rumahnya dan bertemu beberapa orang di lingkungannya, aku mendapati kesan bahwa Alan adalah seorang influencer di kampungnya – apalagi menyangkut ayam dan sepakbola. Banyak orang di kampungnya, juga dari kampung-kampung sekitar, manjadikannya semacam konsultan untuk dua topik tersebut.
Terakhir kami bertemu, dia sedang bersemangat mengajak pemuda-pemuda di sana untuk diskusi dan baca buku. Nyaris tiap malam mereka kumpul di kamarnya dan membicarakan banyak topik. Suara Alan selalu menggebu-gebu ketika menceritakan aktivitas yang disebut terakhir (dua kegiatan yang disebut awal juga semangat sih sebenarnya).
Aku rasa, Alan memang selalu menggebu pada hal-hal yang dia suka.
*
Aku kembali melewati beberapa hari di rumah Alan ketika dia sedang dalam proses merampungkan skripsi. Waktu itu, Alan bilang tidak mau bikin skripsi yang biasa-biasa. Jadi, dengan berbotol-botol captikus (dan wine di salah satu momen), dia ingin mendengar pendapat dari orang mabuk.
Lalu dia minta pendapat tentang topik yang akan diteliti, yakni soal perkawinan antara suku Bajo dan Minahasa. Topik yang tidak jauh-jauh dari kehidupannya: nelayan dan punya kedekatan kultur dengan suku Bajo. Sejak penyusunan proposal hingga riset skripsi, aku lihat dia betul-betul serius. Bahkan, ketika aku menawarkan pertanyaan tambahan, dia segera menemui sejumlah informan untuk memperoleh keterangan.
Kami memang diskusi cukup panjang soal topik ini, aku bahkan dapat banyak pengetahuan dari penelitiannya. Hingga, pada satu waktu, aku merasa sudah cukup berdiskusi dengannya. Ya, karena Alan sudah bisa menjelaskan banyak hal tentang interaksi suku Bajo dengan Minahasa, baik dalam aspek sosial, budaya dan perkawinan antara kedua suku tersebut.
Hasilnya, dia ceritakan di suatu kafe yang sudah dipenuhi teman-teman kampus. Dengan kalimat pendek dan senyum yang puas, Alan bilang “Kata dosen, ini skripsi terbaik, bro!”
Aku senang mendengarnya. Kerja kerasnya mendapat penilaian yang pantas.
Hasil penelitiannya kemudian membuatnya dekat dengan salah seorang dosen, yang secara tidak formal menjadikannya semacam asisten.
Waktu itu, Alan sempat kepikiran melanjutkan kuliah dan berharap menjadi dosen. Tapi, seperti halnya fotografi (juga vespa dan gimbal, yang tidak diceritakan di sini), visi tersebut agaknya tidak berlanjut – atau mungkin hanya tertunda.
*
Ketika aku sudah berada di Jakarta, Alan memberi kabar bahwa dia akan menikah. Dia memintaku untuk bikin puisi yang akan dituliskan dalam undangan. Aku menyanggupinya. Aku tidak akan menceritakan seperti apa isi puisinya – silakan baca sendiri di undangannya (wkwkwkwkwk).
Aku bayangkan, di waktu-waktu belakangan, ia merasakan grogi, cemas atau gugup menjelang hari pernikahan. Bagaimana tidak cemas, sodara-sodari, lokasi resepsi pernikahannya dibikin di lapangan sepakbola. 11-12 dengan lokasi konser Raisa atau BlackPink, lah! (hahahahaha)
Tapi rasa cemas memikirkan lauk konsumsi, piring dan kursi untuk tamu undangan tentu saja persoalan sepele. Alan akan menikah, dan sedang jatuh cinta. Tidak ada yang bisa meredam energi dan semangatnya, saat ini!
*
Selamat menikah Alan dan Tasya. Selamat ena-ena!
- March 04, 2023
- 0 Comments
- July 29, 2022
- 0 Comments
- July 29, 2022
- 0 Comments
- July 29, 2022
- 0 Comments
Aku bangun pagi setelah sekian lama. Mungkin bukan sesuatu yang luar biasa. Tapi sedikit selebrasi agaknya layak untuk kerja keras ini. Mencemari blog pribadi bisa jadi salah satu opsi – aku juga sudah lama tidak melakukannya. Jika tulisan ini rampung, maka aku harus menyediakan satu lagi hadiah untuk diri sendiri.
- December 24, 2021
- 0 Comments
Surabaya
bukanlah kota yang asing buat saya. Di kota ini, saya lahir dan beranjak
remaja. Ia adalah asal-mula segala sesuatu tentang saya: konstruksi berpikir,
cinta dan penolakan, persahabatan dan perlawanan, serta perkelahian dan
perdamaian. Bisa dibilang, Surabaya adalah sebagian dari diri saya hari ini.
Dari berbagai kekurangan, juga ketimpangan-ketimpangan sosial-ekonominya, saya
bisa mengingat banyak kebaikan di kota ini.
- May 14, 2018
- 0 Comments
Saya kira, pembuat status atau pesan berjudul “Pidato Presiden Donald Trump dan Dibalik Angka 7-12-17[i]” adalah orang goblok, tapi percaya diri. Status berisi terjemahaan pidato itu, belakangan, disebar ke media sosial seperti whatsapp, facebook atau lain sebagainya. Gobloknya lagi, yang nyebarin terbilang lumayan. Lumayan goblok juga, maksud saya.
- December 11, 2017
- 0 Comments
Ada sebuah klaim yang sering ditujukan pada
sepasang kekasih yang sedang jatuh cinta: “rasanya dunia hanya punya kita
berdua,” dengan tambahan, “yang lain cuma ngontrak!”
- July 17, 2017
- 0 Comments
Aku bangun pukul 11.30 dengan sedikit
terkejut, karena pukul 17.00 pesawat menuju Surabaya akan lepas landas. Sehingga,
paling enggak, aku harus sudah berada di bandara pukul 16.00. Tapi, ya
sudahlah. Bangun lebih siang sudah jadi konsekuensi tidur terlalu pagi.
Setidaknya, ini masih lebih baik. Masih ada sedikit kesempatan mengumpulkan
kesadaran.
Menjelang pukul 12.00, aku sudah selesai
mandi, mengemasi barang bawaan yang tidak begitu banyak, lalu memesan transportasi
online. Sialnya, beberapa pesanan harus dibatalkan. Entah aku yang melakukannya
karena menunggu terlalu lama. Atau dibatalkan oleh si pengemudi, mungkin karena
jarak yang terlampau jauh. Tak ada bedanya. Jadi, aku baru benar-benar
meninggalkan Pamulang sekitar pukul 13.00.
Pukul 14.15, aku tiba di Serpong untuk
menggunakan jasa bis menuju bandara. Seorang petugas menanyakan waktu
keberangkatan pesawat. Aku menjawabnya. Dia lalu menyarankan untuk kembali
menggunakan transportasi online. Sebab, bis berikutnya baru berangkat kira-kira
pukul 15.00.
“Kalau enggak macet, mungkin waktu tempuh
sekitar 1 jam 30 menit. Tapi, saya enggak bisa pastikan. Lebih aman berangkat
mulai dari sekarang,” kata dia.
Aku sepakat dan kembali memesan taksi
online. Konsekuensinya, uang yang harus dibayarkan mencapai 3 kali lipat,
karena ditambah dengan ongkos tol. Tak masalah. Paling tidak, aku bisa tiba
lebih cepat.
***
Pukul 15.45, aku tiba di bandara. Lalu
langsung menuju pintu penjagaan, menunjukkan e-ticket, melewati mesin
pendeteksi, menyerahkan ponsel dan KTP untuk check-in.
Setelah mengamatinya, petugas mengembalikan KTP
dan ponsel. Ia mengetikkan sesuatu, yang entah apa, aku juga tidak peduli. Tak
lama kemudian, ia kembali meminta ponselku. Aku menyerahkannya.
“Pesawatnya di bandara Halim, pak,” jawabnya
sambil menunjukkan nama bandara yang tertera di e-ticket.
Mendengar itu, aku langsung menutup wajah
dengan kedua telapak tanganku – seperti ketika Roberto Baggio gagal
mengeksekusi tendangan penalti di final piala dunia 1994 silam. Aku tahu, hidup
masih akan terus berlanjut meski pada kenyataannya aku salah bandara. Tapi,
tetap saja ini bukan hal menyenangkan.
Dengan agak bingung, aku bertanya soal
alternatif yang bisa diperoleh. Petugas menyarankan untuk mendatangi customer
service di bagian depan. Aku mengikuti petunjuknya.
Di tempat yang itu, aku menjelaskan
persoalan. Petugas customer service mengatakan tak ada kursi tersisa di pesawat
lain. “Pilihannya refund atau kejar pesawat di bandara Halim,” demikian ia
memberi opsi.
Aku berjalan keluar ruangan, sesekali bicara
sendiri. “Bangsat! Kenapa enggak baca dulu nama bandaranya,” keluhku yang dalam
sekejap juga kujawab, “Siapa peduli. Setahuku bandara ya Soekarno-Hatta! Aku
bahkan baru ingat, bandara ini terletak di Tangerang, bukan Jakarta!”
***
Aku menatap jam di ponsel, kemudian memantau
sekeliling. Ada beberapa taksi bandara yang mencari penumpang. Aku langsung
ngobrol dengan salah seorang di antaranya dan menanyakan kemungkinan tiba sebelum
pukul 17.00 di bandara Halim Perdana Kusuma. Dia bilang, mungkin saja, lalu menyebut
ongkos. Aku menawar. Dia menolak.
“Kalau enggak pake argo, harganya segitu
aja, pak. Nanti tol saya bayar,” demikian supir itu menawarkan.
Aku anggap ini semacam pertaruhan. Bukan
antara aku dengan supir taksi. Tapi, antara keberhasilan dan kegagalan, seperti
yang dikatakan Sjahrir, “Kita tidak akan pernah tahu menang atau kalah, kalau
tidak pernah bertaruh”.
Aku sepakat, meski itu jadi sebuah taruhan
yang sulit. Brengseknya, aku lupa, bahwa
aku jarang sekali menang judi!
***
Taksi meliuk, seperti dalam film. Supir
mengaku jarang berkendara dengan cepat. Aku juga bilang aku tidak suka mobil
ngebut, tapi hari ini lain ceritanya. Bedanya, aku perlu cepat supaya selamat,
sedangkan si supir tidak punya beban apa-apa.
Sekitar 5 kilometer, supir menyombongkan
kemampuannya dan menyebut diri sebagai “pensiunan yang masih gesit”. Dia
percaya, aku bisa naik pesawat dan tiba di Surabaya beberapa jam kemudian.
Namun, keyakinan dirinya perlahan-lahan
terkikis. Jalanan mulai padat. Supir berulang kali menanyakan rute terbaik. Aku
tidak tahu, tentu saja. Cara terbaik adalah membuka Google Maps.
Aku terkejut ketika melihat semua jalur
dipenuhi warna merah. Macet di mana-mana. Berdasarkan perkiraan Google Maps,
jarak tempuh kedua bandara sekitar 44 km dengan waktu tempuh 90 hingga 140
menit.
“Setan!” makiku dalam hati.
Sepanjang perjalanan, aku berusaha membuat
rasionalisasi sendiri. Misalnya, tiba sedikit lambat, namun pesawat delay
karena mendung atau hujan. Atau, membayangkan Google Maps salah membikin prediksi.
Bahwa kemacetan tidak sepanjang garis merah di peta atau bahwa taksi punya
kesempatan menempuh 60 km/jam.
Ya, saat itu, pikiranku membayangkan jalan-jalan
sunyi di Sulawesi Utara: sebuah terusan antara Bolaang Mongondow-Gorontalo, atau
tikungan-tikungan sunyi di Bolaang Mongondow Selatan. Bahwa 40 km adalah kurang
dari 60 menit.
“Di Sulawesi Utara enggak macet pak?” tanya
supir, setelah tahu aku lama tinggal di provinsi itu.
“Macet sih macet. Tapi jarang, dan enggak
sepanjang dan sepadat di sini. Macet pun hanya di pusat kota Manado. Di luar
itu, relatif lancar,” kataku.
“Sedikit kendaraan bermotor ya di sana?”
“Jumlah kendaraan bermotor di sini lebih
banyak dari jumlah penduduk Sulawesi Utara,” jawabku agak jengkel.
Supir tertawa singkat. Namun, ia sadar, tak
bisa lagi menyombongkan diri sebagai “pensiunan yang masih gesit”.
***
Selama berjam-jam terjebak macet, aku mulai
putus asa. Kini, jam menunjukkan pukul 17.30. Aku memintanya menyudahi
perjuangan. Waktu tempuh menuju bandara Halim, berdasarkan perkiraan Google
Maps, masih 1 jam lagi. Mendung sudah hilang di langit Jakarta. Kemungkinan pesawat
delay sangatlah kecil.
Mengacu teori kemungkinan, dalam kasus ini,
aku yakin kemungkinannya yang paling masuk akal adalah pesawat sudah berangkat.
Jika tidak, aku juga yakin, itu bukanlah mujizat, tapi kerugian besar bagi
penyedia jasa penerbangan. Banyak penumpang akan protes, dan mungkin saja nama
baik mereka rusak karena publikasi media massa.
Aku kemudian, mengambil opsi kedua: refund. Setelah
mengikuti beberapa petunjuk dari artikel yang muncul di google, aku mengajukan
permohonan refund. Tak lama kemudian, masuk email yang menyatakan permohonan
refund tidak bisa dikabulkan.
Bangke!
***
Pukul 18.00. kami sudah keluar tol, tapi aku
tidak tahu lokasi tepatnya. Yang kutahu hanyalah macet. “Enggak ada bedanya tol
sama jalan biasa. Di sini, tol bukan jalan bebas hambatan, tapi jalan bebas
lampu merah,” kata supir.
Aku sudah muak dengan kemacetan dan topik-topik
soal itu. Jadi, kualihkan pembicaraan ke hal-hal lain. Supir bercerita, dulu,
dia adalah seorang pekerja di perusahaan swasta. Ketika pensiun, dia coba
membangun usaha sendiri. Membeli mobil bekas, memperbaiki lalu kembali
menjualnya.
“Tapi, baru sekitar 5 kali jalan, saya
ditipu teman sendiri. Semua uang dibawa lari ke luar pulau. Sampai sekarang dia
enggak balik-balik.”
Aku prihatin mendengarnya, tapi tak punya
solusi apa-apa selain bertanya, “tidak lapor polisi pak?”
“Enggak. Buat apa juga. Uangnya juga enggak
bakal balik. Malah saya bisa lebih banyak ngeluarin duit.”
Setelah itu, dia memutuskan bekerja sebagai
pengemudi taksi bandara. Dari pekerjaan itu, supir mendapat sekian persen dari pendapatan
hariannya. “Saya tidak ngejar setoran, pak. Sudah tua, enggak kuat,” kata dia. “Jadi,
kalau sehari dapat Rp.200ribu, ya, harus dipotong dengan uang bensin. Sisanya,
dibagi dengan perusahaan.”
Kenyataan itu, menurut supir, bikin dia dan
beberapa rekannya seringkali tidak pulang rumah dengan memilih tidur di
bandara. Sebab, pulang rumah hanya bikin pengeluaran membengkak dan potensi
mendapat penumpang di bandara semakin kecil.
Kesulitan semakin bertambah sejak munculnya
transportasi online. Banyak pengguna jasa berpaling, sehingga pendapatan ikut menurun.
Menurutnya, persaingan antara taksi konvensional dengan taksi online tidaklah
seimbang. Bukan soal penggunaan aplikasi online, tapi lebih soal hal-hal administratif
dan pembiayaan untuk itu.
“Mereka (taksi online) enak, enggak banyak
ngurus izin. Nah, kita?” kata supir sambil menyebut sejumlah persyaratan yang
harus dipenuhi perusahaan taksi. “Tapi, saya tahu, penumpang tidak peduli
dengan itu. Penumpang maunya yang mudah dan murah.”
Aku tidak memberi tanggapan. Karena, aku
tahu, supir-supir taksi konvensional tidak punya kapasitas untuk menentukan kemudahan
dan biaya yang lebih berpihak pada penumpang. Karena, seperti aku, supir-supir
itu hanyalah pekerja.
***
Jam di ponsel pintar, yang baterainya bodoh,
menunjukkan pukul 19.00. Kami akhirnya keluar dari kemacetan. Supir bertanya
stasiun kereta yang dituju dan aku menyarankan yang terdekat. Dia memberi opsi,
lalu aku minta diturunkan di stasiun Tanahabang.
Kata supir, stasiun tersebut tidak begitu
jauh. Paling 15 menit sudah sampai di sana. Dia membuka jendela, lalu mempersilakanku
untuk merokok. Aku menawarinya. Awalnya, supir agak ragu menerima, karena rokok
sisa 2 batang. Tapi, aku bilang, aku akan beli lagi setelah turun dari taksi. Dia
lalu mengambil sebatang, dan kami merokok bersama.
“Setelah jembatan ini,” supir menyebut nama
yang tidak aku ingat. “Kita turun sedikit, lurus sekitar 3 kilometer, belok
kanan, lalu tiba di stasiun Tanahabang.”
“Ini sudah enak, pak,” supir menerangkan
sambil merokok. “Orang-orang pulang kerja mengarah ke sini. Jadi, jalan kita
lewat nanti tidak macet.”
Kami melintasi jembatan yang cukup lebar. Di
kanan-kirinya gedung-gedung tinggi meninju langit. Pemerintah menyebut
pembangunan macam begini sebagai kesuksesan. Tapi, mereka seringkali
menutup-nutupi fakta, bahwa masih ada orang yang per harinya memperoleh
pendapatan di bawah Rp.50ribu saja.
Aku dan supir menghisap rokok sekaligus polusi
ibukota. Sekitar 2 kilometer jalanan nampak longgar. Taksi bandara kembali
ngebut. Aku kira, supir sudah cukup hafal dengan jalan di Jakarta. Dia membenarkannya.
Sebab, sudah sejak remaja dia mengendarai mobil. “Ya, kalau titik-titik
macetnya saya sudah hafal, pak,” terangnya.
Setelah mengatakan itu, ia nyaris menelan
rokok yang dihisapnya, kemudian batuk. Di hadapan kami, mobil tumpuk-menumpuk. Kami
kembali menyaksikan kemacetan panjang. Pengendara sepeda motor meliuk-liuk,
memanfaatkan ruang-ruang kosong.
Kata supir, pemandangan tersebut tidak biasa.
Ia membuang rokoknya ke luar jendela. Seorang pengemudi di hadapan kami keluar
dari mobilnya, lalu membuang pandangan jauh kedepan. “Lihat tuh, orang sampai
keluar. Soalnya, tempat ini jarang macet. Ada yang aneh,” kata supir membela
asumsi sebelumnya.
Kalau tidak salah, kami terjebak macet selama
satu jam. Durasi itu, jelas melebihi perkiraan supir, karena sebelumnya ia
hanya bilang “turun sedikit, lurus sekitar 3 kilometer, belok kanan, lalu tiba di
stasiun Tanahabang.”
Kali ini, aku tidak begitu kecewa. Sebab,
sudah beberapa kali supir mengeluarkan prediksi yang tidak tepat – atau justru menunjukkan
hasil yang sebaliknya. Bagaimanapun ini bukan kesalahannya. Supir taksi tak
punya kuasa untuk menentukan macet-tidaknya Jakarta.
Akhirnya, kami hanya mampu menyesuaikan
ritme, jalan perlahan-lahan, keluar dari kemacetan, belok kanan lalu tiba sekitar
20 meter dari stasiun kereta. Supir, kemudian, menghentikan taksi di dekat
lampu merah dan tepat di hadapan rambu dilarang berhenti.
***
Supir menyebut tarif sesuai argo ditambah biaya
tol. Aku terkejut dan protes. Sebab, ketika di bandara, kami menyepakati biaya tanpa
argo dan ia akan menanggung biaya tol. Supir menyatakan bahwa ia telah mengoreksi
kesepakatan itu, dan menyatakan permintaan maaf.
Aku kembali merasa kesal, tapi tetap
mengeluarkan duit dari dompet sesuai permintaannya. Aku tahu, dia akan
menanggung kerugian jika menerima uang tidak sesuai argo.
Bagaimanapun, aku pikir, tanggungan hidupku
masih lebih ringan. Katakanlah, aku merugi beberapa puluh ribu, tapi supir
tidak benar-benar memperoleh kelebihan dari kerugianku. Karena, dia punya beberapa
mulut yang harus diberi makan.
“Maaf, ya, pak. Misi kita gagal semua,” kata
supir sambil tersenyum dan agak merasa malu.
Aku menerima permintaan maaf itu, lalu
keluar dari taksi sebagai seorang yang “sudah jatuh, tertimpa tangga jalan pula”.
Tapi sudahlah. Aku kira, jika beberapa hal
berjalan di luar kendali, hidup akan memberi kejutan. Dan, kejutan itu bisa
jadi keberuntungan atau kesialan. Hari ini, aku hanya sedang sial saja.
Aku menatap ponsel, jam menunjukkan pukul
20.10. Aku perkirakan, akan tiba di Pamulang paling cepat pukul 22.30. Aku
menuju stasiun kereta dan mengetahui, itu adalah stasiun Karet.
“Bangsat, ditipu lagi!!!”
*
Sumber gambar klik di sini
- June 20, 2017
- 0 Comments
PERSONIL The Sotset berjalan sempoyongan. Beberapa jam sebelum dimulainya gig, mereka terlampau semangat meneguk
captikus – minuman para dewa itu. Alkohol bereaksi, kepala berguncang dan darah
mendidih.
- May 08, 2017
- 0 Comments
L mengakhiri hidup di usia remaja. Ada sejumlah peristiwa yang mendahului
keputusan tersebut. Pertama, L menjadi korban perkosaan sekuriti kampung. Kedua,
kejadian tersebut diketahui seorang wartawan dari tabloid lokal, yang begitu berambisi
mewawancarai korban.
- April 16, 2017
- 0 Comments
- March 26, 2017
- 0 Comments
Pergi tanpa pamit, di 5 Januari 2017.
Saya baru melepas kepergian Papa --- orang yang paling berpengaruh dalam hidup saya. Perpisahan tanpa pamit ini, begitu buruk dan membuat saya sangat terpukul. Di mata saya, ia jadi citra ideal kepala keluarga. Papa tak pernah menyerah bahkan dalam situasi yang paling sulit. Wataknya keras, tapi bertanggung-jawab.
Ketika tenaganya masih kuat, dia sering meneriaki anak-anaknya atau keponakannya yang kedapatan mabuk. Tetapi, dia juga tak sungkan menggendong seorang yang menderita sakit akibat konsumsi obat berlebih. Bagi Papa, tanggung-jawab haruslah merupakan tindakan kemanusiaan. Seseorang boleh marah dan naik darah, tapi tak boleh pongah.
Ketika krisis moneter menimpa Indonesia, ia ikut terkena dampak PHK. Perusahaan tempatnya bekerja, gulung tikar. Sementara, semua anak masih sekolah. Tapi, depresi ekonomi itu, tak serta-merta membuatnya patah. Beberapa cara dilakukannya untuk membiayai kebutuhan sekolah. Ia pernah mondar-mandir Jakarta-Surabaya untuk mengurus surat-surat mobil yang dibutuhkan klien. Ia juga ikut membantu Mama membuat bakpao untuk dijual ke warung-warung terdekat.
"Papa tidak punya warisan buat kamu. Papa cuma bisa berusaha kasih sekolah sebaik-baiknya," kata dia ketika saya hendak masuk jenjang pendidikan tinggi, 2007 silam.
Saya ingat betul, di bandara Juanda kala itu, matanya nampak berkaca-kaca melepas kepergian saya. Dia tahu, anak bungsunya begitu jauh dari konsep maupun praktik-praktik kemandirian. Bagi orang yang terbiasa melindungi saya, perpisahaan waktu itu adalah keputusan yang cukup berat.
Dalam kurun 2 tahun belakangan, terjadi perdebatan repetitif di antara kami. Kalau bukan menyoal kerja, pernikahan, ya, urusan spiritual. Tiga poin tadi nyaris selalu dia sampaikan ketika menghubungi saya lewat telepon ataupun ketika bertemu langsung di Manado.
Poin pertama agaknya bisa diterima. Tiap bertemu, dia seakan cemas melihat tampilan fisik saya. Badan kurus dan rambut gondrong membuat saya terlihat mirip orang-orangan sawah. Padahal, saya sering bilang pada Papa, bahwa saya bisa mengurus diri sendiri: makan cukup, minum cukup. Meski demikian, ia tak pernah bosan-bosan mendesak saya untuk bekerja di Jakarta, Surabaya atau tinggal bersamanya.
Alasan kedua, soal pernikahan, membuat saya agak bingung. Bukan apa-apa, 40 tahun lalu ketika dia menikahi Mama, usianya sudah 35 tahun. Itu berarti, setidaknya, ia baru bisa protes sekitar 7 sampai 8 tahun lagi. Maka, tuntutan ini, paling sering saya abaikan atau sekedar menjawab sekenanya. "Belum mikir sampai situ. Papa aja nikah udah tua," jawab saya yang membuatnya tertawa lepas.
Alasan ketiga, soal ibadah, lebih dikarenakan disiplin spiritualnya. Sejak SD, saya sering mendapati Papa dan Mama bangun pagi-pagi sekali untuk berdoa dan bernyanyi. Aktifitas itu terus berlanjut hingga menjelang akhir hidupnya. Dia selalu mendoakan anak-anaknya agar mendapat perlindungan dan diberkati Tuhan.
Suatu kali, Papa sempat cemas dengan aktifitas kerohanian saya. Dia lalu melempar sebuah pertanyaan yang kemudian jadi diskusi serius.
"Kau masih masuk gereja atau ndak?"
"Males."
"Lho, kenapa? Kau ini masih percaya Tuhan atau tidak?"
"Masih percaya Tuhan, Pa. Tapi, pejabat-pejabat gereja terlalu sibuk urus uang dan politik."
"Kau jangan ikut yang salah."
"Nah, kalau gitu buat apa aku dengar mereka?"
"Umat Kristen dituntut untuk bersekutu!"
Di kemudian hari, saya tak lagi memperpanjang diskusi dengan topik serupa. Memberi jawaban yang menyenangkan tentu akan menenangkannya.
"Kau ada masuk gereja tadi?"
"Ada, Pa."
"Gereja di mana?"
"Kampus."
Tapi belakangan, kritik yang sering saya sampaikan padanya, mendapat tempat belum lama ini. Komisi Urusan Kematian (KUK) gereja, enggan memfasilitasi pemakamannya karena masalah tunggakan iuran. Konsekuensi dari itu, ambulance dan salib untuk kubur harus dipesan sendiri oleh keluarga.
Padahal, tindakan itu justru semakin menjauhkan gereja dari ajaran Yesus. Khususnya perintah agar umat-Nya mau mengasihi sesama manusia seperti mengasihi diri sendiri. Saya jadi kasihan pada pengurus gereja model begini. Sebab, mengabaikan pelayanan karena permasalahan iuran, membuat KUK gereja tak berbeda dengan BPJS. Anda bisa mendapat pelayanan hanya jika telah melunasi iuran.
Bagi saya, sistem administrasi yang dibuat pengurus gereja, harusnya bertujuan untuk memudahkan pelayanan. Bukan sebaliknya: pelayanan gereja ditentukan oleh syarat-syarat administratif. Titik fokus pada pelayanan kemanusiaan, harusnya bisa menjadi pembeda gereja dari organisasi lainnya. Tapi, saya harus bisa menerima kenyataan. Pengurus KUK, sudah menunjukkan sikapnya. Ada uang, Anda di sayang. Tak ada uang, Anda ditendang. Jika Yesus mengajarkan kasih pada sesama manusia, maka Anda bisa lihat kepada siapa kasih pengurus KUK diarahkan.
Saya ingin sekali mendiskusikan permasalahan ini dengan Papa. Saya ingin tahu, pandangannya tentang sistem yang bobrok macam begitu. Tapi tak ada jawaban yang bisa saya dengar. Papa sudah tak ada. Beberapa hari lalu Dokter menyatakan dia telah meninggal dunia. Meninggalkan orang-orang yang mencintainya. Selama-lamanya.
Saya belum lupa keinginan yang disampaikannya di telepon, semalam sebelum meninggal. Waktu itu, Papa terdengar begitu emosional. Ia tidak ingin saya jauh-jauh darinya. Barangkali, Papa masih memandang saya sebagai bungsu yang tak punya kemampuan selain main playstation.
"Besok kau tinggal sama Papa dan Mama aja."
"Nggak mau, Pa. Aku tinggal di kos aja."
"Di sini aja, supaya makanmu bisa diatur."
"Nggak ah, Pa, di sana kemana-mana jauh."
"Lho, kan banyak angkot di sini. Apanya yang jauh?"
"Memang ada angkot, tapi kemana-mana tetap jauh."
"Tinggal sini saja. Kau tidak sayang Papa, ya?"
"Sayang, Pa. Besok aku kesana, deh."
"Betul, ya. Besok Papa tunggu kau."
"Iya, besok aku kesana."
Keesokan harinya, saya menemuinya di rumah sakit. Terbujur dengan infus dan alat bantu oksigen. Papa sudah tak sadar. Saya beberapa kali membisikkan kata di telinganya: "Pa, ini Themmy, Pa."
Dia merespon dengan suara, tapi tak bicara. Saya harap, dia segera meraih kembali kesadarannya. Sayang, tak ada yang berubah. Berjam-jam kemudian, organ tubuhnya menyerah. Jantungnya melemah. Otaknya tak lagi bekerja. Papa meninggal. Saya menangis, Mama apalagi. Sore itu, saya berbisik sesenggukan, "Maaf, Pa. Aku sayang, Papa."
Papa sudah tak ada. Ia meninggalkan begitu banyak kebaikan. Bagi saya, kepergiannya menjadi kehilangan terbesar sepanjang umur saya. Hingga hari kematiannya, satu hal yang bisa saya simpulkan: Papa terus berusaha menjadi pelindung saya.
Tugas itu sudah selesai. Saya akan terus merindukannya, membanggakannya dan menceritakan kebaikan-kebaikannya.
Selamat jalan, Papa!
***
Dalam kurun beberapa waktu, saya kira saya hanya bermimpi. Ternyata tidak. Kepergian Papa nyaris membuat saya jatuh. Tapi, teman-teman saya menjadi penopang yang hebat. Kepada mereka, saya ucapkan banyak terima kasih. Saya tak pernah bisa membalas kebaikan itu.
**
gambar diunduh dari: rexsl
- January 13, 2017
- 1 Comments
Saya membunuh malam Natal di Daseng Panglima, yang berada tepat di pesisir pantai kota Manado. Ada captikus, nyanyian dan ledakan kembang api di langit malam.
Daseng Panglima merupakan sekretariat Asosiasi Nelayan Tradisional (Antra) Sulawesi Utara. Ia menjadi simbol penolakan reklamasi teluk Manado. Di sebelah kanan dan kirinya, timbunan reklamasi telah menghadirkan pusat-pusat perbelanjaan. Jadi, Daseng membatasi gerak timbunan batu. Ia merupakan ruang simbolik nelayan yang menolak disingkirkan.
“Kalian timbun, kami hajar.” Adalah istilah yang saya hafal betul.
Perkenalan dengan resource centre nelayan di Sulawesi Utara ini, dimulai sejak saya merampungkan studi strata satu di jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Sam Ratulangi, sekitar 2011-2012 silam.
Saat itu, saya meneliti soal komunikasi nelayan dalam menolak reklamasi di kelurahan Sario Tumpaan.
Sebelum riset skripsi, saya sempat ikut aksi okupasi lahan reklamasi. Ketika itu, kami berusaha menghalangi upaya eskavator untuk menggelindingkan batu ke laut. Tapi, tak lama kemudian, polisi dan sekuriti bersatu. Jumlah kami kalah banyak. Mereka lalu menggiring peserta okupasi ke Polres Manado.
Tapi, menyerah tak pernah menyerah. Kami pikir, solidaritas adalah kekuatan masyarakat yang termarjinalkan.
“Kalau investor berkoalisi dengan aparatus negara, harusnya gerakan masyarakat sipil tak boleh terpecah. Kita harus bersatu!”
Lewat kejadian itu, saya mulai dekat dengan nelayan tradisional dan masyarakat di Sario Tumpaan. Kami menghabiskan waktu dengan diskusi, (minum captikus dengan anak-anak muda), juga berkonflik melawan investor penimbun laut.
Banyak cerita di sini. Selain melawan reklamasi, ada pula kisah soal kedewasaan melihat perbedaan agama. Misalnya, saat banyak penghuni Daseng – sebagian besar beragama Islam – menjalankan puasa, mereka memberi makan di siang hari. Saya merasa tidak enak. Lalu, dengan malu-malu, memutuskan untuk makan di ujung pantai, dan tentu saja diam-diam.
Beberapa waktu kemudian, seorang teman, merokok di depan orang-orang yang sedang berpuasa. Saya menegur. Mereka – penghuni Daseng yang berpuasa – marah, lalu menegur.
“Biasa aja, deh, Them. Nggak pa-pa, kok!”
Saya diam, tak habis pikir. Mereka puasa, memberi makan (pada yang tidak puasa) dan santai ketika ‘cobaan’ hadir di depan mata. Sementara, di tempat lain, televisi menyiarkan razia warung makan yang buka di bulan puasa.
Malam ini, (24/12/2016), kami minum-minum. Ngobrol banyak hal. Tepat jam 00.00, langit mulai warna-warni. Kembang api jadi semacam polusi yang dianggap biasa. Sementara, teman-teman di Daseng menyalami saya: memberi ucapan selamat Natal.
“Besok bawa alkitab,” kata Didi.
“Aku nggak punya, bro.”
“Nanti aku cariin deh,” tambahnya.
Ah, semakin edan saja!
Ketika puasa, mereka memberi makan. Saat Natal, ucapkan selamat dan memfasilitasi open house. Agama mereka apa, sih?!
Selain cerita-cerita tadi, saya juga dapat informasi, sebagai peringatan Natal, Daseng akan bikin open house. Saya, dan dua teman yang di KTP beragama Kristen, ditugaskan untuk menyambut tamu.
“What the fuck!”
Saya terkejut, tentu saja. Meski sudah sejak masa riset skripsi informasi itu sudah lekat di telinga, tapi ‘ujian’ sebenarnya akan segera datang.
Jelas saja, saya tak tahu guna alkitab yang dimaksud. Sebab, sudah lama – jangan ‘kan membaca – melihat dan menyentuhnya saja tidak pernah.
Lalu, saya teringat, ungkapan Rignolda Djamaluddin, ketua Antra Sulut, “Daseng adalah tempat yang merepresentasikan demokrasi. Segala macam keputusan disepakati bersama. Agama tak pernah jadi soal di sini. Setiap orang yang berusaha mengusik ketentraman, akan dilawan.”
“Pembangunan, apa pun jenisnya, tak boleh menggusur hak hidup nelayan tradisional,” kata Rignolda.
Ah, sekali lagi, fuck!
Ketika banyak orang mempersoalkan simbol-simbol absurd, mereka justru mempraktikkan demokrasi. Saya kira, inilah kemanusiaan itu. Tiap-tiap orang, harusnya berkawan dengan manusia, bukan atribut.
Ya, kita memang berkawan dengan manusia, yang ditindas dan melawan. Bukan simbol-simbol yang diam, meski diperkosa.
Artikel ini sebelumnya dimuat di DeGorontalo
- December 30, 2016
- 0 Comments
“Oh, begini susahnya jadi John Lennon!”
Kabarnya, kalimat itu dikatakan pada tahun 2005, ketika Ahmad Dhani terlibat seteru dengan Front Pembela Islam (FPI). Saat itu, mereka berpolemik soal penggunaan simbol agama dalam album Laskar Cinta. Pendek cerita, kedua pihak sepakat menyudahi perkara tersebut. Dewa bersedia merevisi logo dan mencetak ulang sampul albumnya.
Saya tak ingin mengungkitnya terlampau jauh. Toh, Ahmad Dhani sekarang sudah mau berbagi panggung dengan FPI. Hanya saja ada sedikit rasa penasaran, khususnya tentang hal-hal yang bikin Ahmad Dhani memikirkan posisi John Lennon.
Kedua musisi ini memang memiliki kemiripan. Soal popularitas, jangan ditanya. Penghargaan selalu memburu mereka, baik secara personal maupun grup band masing-masing.
Jika majalah Rolling Stone, dalam “100 Greatest Artists”, menempatkan The Beatles di peringkat 1, maka John Lennon sendiri berada pada urutan 38. Nama John Lennon, oleh majalah yang sama, juga ditempatkan di urutan 5 dalam “100 Greatest Singers of All Time”.
Kategori sebagai musisi berpengaruh juga diterima oleh Ahmad Dhani dan Dewa 19. Pada November 2013, majalah Rolling Stone Indonesia merilis “The Immortals: 25 Artis Indonesia Terbesar Sepanjang Masa”. Dalam daftar tersebut, nama Ahmad Dhani berada pada peringkat 24. Sedangkan, Dewa 19 di peringkat 23.
Kita bisa sepakati, kedua musisi ini adalah legenda: John Lennon milik dunia, Ahmad Dhani milik Indonesia. Gimana?
John Lennon dan Polemik Agama
Selain kemiripan prestasi, antara Ahmad Dhani dan John Lennon, ada juga kemiripan kontroversi. Jika Dhani dituduh menyalahgunakan simbol agama, maka John diprotes karena mengucapkan kalimat yang dianggap melecehkan agama.
Pada Maret 1966, London Evening Standard mempublikasi pernyataan John Lennon yang menyebut, “Aku tidak tahu yang mana yang akan musnah lebih dulu, Rock n Roll atau ajaran Kristen. Tapi, yang jelas kami sekarang lebih terkenal dibanding Yesus.”
Pada Juli 1966, pernyataan itu kembali dicetak Datebook di Amerika Serikat. Publik meresponnya dengan protes. Beberapa stasiun radio dilarang memutar musik the Beatles. Piringan hitam dan memorabilia band tersebut juga dibakar.
Aksi massa kemudian membuat keangkuhan John Lennon melembek. Seperti kucing yang disiram air panas. Pada 11 Agustus 1966, the Beatles menggelar konferensi pers di Amerika, yang juga menjadi hari permintaan maaf John Lennon.
Setelah itu, mereka melanjutkan tur dan, gilanya, tetap meraih sukses besar. Namun, kontroversi akibat pernyataan John Lennon melahirkan keputusan bahwa tur itu adalah konser terakhir di Amerika sebagai the Beatles.
Belum cukup. John Lennon masih punya kontroversi yang beda-beda tipis dengan pernyataan tadi. Begitu keluar dari the Beatles, John memutuskan solo karir. Dia juga terlibat aktif dalam gerakan anti perang. Pada tahun 1971, ia merilis sebuah karya monumental yang dikenang hingga hari ini: Imagine.
Sejumlah pihak memujinya sebagai lagu anti perang universal. Jimmy Carter, mantan Presiden AS, sempat membuktikan secara langsung. Ketika mengunjungi 125 negara, dia mengaku selalu mendengar Imagine diputar. Benar-benar universal bukan?
Namun, selain pujian, tak sedikit juga kecaman terhadap lagu ini. Sebagian pihak menilainya bernuansa antichrist atau freemason. Alasannya, karena dalam lagu Imagine, John membayangkan terciptanya sebuah perdamaian di dunia tanpa agama dan negara.
Merespon tuduhan itu,dalam sebuah wawancara John menyatakan, jika tiap manusia bisa membayangkan dunia dalam keadaan damai, tanpa pembedaan agama dan tidak membanding-bandingkan Tuhan, maka konsep perdamaian dalam Imagine bisa terwujud.
Di situ saya mengingat Gus Dur, John!
John Lennon, Ahmad Dhani, dan Politik
Imagine memang tidak bisa ditafsir secara dangkal. Kita perlu menelusuri latar historis dan ideologis ketika John Lennon menciptakannya. Kita memang boleh melakukan kritik. Tapi, kalau melempar tuduhan tanpa dasar, itu namanya: me-mode-pesawat-otak.
Pada 1971, ketika Imagine dipublikasi, Amerika Serikat masih berperang melawan Viet cong. Sejak mengirim pasukan pada tahun 1957 untuk melatih pasukan Vietnam Selatan, AS belum berhasil menaklukkan Vietnam Utara.
Sebagai bayaran untuk menguasai Vietnam, pemerintah AS harus menerjunkan lebih dari 2,6 juta tentaranya. Belum cukup, sepanjang tahun 1961 hingga 1971, militer AS menyemprotkan sekitar 11-12 juta gallon senjata kimia di hampir 10 persen wilayah Vietnam Utara.
Tak seperti kehebatan yang diceritakan dalam film Rambo, perang Vietnam memberi kerugian yang sangat besar bagi Amerika Serikat. Dalam perang tersebut, diperkirakan lebih dari 50 ribu personil militer AS tewas, serta ratusan ribu menderita cacat dan trauma.
Biaya perang ini juga nyaris membuat pemerintah AS bangkrut. Total pengeluaran untuk perang itu sekitar 173 miliar US dolar, atau setara dengan nilai 730 miliar US dolar di tahun 2013.
Nah, di masa-masa suramnya kemanusiaan itu, ada orang macam John Lennon. Dia jadi salah satu simbol gerakan pemuda, sekaligus salah satu orang yang paling diawasi pemerintah AS.
Apakah John Lennon menerima konsekuensi tadi hanya karena menyanyi? Tidak. Itu hanya salah satu cara kampanye saja. Selain nyanyi, John Lennon terlibat dalam demonstrasi, serta diskusi-diskusi politik.
Pada tahun 1969, dia dan Yoko Ono, istrinya, pernah menyewa billboard di berbagai kota. Tujuannya, untuk mengkampanyekan perdamaian. Jika hari ini kita mengenal sebuah kalimat “War is Over (if you want it)”, ingatlah pada pasangan suami-istri ini.
Pemerintah yang hobi perang dan dikuasai kebencian, sampai kapanpun, akan terusik dengan ide-ide perdamaian. John dan Yoko kemudian dideportasi. Sanksi politik itu tidak bikin kapok. Kampanye anti perang terus mereka suarakan. Pada tahun 1969 pula, John dan Yoko melakukan aksi Bed-In for Peace di hotel Hilton, Amsterdam.
Di Indonesia tahun 2016, dalam ruang dan waktu berbeda, kita menyaksikan sosok Ahmad Dhani.
Ia jadi salah satu seniman yang menceburkan diri dalam dunia politik. Seperti halnya John Lennon, kini negara dan masyarakat begitu memperhatikannya. Saya tak mempermasalahkan keputusannya terjun dalam dunia politik. Siapapun warga negara Indonesia, termasuk juga seniman, berhak untuk itu.
Ahmad Dhani masih juga bersinggungan dengan polemik seputar agama. Bedanya, kini dia tidak hadir sebagai tertuduh. Sekarang, dia justru tampil sebagai seorang yang lantang membela agama. Malahan dalam aksi 4 November lalu, ia dapat giliran orasi di panggung yang sama dengan panggung FPI.
Belakangan, ramai beredar video orasi Ahmad Dhani yang diduga menyinggung simbol negara. Kita belum tahu keasliannya. Cuma, dalam video tersebut, dia menyesalkan sikap Presiden yang tidak menghargai habib dan ulama. Kemudian disusul kata-kata semacam ba *sensor* bi atau an *sensor* jing.
Dalam suasana itu, saya mengingat sesuatu yang kritis sekaligus puitis. Jika John Lennon membayangkan ketiadaan agama, maka Ahmad Dhani menyampaikan dengan cara yang lebih lembut. Lagu “Atas Nama Cinta”, yang dia ciptakan, memuat bait-bait seperti di bawah ini:
… Begitu mudah mulutmu berkata
Atas namakan Tuhan
Demi kepentinganmu
Atas namakan Tuhan
Demi kepentinganmu
… Apapun cara kau tempuh
Untuk dapatkan yang kau mau
Meski harus jual murah
Ayat suci Tuhan
Untuk dapatkan yang kau mau
Meski harus jual murah
Ayat suci Tuhan
Meski terlihat jernih dan tenang, tapi kekuatan pesannya begitu terasa: Jangan bawa nama Tuhan dan Jangan jual murah ayat suci Tuhan!
Terlepas dari polemiknya hari ini, saya yakin, di luar sana masih ada banyak orang yang juga kangen padanya. Mungkin, mereka berharap cinta bisa membawa Dhani kembali. Tapi sudahlah. Ahmad Dhani sudah buat keputusan.
Sekarang, kita hanya bisa benar-benar tahu arti dari kalimat: “Oh, begini susahnya jadi John Lennon!”
Artikel ini pernah dimuat di Mojok
- December 30, 2016
- 0 Comments
.jpg)















