- December 27, 2025
- 0 Comments
Banyak hal telah berubah. Seturut ekspektasi atau malah melampauinya – termasuk dalam hal yang paling tidak diinginkan. Katanya sudah begitu cara kerja dunia, bahkan sebelum manusia pertama ada.
- November 20, 2024
- 0 Comments
Rasanya
seperti alien yang baru pertama kali datang ke bumi. Coba memahami kota dan
kehidupan yang sama sekali berbeda. Di mana orang-orang bergegas tinggalkan
hari untuk menjadikannya sejarah dan menemui masa depan – yang nantinya juga
akan jadi sejarah.
- May 05, 2023
- 0 Comments
Catatan ini dibuat dengan alur melompat-lompat karena masalah daya ingat.
*
Aku kenal Alan di pertengahan 2012. Kami bertemu di tepi pantai yang disembunyikan alang-alang – yang tingginya nyaris 2 meter – dan ditumpuki paku bumi. Kami menyebutnya ‘Olympus’. Aku lupa siapa yang memberi nama itu. Yang jelas, kami (beberapa mahasiswa karatan di Fisip Unsrat) seakan percaya bahwa orang-orang yang berkumpul di sana adalah kumpulan individu-individu dewa.
Belakangan, aku pikir, kepercayaan itu tidak lebih dari sekadar respons atas tumbuhnya semangat indie, kopi dan senja, yang oleh seorang musisi kemudian disebut sebagai taik anjing (wkwkwkwk). Oh, tapi jangan berkecil hati gaes, taik anjing juga punya peran penting terhadap eksitensi anjing itu sendiri. Kalau enggak bisa berak, mana ada anjing yang menjadi teman baik manusia hari ini?
Oke balik lagi ke awal perjumpaan dengan Alan.
Ketika itu, Alan masih berstatus mahasiswa baru dengan kepala plontos, badan ceking dan tidak begitu banyak bicara. Aku tidak begitu ingat bagaimana dia bisa berkumpul bersama kami, atau siapa yang mengajaknya.
Ingatan tentang itu memang hanya sekelebat saja.
... yang lebih panjang dan lekat, kemudian, adalah persahabatan.
*
Tidak berselang lama dari momen perjumpaan di ‘Olympus’...
Di Daseng Panglima, Sekretariat Asosiasi Nelayan Tradisional (Antra) Sulawesi Utara, berlangsung pelatihan paralegal untuk nelayan. Alan yang masih berkepala plontos hadir di situ. Aku kaget (atau justru aku yang mengajaknya, aku lupa), tapi aku tahu dia seorang pemuda dari suatu kampung nelayan.
Di akhir pelatihan, aku memberinya beberapa eksemplar materi diskusi. Aku hanya sedikit berharap – benar-benar hanya sedikit sekali – dia membacanya di rumah, kemudian mendiskusikan dengan teman atau nelayan setempat.
Beberapa hari setelah pelatihan paralegal untuk nelayan, kami berjumpa di kantin kampus. Aku menanyainya tentang materi yang sudah dia bawa pulang: apakah dia baca, diskusikan atau apapun perlakuannya. Kemudian dia menyebutkan suatu jawaban yang sangat di luar dugaanku, “Aku fotokopi materi itu lalu kubagikan pada nelayan-nelayan di kampung,” kata Alan.
Bangsat, pikirku. Saat itu aku tahu, aku bertemu dengan seorang yang energik dan penuh semangat.
Belum berhenti sampai di situ. Beberapa waktu kemudian, Alan bahkan sempat mengorganisir nelayan-nelayan di kampungnya untuk melawan privatisasi laut.
Begini cerita singkatnya. Beberapa kilometer dari kampungnya, terdapat sautu hotel yang membangun pemecah ombak untuk melindungi perahu-perahu pariwisata. Tapi, ketika perahu-perahu nelayan bersembunyi di balik konstruksi bebatuan itu, sekuriti hotel mengusir mereka. Ini yang jadi pangkal masalahnya.
Ketika aku mengajukan pertanyaan soal alasan dia mengorganisir nelayan untuk melawan pengusiran itu, Alan yang kepalanya masih plontos menjawab, “Pemecah ombak itu memang punya mereka. Tapi air dan laut tidak!”
Weeehhh, bravooo!
*
Alan kemudian bergabung di Lembaga Pers Mahasiswa Inovasi. Sebelumnya, dia sudah menjadi anggota Depot Seni Fisip Unsrat. Itu berarti, kami akan lebih sering bertemu dan ngobrol banyak hal.
Aku ingat betul, di Inovasi, Alan adalah salah seorang yang punya progres cepat. Dia tertarik fotografi, menekuninya hingga punya kemampuan mendokumentasikan gambar yang ajaib. Aku mungkin tidak berlebihan di sini. Karena, waktu masih kuliah, dia sempat ditawari jadi fotografer di salah satu kantor berita nasional biro Sulawesi Utara. Tapi dia menolak, karena tidak mau sudut pengambilan gambarnya diatur-atur. Ah, ya sudahlah, ya.
Kemampuan dan minat fotografinya itu lalu membuatku berkali-kali mengajaknya jalan-jalan sambil liputan. Yang paling aku ingat, aku mengajaknya ke Miangas untuk mengikuti selebrasi Manam’mi – penangkapan ikan tradisional masyarakat di pulau itu.
Awalnya Alan ragu untuk ikut, karena momen itu sangat dekat dengan jadwal ujian semester. Tapi aku membujuknya dengan mengatakan, ujian semester selalu ada di tiap semester. Sedangkan kesempatan mengunjungi Miangas, belum tentu terjadi di lain waktu.
Bujukanku berhasil. Dia minta izin ke orangtuanya, aku tidak tahu apa alasannya. Hingga, akhirnya, kami sukses menginjakkan kaki di salah satu pulau perbatasan Indonesia-Filipina.
![]() |
| Nih, kami selfie di puncak Pulau Miangas |
Ingatan lainnya, kami juga pernah bersama-sama mengunjungi Taman Wisata Alam Batuangus dalam momen perayaan “Festival Batuangus”. Waktu itu aku mengajaknya karena butuh transportasi dan joki. Kali ini Alan tidak banyak pikir, dia langsung mengiyakan. Aku menyewa mobilnya, sekaligus menjadikannya sebagai pengemudi.
Bonus dari perjanjian itu, kami punya kesempatan bertamasya dan tinggal di suatu penginapan pribadi yang luas tanahnya lebih besar dari lapangan sepak bola, dengan Selat Lembeh sebagai pemandangan dari beranda rumah. Di sana, kami menghabisi malam dengan minum beberapa kaleng bir bintang, sambil lihat bintang sungguhan dan mendengar debur ombak.
Setelah dari Batuangus, kami kemudian mengunjungi Batuputih. Ini barangkali bukan kunjungan pertama buat Alan. Tapi ketika itu aku bilang ke dia untuk ganti baju dan jangan menggunakan warna merah, karena yaki (monyet hitam sulawesi) akan menjadi agresif dan menganggap orang berbaju merah sebagai lawan yang mesti dihabisi, Alan percaya. Dia cepat-cepat ganti kaos yang sama sekali tidak memiliki warna merah.
Sepulang dari sana, aku jujur padanya, bahwa aku hanya mengarang cerita soal yaki dan kaos merah.
![]() |
| Alan ketipu, kan? wkwkwkwk |
*
Beberapa kali, ketika Alan sedang gundah, dia mengajakku ke rumahnya untuk ngobrol apa saja. Tapi yang paling sering, ketika aku perlu tempat nyaman untuk minum, aku selalu mengajaknya ke rumahnya (mengajaknya ke rumahnya, pilihan kalimat yang memang sangat tepat).
Seiring waktu, terdapat beberapa tempat yang pernah jadi ‘bar darurat’, misalnya pelataran belakang rumah, depan rumah, samping rumah, kamar tidurnya, pagar beton di batas pantai, suatu pantai yang sudah jadi aset pribadi politisi lokal, atau pantai lain yang katanya horor.
Pada suatu ketika, Alan sempat bilang, bahwa ayahnya melarang anak-anak di kampung itu mabuk-mabukan di sekitar rumahnya. Aku kaget, dan ragu meneguk sloki di teritori yang sudah dia sebut. Tapi Alan bilang, peraturan itu dikecualikan untuk teman-teman dari kampus. Oh, ya sudah, aman kalau begitu, pikirku (wkwkwkwk).
Oke, tapi bukan itu poin utamanya.
Tiap kali aku berkunjung ke rumah Alan, keluarganya memang sangat, sangat, sangat ramah. Membuatkan ikan hasil tangkapan dengan bermacam-macam bumbu, yang sangat, sangat, sangat enak. Rumahnya, juga menjadi tempat pelarianku ketika keuangan sedang bergejolak. Pada tahun 2018, contohnya, ketika aku kembali ke Manado, rumah Alan lah yang menjadi tempat transit (tapi dalam kurun nyaris 1 bulan). Alan juga hampir selalu membuatkanku kopi untuk melancarkan adrenalin.
Seturut pengalaman melewati waktu di rumahnya dan bertemu beberapa orang di lingkungannya, aku mendapati kesan bahwa Alan adalah seorang influencer di kampungnya – apalagi menyangkut ayam dan sepakbola. Banyak orang di kampungnya, juga dari kampung-kampung sekitar, manjadikannya semacam konsultan untuk dua topik tersebut.
Terakhir kami bertemu, dia sedang bersemangat mengajak pemuda-pemuda di sana untuk diskusi dan baca buku. Nyaris tiap malam mereka kumpul di kamarnya dan membicarakan banyak topik. Suara Alan selalu menggebu-gebu ketika menceritakan aktivitas yang disebut terakhir (dua kegiatan yang disebut awal juga semangat sih sebenarnya).
Aku rasa, Alan memang selalu menggebu pada hal-hal yang dia suka.
*
Aku kembali melewati beberapa hari di rumah Alan ketika dia sedang dalam proses merampungkan skripsi. Waktu itu, Alan bilang tidak mau bikin skripsi yang biasa-biasa. Jadi, dengan berbotol-botol captikus (dan wine di salah satu momen), dia ingin mendengar pendapat dari orang mabuk.
Lalu dia minta pendapat tentang topik yang akan diteliti, yakni soal perkawinan antara suku Bajo dan Minahasa. Topik yang tidak jauh-jauh dari kehidupannya: nelayan dan punya kedekatan kultur dengan suku Bajo. Sejak penyusunan proposal hingga riset skripsi, aku lihat dia betul-betul serius. Bahkan, ketika aku menawarkan pertanyaan tambahan, dia segera menemui sejumlah informan untuk memperoleh keterangan.
Kami memang diskusi cukup panjang soal topik ini, aku bahkan dapat banyak pengetahuan dari penelitiannya. Hingga, pada satu waktu, aku merasa sudah cukup berdiskusi dengannya. Ya, karena Alan sudah bisa menjelaskan banyak hal tentang interaksi suku Bajo dengan Minahasa, baik dalam aspek sosial, budaya dan perkawinan antara kedua suku tersebut.
Hasilnya, dia ceritakan di suatu kafe yang sudah dipenuhi teman-teman kampus. Dengan kalimat pendek dan senyum yang puas, Alan bilang “Kata dosen, ini skripsi terbaik, bro!”
Aku senang mendengarnya. Kerja kerasnya mendapat penilaian yang pantas.
Hasil penelitiannya kemudian membuatnya dekat dengan salah seorang dosen, yang secara tidak formal menjadikannya semacam asisten.
Waktu itu, Alan sempat kepikiran melanjutkan kuliah dan berharap menjadi dosen. Tapi, seperti halnya fotografi (juga vespa dan gimbal, yang tidak diceritakan di sini), visi tersebut agaknya tidak berlanjut – atau mungkin hanya tertunda.
*
Ketika aku sudah berada di Jakarta, Alan memberi kabar bahwa dia akan menikah. Dia memintaku untuk bikin puisi yang akan dituliskan dalam undangan. Aku menyanggupinya. Aku tidak akan menceritakan seperti apa isi puisinya – silakan baca sendiri di undangannya (wkwkwkwkwk).
Aku bayangkan, di waktu-waktu belakangan, ia merasakan grogi, cemas atau gugup menjelang hari pernikahan. Bagaimana tidak cemas, sodara-sodari, lokasi resepsi pernikahannya dibikin di lapangan sepakbola. 11-12 dengan lokasi konser Raisa atau BlackPink, lah! (hahahahaha)
Tapi rasa cemas memikirkan lauk konsumsi, piring dan kursi untuk tamu undangan tentu saja persoalan sepele. Alan akan menikah, dan sedang jatuh cinta. Tidak ada yang bisa meredam energi dan semangatnya, saat ini!
*
Selamat menikah Alan dan Tasya. Selamat ena-ena!
- March 04, 2023
- 0 Comments
- July 29, 2022
- 0 Comments
- July 29, 2022
- 0 Comments
- July 29, 2022
- 0 Comments
Aku bangun pagi setelah sekian lama. Mungkin bukan sesuatu yang luar biasa. Tapi sedikit selebrasi agaknya layak untuk kerja keras ini. Mencemari blog pribadi bisa jadi salah satu opsi – aku juga sudah lama tidak melakukannya. Jika tulisan ini rampung, maka aku harus menyediakan satu lagi hadiah untuk diri sendiri.
- December 24, 2021
- 0 Comments
Surabaya
bukanlah kota yang asing buat saya. Di kota ini, saya lahir dan beranjak
remaja. Ia adalah asal-mula segala sesuatu tentang saya: konstruksi berpikir,
cinta dan penolakan, persahabatan dan perlawanan, serta perkelahian dan
perdamaian. Bisa dibilang, Surabaya adalah sebagian dari diri saya hari ini.
Dari berbagai kekurangan, juga ketimpangan-ketimpangan sosial-ekonominya, saya
bisa mengingat banyak kebaikan di kota ini.
- May 14, 2018
- 0 Comments
Saya kira, pembuat status atau pesan berjudul “Pidato Presiden Donald Trump dan Dibalik Angka 7-12-17[i]” adalah orang goblok, tapi percaya diri. Status berisi terjemahaan pidato itu, belakangan, disebar ke media sosial seperti whatsapp, facebook atau lain sebagainya. Gobloknya lagi, yang nyebarin terbilang lumayan. Lumayan goblok juga, maksud saya.
- December 11, 2017
- 0 Comments
Ada sebuah klaim yang sering ditujukan pada
sepasang kekasih yang sedang jatuh cinta: “rasanya dunia hanya punya kita
berdua,” dengan tambahan, “yang lain cuma ngontrak!”
- July 17, 2017
- 0 Comments
Aku bangun pukul 11.30 dengan sedikit
terkejut, karena pukul 17.00 pesawat menuju Surabaya akan lepas landas. Sehingga,
paling enggak, aku harus sudah berada di bandara pukul 16.00. Tapi, ya
sudahlah. Bangun lebih siang sudah jadi konsekuensi tidur terlalu pagi.
Setidaknya, ini masih lebih baik. Masih ada sedikit kesempatan mengumpulkan
kesadaran.
Menjelang pukul 12.00, aku sudah selesai
mandi, mengemasi barang bawaan yang tidak begitu banyak, lalu memesan transportasi
online. Sialnya, beberapa pesanan harus dibatalkan. Entah aku yang melakukannya
karena menunggu terlalu lama. Atau dibatalkan oleh si pengemudi, mungkin karena
jarak yang terlampau jauh. Tak ada bedanya. Jadi, aku baru benar-benar
meninggalkan Pamulang sekitar pukul 13.00.
Pukul 14.15, aku tiba di Serpong untuk
menggunakan jasa bis menuju bandara. Seorang petugas menanyakan waktu
keberangkatan pesawat. Aku menjawabnya. Dia lalu menyarankan untuk kembali
menggunakan transportasi online. Sebab, bis berikutnya baru berangkat kira-kira
pukul 15.00.
“Kalau enggak macet, mungkin waktu tempuh
sekitar 1 jam 30 menit. Tapi, saya enggak bisa pastikan. Lebih aman berangkat
mulai dari sekarang,” kata dia.
Aku sepakat dan kembali memesan taksi
online. Konsekuensinya, uang yang harus dibayarkan mencapai 3 kali lipat,
karena ditambah dengan ongkos tol. Tak masalah. Paling tidak, aku bisa tiba
lebih cepat.
***
Pukul 15.45, aku tiba di bandara. Lalu
langsung menuju pintu penjagaan, menunjukkan e-ticket, melewati mesin
pendeteksi, menyerahkan ponsel dan KTP untuk check-in.
Setelah mengamatinya, petugas mengembalikan KTP
dan ponsel. Ia mengetikkan sesuatu, yang entah apa, aku juga tidak peduli. Tak
lama kemudian, ia kembali meminta ponselku. Aku menyerahkannya.
“Pesawatnya di bandara Halim, pak,” jawabnya
sambil menunjukkan nama bandara yang tertera di e-ticket.
Mendengar itu, aku langsung menutup wajah
dengan kedua telapak tanganku – seperti ketika Roberto Baggio gagal
mengeksekusi tendangan penalti di final piala dunia 1994 silam. Aku tahu, hidup
masih akan terus berlanjut meski pada kenyataannya aku salah bandara. Tapi,
tetap saja ini bukan hal menyenangkan.
Dengan agak bingung, aku bertanya soal
alternatif yang bisa diperoleh. Petugas menyarankan untuk mendatangi customer
service di bagian depan. Aku mengikuti petunjuknya.
Di tempat yang itu, aku menjelaskan
persoalan. Petugas customer service mengatakan tak ada kursi tersisa di pesawat
lain. “Pilihannya refund atau kejar pesawat di bandara Halim,” demikian ia
memberi opsi.
Aku berjalan keluar ruangan, sesekali bicara
sendiri. “Bangsat! Kenapa enggak baca dulu nama bandaranya,” keluhku yang dalam
sekejap juga kujawab, “Siapa peduli. Setahuku bandara ya Soekarno-Hatta! Aku
bahkan baru ingat, bandara ini terletak di Tangerang, bukan Jakarta!”
***
Aku menatap jam di ponsel, kemudian memantau
sekeliling. Ada beberapa taksi bandara yang mencari penumpang. Aku langsung
ngobrol dengan salah seorang di antaranya dan menanyakan kemungkinan tiba sebelum
pukul 17.00 di bandara Halim Perdana Kusuma. Dia bilang, mungkin saja, lalu menyebut
ongkos. Aku menawar. Dia menolak.
“Kalau enggak pake argo, harganya segitu
aja, pak. Nanti tol saya bayar,” demikian supir itu menawarkan.
Aku anggap ini semacam pertaruhan. Bukan
antara aku dengan supir taksi. Tapi, antara keberhasilan dan kegagalan, seperti
yang dikatakan Sjahrir, “Kita tidak akan pernah tahu menang atau kalah, kalau
tidak pernah bertaruh”.
Aku sepakat, meski itu jadi sebuah taruhan
yang sulit. Brengseknya, aku lupa, bahwa
aku jarang sekali menang judi!
***
Taksi meliuk, seperti dalam film. Supir
mengaku jarang berkendara dengan cepat. Aku juga bilang aku tidak suka mobil
ngebut, tapi hari ini lain ceritanya. Bedanya, aku perlu cepat supaya selamat,
sedangkan si supir tidak punya beban apa-apa.
Sekitar 5 kilometer, supir menyombongkan
kemampuannya dan menyebut diri sebagai “pensiunan yang masih gesit”. Dia
percaya, aku bisa naik pesawat dan tiba di Surabaya beberapa jam kemudian.
Namun, keyakinan dirinya perlahan-lahan
terkikis. Jalanan mulai padat. Supir berulang kali menanyakan rute terbaik. Aku
tidak tahu, tentu saja. Cara terbaik adalah membuka Google Maps.
Aku terkejut ketika melihat semua jalur
dipenuhi warna merah. Macet di mana-mana. Berdasarkan perkiraan Google Maps,
jarak tempuh kedua bandara sekitar 44 km dengan waktu tempuh 90 hingga 140
menit.
“Setan!” makiku dalam hati.
Sepanjang perjalanan, aku berusaha membuat
rasionalisasi sendiri. Misalnya, tiba sedikit lambat, namun pesawat delay
karena mendung atau hujan. Atau, membayangkan Google Maps salah membikin prediksi.
Bahwa kemacetan tidak sepanjang garis merah di peta atau bahwa taksi punya
kesempatan menempuh 60 km/jam.
Ya, saat itu, pikiranku membayangkan jalan-jalan
sunyi di Sulawesi Utara: sebuah terusan antara Bolaang Mongondow-Gorontalo, atau
tikungan-tikungan sunyi di Bolaang Mongondow Selatan. Bahwa 40 km adalah kurang
dari 60 menit.
“Di Sulawesi Utara enggak macet pak?” tanya
supir, setelah tahu aku lama tinggal di provinsi itu.
“Macet sih macet. Tapi jarang, dan enggak
sepanjang dan sepadat di sini. Macet pun hanya di pusat kota Manado. Di luar
itu, relatif lancar,” kataku.
“Sedikit kendaraan bermotor ya di sana?”
“Jumlah kendaraan bermotor di sini lebih
banyak dari jumlah penduduk Sulawesi Utara,” jawabku agak jengkel.
Supir tertawa singkat. Namun, ia sadar, tak
bisa lagi menyombongkan diri sebagai “pensiunan yang masih gesit”.
***
Selama berjam-jam terjebak macet, aku mulai
putus asa. Kini, jam menunjukkan pukul 17.30. Aku memintanya menyudahi
perjuangan. Waktu tempuh menuju bandara Halim, berdasarkan perkiraan Google
Maps, masih 1 jam lagi. Mendung sudah hilang di langit Jakarta. Kemungkinan pesawat
delay sangatlah kecil.
Mengacu teori kemungkinan, dalam kasus ini,
aku yakin kemungkinannya yang paling masuk akal adalah pesawat sudah berangkat.
Jika tidak, aku juga yakin, itu bukanlah mujizat, tapi kerugian besar bagi
penyedia jasa penerbangan. Banyak penumpang akan protes, dan mungkin saja nama
baik mereka rusak karena publikasi media massa.
Aku kemudian, mengambil opsi kedua: refund. Setelah
mengikuti beberapa petunjuk dari artikel yang muncul di google, aku mengajukan
permohonan refund. Tak lama kemudian, masuk email yang menyatakan permohonan
refund tidak bisa dikabulkan.
Bangke!
***
Pukul 18.00. kami sudah keluar tol, tapi aku
tidak tahu lokasi tepatnya. Yang kutahu hanyalah macet. “Enggak ada bedanya tol
sama jalan biasa. Di sini, tol bukan jalan bebas hambatan, tapi jalan bebas
lampu merah,” kata supir.
Aku sudah muak dengan kemacetan dan topik-topik
soal itu. Jadi, kualihkan pembicaraan ke hal-hal lain. Supir bercerita, dulu,
dia adalah seorang pekerja di perusahaan swasta. Ketika pensiun, dia coba
membangun usaha sendiri. Membeli mobil bekas, memperbaiki lalu kembali
menjualnya.
“Tapi, baru sekitar 5 kali jalan, saya
ditipu teman sendiri. Semua uang dibawa lari ke luar pulau. Sampai sekarang dia
enggak balik-balik.”
Aku prihatin mendengarnya, tapi tak punya
solusi apa-apa selain bertanya, “tidak lapor polisi pak?”
“Enggak. Buat apa juga. Uangnya juga enggak
bakal balik. Malah saya bisa lebih banyak ngeluarin duit.”
Setelah itu, dia memutuskan bekerja sebagai
pengemudi taksi bandara. Dari pekerjaan itu, supir mendapat sekian persen dari pendapatan
hariannya. “Saya tidak ngejar setoran, pak. Sudah tua, enggak kuat,” kata dia. “Jadi,
kalau sehari dapat Rp.200ribu, ya, harus dipotong dengan uang bensin. Sisanya,
dibagi dengan perusahaan.”
Kenyataan itu, menurut supir, bikin dia dan
beberapa rekannya seringkali tidak pulang rumah dengan memilih tidur di
bandara. Sebab, pulang rumah hanya bikin pengeluaran membengkak dan potensi
mendapat penumpang di bandara semakin kecil.
Kesulitan semakin bertambah sejak munculnya
transportasi online. Banyak pengguna jasa berpaling, sehingga pendapatan ikut menurun.
Menurutnya, persaingan antara taksi konvensional dengan taksi online tidaklah
seimbang. Bukan soal penggunaan aplikasi online, tapi lebih soal hal-hal administratif
dan pembiayaan untuk itu.
“Mereka (taksi online) enak, enggak banyak
ngurus izin. Nah, kita?” kata supir sambil menyebut sejumlah persyaratan yang
harus dipenuhi perusahaan taksi. “Tapi, saya tahu, penumpang tidak peduli
dengan itu. Penumpang maunya yang mudah dan murah.”
Aku tidak memberi tanggapan. Karena, aku
tahu, supir-supir taksi konvensional tidak punya kapasitas untuk menentukan kemudahan
dan biaya yang lebih berpihak pada penumpang. Karena, seperti aku, supir-supir
itu hanyalah pekerja.
***
Jam di ponsel pintar, yang baterainya bodoh,
menunjukkan pukul 19.00. Kami akhirnya keluar dari kemacetan. Supir bertanya
stasiun kereta yang dituju dan aku menyarankan yang terdekat. Dia memberi opsi,
lalu aku minta diturunkan di stasiun Tanahabang.
Kata supir, stasiun tersebut tidak begitu
jauh. Paling 15 menit sudah sampai di sana. Dia membuka jendela, lalu mempersilakanku
untuk merokok. Aku menawarinya. Awalnya, supir agak ragu menerima, karena rokok
sisa 2 batang. Tapi, aku bilang, aku akan beli lagi setelah turun dari taksi. Dia
lalu mengambil sebatang, dan kami merokok bersama.
“Setelah jembatan ini,” supir menyebut nama
yang tidak aku ingat. “Kita turun sedikit, lurus sekitar 3 kilometer, belok
kanan, lalu tiba di stasiun Tanahabang.”
“Ini sudah enak, pak,” supir menerangkan
sambil merokok. “Orang-orang pulang kerja mengarah ke sini. Jadi, jalan kita
lewat nanti tidak macet.”
Kami melintasi jembatan yang cukup lebar. Di
kanan-kirinya gedung-gedung tinggi meninju langit. Pemerintah menyebut
pembangunan macam begini sebagai kesuksesan. Tapi, mereka seringkali
menutup-nutupi fakta, bahwa masih ada orang yang per harinya memperoleh
pendapatan di bawah Rp.50ribu saja.
Aku dan supir menghisap rokok sekaligus polusi
ibukota. Sekitar 2 kilometer jalanan nampak longgar. Taksi bandara kembali
ngebut. Aku kira, supir sudah cukup hafal dengan jalan di Jakarta. Dia membenarkannya.
Sebab, sudah sejak remaja dia mengendarai mobil. “Ya, kalau titik-titik
macetnya saya sudah hafal, pak,” terangnya.
Setelah mengatakan itu, ia nyaris menelan
rokok yang dihisapnya, kemudian batuk. Di hadapan kami, mobil tumpuk-menumpuk. Kami
kembali menyaksikan kemacetan panjang. Pengendara sepeda motor meliuk-liuk,
memanfaatkan ruang-ruang kosong.
Kata supir, pemandangan tersebut tidak biasa.
Ia membuang rokoknya ke luar jendela. Seorang pengemudi di hadapan kami keluar
dari mobilnya, lalu membuang pandangan jauh kedepan. “Lihat tuh, orang sampai
keluar. Soalnya, tempat ini jarang macet. Ada yang aneh,” kata supir membela
asumsi sebelumnya.
Kalau tidak salah, kami terjebak macet selama
satu jam. Durasi itu, jelas melebihi perkiraan supir, karena sebelumnya ia
hanya bilang “turun sedikit, lurus sekitar 3 kilometer, belok kanan, lalu tiba di
stasiun Tanahabang.”
Kali ini, aku tidak begitu kecewa. Sebab,
sudah beberapa kali supir mengeluarkan prediksi yang tidak tepat – atau justru menunjukkan
hasil yang sebaliknya. Bagaimanapun ini bukan kesalahannya. Supir taksi tak
punya kuasa untuk menentukan macet-tidaknya Jakarta.
Akhirnya, kami hanya mampu menyesuaikan
ritme, jalan perlahan-lahan, keluar dari kemacetan, belok kanan lalu tiba sekitar
20 meter dari stasiun kereta. Supir, kemudian, menghentikan taksi di dekat
lampu merah dan tepat di hadapan rambu dilarang berhenti.
***
Supir menyebut tarif sesuai argo ditambah biaya
tol. Aku terkejut dan protes. Sebab, ketika di bandara, kami menyepakati biaya tanpa
argo dan ia akan menanggung biaya tol. Supir menyatakan bahwa ia telah mengoreksi
kesepakatan itu, dan menyatakan permintaan maaf.
Aku kembali merasa kesal, tapi tetap
mengeluarkan duit dari dompet sesuai permintaannya. Aku tahu, dia akan
menanggung kerugian jika menerima uang tidak sesuai argo.
Bagaimanapun, aku pikir, tanggungan hidupku
masih lebih ringan. Katakanlah, aku merugi beberapa puluh ribu, tapi supir
tidak benar-benar memperoleh kelebihan dari kerugianku. Karena, dia punya beberapa
mulut yang harus diberi makan.
“Maaf, ya, pak. Misi kita gagal semua,” kata
supir sambil tersenyum dan agak merasa malu.
Aku menerima permintaan maaf itu, lalu
keluar dari taksi sebagai seorang yang “sudah jatuh, tertimpa tangga jalan pula”.
Tapi sudahlah. Aku kira, jika beberapa hal
berjalan di luar kendali, hidup akan memberi kejutan. Dan, kejutan itu bisa
jadi keberuntungan atau kesialan. Hari ini, aku hanya sedang sial saja.
Aku menatap ponsel, jam menunjukkan pukul
20.10. Aku perkirakan, akan tiba di Pamulang paling cepat pukul 22.30. Aku
menuju stasiun kereta dan mengetahui, itu adalah stasiun Karet.
“Bangsat, ditipu lagi!!!”
*
Sumber gambar klik di sini
- June 20, 2017
- 0 Comments


.jpg)









