Surat untuk Valak: Kalau Cuma Main Film, Genderuwo Juga Bisa!

10:00:00 PM





Belum lama ini, pacar saya nonton film The Conjuring 2. Dari dia, saya dengar, ada setan serem yang mendadak ngetop dan jadi meme di sana-sini. Namanya, Valak. Saya tidak terlampau tahu setan jenis apa dia, dan tidak begitu peduli. Hanya saja, dari sejumlah meme, saya lihat, Valak adalah setan yang pakai baju biarawati. Mukanya putih, kayak orang kebanyakan pake sunblock atau mirip anak TK yang dibedakin emaknya secara brutal. Bibir dan alis matanya warna item. Dengan model begitu, penampilan Valak jadi bener-bener mirip Marilyn Manson pake kerudung.


Saya selalu menolak waktu diajak nonton The Conjuring 2. Nggak, bukan karena takut. Apresiasi saya pada film horor mentok sampai di era Suzana. Karena, meski absurd juga, tapi suasana horor yang dibangun bisa kebawa sampai di mimpi. Serius! Akibat film horor di era itu, sampai sekarang saya masih sering mimpi dikejar setan tapi cuma bisa lari di tempat. Sialnya, sudah nggak bisa kemana-mana, setannya kayak nggak ada niat nangkep. Cuma ngeliatin dari belakang sambil ketawa-ketawa aja.

Kalaupun di mimpi itu saya bisa lari, setannya sudah nungguin di tikungan jalan sambil duduk-duduk. Tapi tetep nggak mau nangkep. Dia selalu hadir dengan gaya khas: duduk, memperhatikan dari jarak beberapa meter, lalu ketawa. Saya dibiarin lari. Nanti ketemu lagi. Diliatin lagi. Gitu terus, nggak selesai-selesai.

Dari mimpi buruk yang terkonstruksi akibat film horor di era Suzana, saya merasakan ketakutan yang berulang kali hadir, yang harus tiba pada suatu akhir.

Sayangnya, makin ke sini, kreatifitas mendisain suasana seram di film horor, terutama di Indonesia, gagal dibawa sampai ke dalam mimpi. Barangkali, sebabnya adalah narasi film horor yang kurang total. Sebagian besar film horor, di era 2000an ini, tak konsisten memisahkan antara ketakutan dengan gejolak birahi. Hasilnya? Sudah pasti anti-klimaks di kedua sisi.

Kemudian ada pula karakter setan di film horor Indonesia yang bikin saya sedih: suster ngesot. Sebagai spesies setan, ia gagal berevolusi secara sempurna. Suster ngesot telah kehilangan kemampuan terbang ataupun berpindah tempat secara cepat. Ia telah gagal menciptakan suasana seram dan jadi contoh nestapa karakter setan di film horor tanah air. Shame on you, suster ngesot!

Kalau bukan soal gagal seram dan birahi, industri film horor selalu saja membuat penonton kaget, bukannya takut. Buka pintu aja pake didramatisasi. Pintu yang jaraknya 1 meter, perlu waktu setengah jam buat dibuka. Belum sempat dibuka, penonton diperdengarkan suara dentuman yang menggelegar. Biarpun suaranya nggak jelas, semua penonton akan kaget bukan main. Kadang juga, pas pintunya dibuka, udah siap-siap kaget, ternyata nggak ada apa-apa. Tapi tetep kaget juga. Iya, kaget karena gagal kaget.

Nah, kembali lagi ke film The Conjuring 2 dan setan Valaknya. Sejak melihat meme yang beredar, saya makin yakin, saya tidak bisa menikmati film horor ini. Meski saya tidak bisa memperkirakan seberapa berhasil dia mengkonstruksi suasana seram, namun seperti kebanyakan film horor lainnya, saya sudah ilfil pas ngeliat setan pake baju. Jangan salah kira, saya bukan bermaksud atau berharap, film horor menampilkan setan-setan bugil. Biar saja film genre lain yang mengambil tugas itu.

Maksud saya, baju, kain, sepatu atau sendal adalah materi. Supaya bisa ada barang-barang itu, harus ada bahan baku yang diproduksi. Supaya bahan baku bisa diproduksi, harus ada pekerja yang memproduksinya. Jika mengikuti sistem kapitalistik macam sekarang, maka dalam produksi baju harus ada industri garmen. Tapi, sekali lagi, baju, bahan baku serta alat produksinya adalah materi. Bukan arwah.

Yang mesti dipahami, karakter setan itu selalu dibentuk sesuai imaji kolektif masyarakat dalam kultur tertentu. Beda budaya dan ajaran, beda pula karakter setannya. Seinget saya, waktu kecil, saya sering denger cerita setan dari orang-orang sekampung. Dan yang bisa bikin takut adalah gendoruwo, pocong, jenglot atau kuntilanak. Teman-teman seumuran saya tidak ada yang takut dengan dracula, vampir, zombie atau.. Valak.

Memang, di zaman bioskop dan televisi, setan-setan dari banyak negara bisa nampang di Indonesia. Tapi, itu tidak lantas membuat setan dari Jepang, Thailand maupun Amerika ditakuti di sini. Kalaupun ada cerita soal hantu tentara Jepang ataupun noni Belanda, itu lebih dikarenakan cerita historis yang dibangun masyarakat pasca kolonialisme. Tak ada Valak di sana. Jadi, ia tak mungkin benar-benar menjadi momok mayoritas masyarakat di Indonesia. Saya begitu yakin, dalam 10 tahun kedepan, tak ada ibu-ibu yang bilang, "Udah malem, Nak. Cepet pulang. Nanti diculik Valak, lho!"

Kemudian, karena imaji soal setan itu dibangun berdasarkan batasan kolektif tertentu, maka tak menutup kemungkinan, terselip unsur-unsur moral dalam cerita setan. Tidak percaya? Coba nonton lagi film-film horor Indonesia di laptopmu. Di situ akan menonjol kisah setan balas dendam karena kurang ajarnya pemeran antagonis di film itu. Mungkin juga endingnya soal hukuman ke orang-orang brengsek yang suka ngebully setan waktu masih jadi manusia. Sehingga, tanpa kita sadari, setan yang punya stigma jahat, justru tampil sebagai jagoan di akhir cerita. Arwahnya penasaran, lalu gentayangan, hanya untuk membalas kejahatan yang sudah lebih dahulu diterimanya. Apa pesan moral dalam The Conjuring 2? Karena belum nonton, saya tak bisa menjawabnya. Itu jadi tugas Nyong dan Noni.

Tapi, tak menutup kemungkinan suatu saat setan Valak benar-benar menjadi setan, bukan sekedar hiburan, di Indonesia. Syaratnya, ya harus dikonstruksi oleh imaji kolektif masyarakat.

Lalu bagaimana itu bisa terwujud?

Pertama-tama, Valak mesti menampakkan dirinya ke orang-orang yang sudah nonton film The Conjuring 2, terutama yang tujuan utamanya cari tempat gelap buat pacaran. Setelah menakut-nakuti, suruh mereka bikin catatan, foto atau bikin Video penampakan, trus sebarin ke jejaring sosial. Kedua, takut-takutin juga wartawan dan pemred media, yang beritain meme-meme kocak tentang Valak. Sebagai wujud permintaan maaf, mereka harus sebarkan catatan, foto maupun video penampakan. Itu belum cukup. Mereka juga harus bikin wawancara ke orang-orang yang sudah lihat Valak. Pastikan jadi berita utama di media-media itu.

Dengan kedua langkah tadi, masyarakat akan membangun presepsi bahwa Valak telah ada di Indonesia. Mirip penyu, Valak bisa mengarungi samudera. Gunakan media, Valak. Belakangan, jejaring sosial juga mampu jadi pembentuk presepsi masyarakat. Valak memang sudah tenar. Sudah main film. Sudah dibikinin meme. Sekarang yang paling utama harus dilakukan, ya, kamu harus hadir, harus menampak. Harus benar-benar menakuti. Bukan jadi setan yang ditonton sambil makan popcorn, pelukan, ciuman di tempat gelap, abis itu dicampakkan gitu aja.

Kalau cuma main film, genderuwo juga bisa. Tunjukkan, Valak, kamu adalah setan bukan hiburan!

You Might Also Like

0 comments

Tentang Saya

My photo

Dengan bakat masak telur, mie instant dan air panas, saya bercita-cita jadi master chef.

"Tembok!"

Informasi diperoleh secara cuma-cuma. Ia ada disekitar kita. Tiap orang berhak mengaksesnya untuk mengembangkan diri atau menghindari pembodohan. Karenanya, privatisasi informasi merupakan sebuah bentuk penyelewengan intelektual.

Coretan di Tembok!