‘Angka Tuhan’ dan Salah Tanggal Pidato Donald Trump

11:01:00 PM



Saya kira, pembuat status atau pesan berjudul “Pidato Presiden Donald Trump dan Dibalik Angka 7-12-17[i]” adalah orang goblok, tapi percaya diri. Status berisi terjemahaan pidato itu, belakangan, disebar ke media sosial seperti whatsappfacebook atau lain sebagainya. Gobloknya lagi, yang nyebarin terbilang lumayan. Lumayan goblok juga, maksud saya.


Kesimpulan yang dibuat dalam status itu, “7 adalah angkanya Tuhan”,  “12 adalah angka pemerintahan ilahi”, serta “17 adalah pesan kerohanian Allah”. Tapi sabar dulu! Menurut saya, pembuat status, bisa saja, punya iman yang menggebu-gebu dengan logika yang gersang. Sebab kesimpulan yang dia buat, tentu saja, sama sekali tidak berhubungan dengan isi pidato Donald Trump.

Pembuatnya cuma menafsir tanggal, kemudian menghubungkannya dengan ayat-ayat Alkitab. Tapi, berdasarkan kalender Amerika, Donald Trump membacakan pidatonya pada tanggal 6 Desember 2017, bukan tanggal 7 – kalau enggak percaya, nyong dan noni bisa klik di whitehouse.gov[ii], terus liat tanggalnya.

Barangkali, karena gerak jempol lebih cepat dari gerak otaknya, pembuat status atau pesan itu lupa bahwa, mengacu perkiraan google, Jakarta unggul 12 jam dari Washington. Artinya, kalau Donald Trump pidato pada tanggal 6 Desember 2017 siang waktu Washington, maka paling cepat beritanya bisa dibaca atau ditonton pada dini hari waktu Indonesia. Mungkin, karena baca dari situs-situs berita di Indonesia, dia lupa perbedaan waktu tersebut. Seharusnya, karangan fiksi-religi itu diberi judul “Pidato Presiden Donald Trump dan Dibalik Angka 6-12-17”.

Bukannya menyampaikan nubuat, si pembuat status lebih mirip konspirasionis. Ia mengingatkan saya pada David Meade, numerolog yang memprediksi kiamat akan terjadi pada 23 September 2017. Prediksi itu dibuat berdasarkan teori Planet X, kemudian menghubungkannya dengan beberapa ayat Alkitab. Karena batal, Meade merivisi kiamat akan dimulai pada tanggal 15 Oktober[iii]. Karena batal lagi, saya jadi malas menelusuri lebih jauh prediksi Meade. Toh, beberapa bulan setelah tenggat waktu yang dia tentukan, saya masih bisa membuat tulisan ini.

Kembali pada pembuat status “Pidato Presiden Donald Trump dan Dibalik Angka 7-12-17”. Selain salah tanggal, pesan yang dikonstruksi juga menunjukkan kualitas otak si pembuat status. Karena tidak mampu bikin argumentasi yang memadai untuk mendukung rencana pemindahan kedutaan Amerika ke Yerusalem, maka ia mengutip ayat-ayat Alkitab secara mem-babi-buta, lalu menghubungkannya dengan pidato Donald Trump. Walau, babi buta juga enggak gitu-gitu amat.

Bagi saya, siapa saja berhak percaya pada akhir zaman, penggenapan firman, tanggal atau angka-angka tertentu, tanpa menyesatkan pikiran atau iman orang lain. Anda boleh percaya bahwa Yerusalem, pada suatu saat, akan jadi “pusat Pemerintahan Ilahi” tanpa harus membuat kisah semi-fiksi-religi, demi komentar balasan seperti “Amin”, “Haleluya” dan lain-lain.

Paling tidak, kalau ngarang jangan goblok-goblok banget, lah. Malu-maluin aja. Para konsumen status atau pesan tersebut, sebenarnya juga berhak untuk menolak dibodohi. Tapi, bagaimanapun, mereka juga punya hak untuk memperpanjang barisan kebodohan.

Padahal, kalau mau berpikir logis, kita harusnya bisa menarik kesimpulan bahwa pidato Donald Trump adalah kebijakan politik, bukan nubuat akhir zaman. Tapi ya sudah begitu kelakuan para penganut cocoklogi – meminjam istilah teman. Jempolnya lebih cepat bergerak dibanding otak.

Maka, untuk memutus rantai pembodohan, sejumlah tokoh dan organisasi Gereja segera menegaskan sikap. Vatikan, melalui Paus Fransiskus, misalnya, mengharapkan berbagai pihak untuk menghormati Yerusalem sebagai daerah status quo. “Status quo Yerusalem penting untuk menghindari ketegangan baru di dunia yang sudah bobrok oleh begitu banyak konflik[iv],” demikian dikatakan Paus Fransiskus.

Senada, Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI) mendorong gereja-gereja untuk menempatkan status Yerusalem dalam skema dua negera demi perdamaian dan keadilan bagi Israel dan Palestina. “Olehnya, PGI berharap, Yerusalem tidak serta merta diklaim sebagai ibukota oleh negara manapun,” demikian pernyataan PGI dikutip dari tirto.id[v]. Mereka juga mengimbau “Agar masyarakat Indonesia tidak meletakkan isu Yerusalem dalam sentimen agama, apalagi dikapitalisasi untuk kontestasi politik.”

Melalui Vatikan dan PGI, setidaknya kita bisa tahu, tak ada nubuat dalam status berisi terjemahan pidato Donald Trump. Pertama, karena status itu salah tanggal – tapi saya sarankan, enggak perlu bikin revisi tanggal atau klarifikasi hanya untuk memperpanjang kegoblokan. Kedua, persepsi untuk menyelesaikan persoalan Yerusalem tidaklah tunggal, sebagaimana kota itu ditinggali dan menjadi simbol 3 agama: Yahudi, Kristen dan Islam.

Saya tahu, status yang kental dengan fanatisme dan propaganda murahan macam “Pidato Presiden Donald Trump dan Dibalik Angka 7-12-17” banyak digemari orang. Soalnya, dengan jalan begitu, orang enggak perlu repot-repot mikir. Asal ada ayat Alkitab di situ, status bisa langsung dishare, dijawab “Amin”, “Haleluya”, dan lain-lain. Benar atau hoax, bukan perkara penting.  Yang penting, “Pesan ini tidak putus sampai di tangan Anda”. Selesai, selamat, kalau mati nanti masuk surga. Amin.

Akhirnya, dari status tersebut, saya benar-benar bisa melihat cara mencomot ayat Alkitab untuk digunakan sesuai kepentingan pribadi, serta bahaya yang ditimbulkan: kebodohan bisa menular secepat gerak jempol. Bahaya lain adalah, seperti kekhawatiran Paus dan PGI, merebaknya konflik berlatar sentimen agama. Tidak, Anda tidak perlu ke Palestina atau Israel untuk tembak-tembakan. Cukup menyebar hoax dan mempercayainya. Karena, saya percaya, dalam semangat fanatisme buta, hanya satu jenis spesies yang layak hidup di bumi: “kita” atau “mereka”.

Sumber Foto Donald Trump di ambil dari sini

Kalau masih malas buka link whitehouse.gov, silakan lihat pada screencap di bawah ini

You Might Also Like

0 comments

Tentang Saya

My photo

Dengan bakat masak telur, mie instant dan air panas, saya bercita-cita jadi master chef.

"Tembok!"

Informasi diperoleh secara cuma-cuma. Ia ada disekitar kita. Tiap orang berhak mengaksesnya untuk mengembangkan diri atau menghindari pembodohan. Karenanya, privatisasi informasi merupakan sebuah bentuk penyelewengan intelektual.

Coretan di Tembok!