Obituari buat Didi

3:10:00 AM



PERSONIL The Sotset berjalan sempoyongan. Beberapa jam sebelum dimulainya gig, mereka terlampau semangat meneguk captikus – minuman para dewa itu. Alkohol bereaksi, kepala berguncang dan darah mendidih.

Di atas panggung, masing-masing personil mulai memadukan nada gitar dan bass – kebiasaan lain yang tak kalah memakan waktu. Di posisi belakang, sang drummer melakukan pemanasan. Ia memukul snare, cymbals, hi-hat dan menginjak-injak pedal drum.

Malam itu, Gedung Kesenian Pingkan Matindas, dihadiri ratusan pemuda-pemudi. Ada yang rambutnya mohawk warna-warni, tato di sekujur tubuh, rantai dompet sebesar rantai kapal, hingga lubang tindik yang setara diameter batu akik.

Banyak orang menyebut mereka punkTapi tidak semua individu punk menggunakan sebagian atau keseluruhan simbol-simbol tersebut. Ada yang tidak merokok, tidak meneguk alkohol, tidak menggunakan tindik di telinga dan tidak bertato.

Ruangan gig miskin fentilasi. Namun, di dalamnya, ada sekitar 200 atau 300 orang berkumpul. Mereka bergantian menghirup udara, asap rokok dan aroma captikus.

Distorsi gitar dan gebukan drum saat check sound bikin temperatur ruangan makin mendidih. Personil The Sotset terlihat sesekali menempelkan telinga pada speaker gitar maupun bass. Dahi mereka mengkerut. Jari memberi simbol khusus. Tandanya, nada kembali harus dipadukan.

Penonton tak terlampau menggubris aktifitas itu. Mereka asik ngerokok dan menikmati captikus. Beberapa lainnya malah sudah mabuk berat. Tergeletak di lantai atau bergegas keluar ruangan untuk memuntahi rerumputan.

Ketika nada gitar dan bass dirasa sudah padu, Didi – vokalis sekaligus basis The Sotset – mulai maju ke depan panggung. Matanya, yang merah menyala, menguasai ruangan.

“Oioiiiii!!!” demikian Didi berteriak.

Penonton membalas seruan itu. Ruangan bergetar. Izal menyambutnya dengan lengkingan gitar. Cecep tak mau ketinggalan. Dia memukul setiap bagian drum tanpa ampun – seperti ketika tanpa kasihan melumat habis bibir kekasihnya.

Di tengah-tengah keriuhan itu, Didi mulai berorasi. Captikus membuat kalimatnya berputar-putar, mengulang-ulang. Lidahnya sering kepleset saat menyebut huruf ‘R’. Tapi ia tak peduli. Didi terus saja ngoceh sampai tak tahu lagi harus bilang apa.

Mendengar itu, penonton mulai bangkit menuju depan panggung. Mereka sudah tak sabar ingin joget pogo.

Begitu “Revolusi” digeber, lagu yang juga jadi andalan The Sotset, penonton langsung saling tubruk, saling sikut dan saling tendang. Aksi itu adalah respon terhadap raungan musik cadas.

Pogo memang bukan goyangan yang bisa dilakukan sambil memegang sloki anggur, lalu membisikkan kata cinta di telinga kekasih Anda. Melakukannya berarti menyatu dengan ketukan beringas punk rock. Para penarinya akan saling tubruk. Terjatuh, bangkit lagi dan kembali saling tubruk.

Meski demikian, kalau didengar telinga yang bersih dari alkohol, The Sotset sesungguhnya tidak memainkan “Revolusi” secara rapi. Tak sulit menemkukan kesalahan kunci, ketinggalan tempo atau vokal kepleset nada.

Apalagi, Didi punya atraksi khas: berhenti memetik bass di tengah lagu. Biasanya, Cecep yang paling terpengaruh. Ia kehilangan panutan. Satu-satunya cara, adalah dengan mengandalkan intuisi personal. Kalau belum cukup, ia akan memohon pada Tuhan supaya ketukannya tetap stabil.

Bagi band dan penonton yang sudah kepalang mabuk, harmoni nada bisa jadi nomor sekian. Yang penting goyang. Berhenti dan memperbaiki kesalahan jadi sesuatu yang tak diharapkan.

 Show must go on!


SAYA pertama kali bertemu personil The Sotset sekitar tahun 2011. Malam itu, Terri, drummer The Sotset sebelum Cecep, mengajak dan mengenalkan saya pada Didi dan Nixon. Ada Izal juga. Tapi, nampaknya, dia tak bisa ikut gigs. Sebentar lagi, Izal akan menyusuri pesisir Sulawesi untuk kemudian menyebrang ke tanah Jawa.

Di sana, saya mulai mendengar lagu “Revolusi” dimainkan. Nixon menyanyikan lagu itu dengan karakter suara tebalnya. Tak begitu lama mereka berusaha mencocokkan nada dan tempo. Sisanya, kami habiskan dengan ha-ha-hi-hi dan minum-minum.

Saya menyaksikan penampilan perdana The Sotset, di Gedung Pingkan Matindas. Tiga personil naik ke atas panggung. Terri berorasi. Musik digeber. Pengunjung saling tubruk.

Riset skripsi, kemudian, mendekatkan saya pada mereka. Bukan, saya tidak meneliti musik, tapi tentang reklamasi pantai di Sario Tumpaan. The Sotset, secara individu dan grup, terlibat dalam penolakan itu. Ide tentang riset nelayan dan reklamasi juga datang dari Terri.

Pada tahun 2012, Terri mengajak saya ke Daseng Panglima dan memperkenalkan dengan beberapa nelayan tradisional di sana. Ternyata, salah satu nelayan yang harus diajak wawancara adalah Didi. Dalam riset itu, dia menjadi representasi pemuda yang berprofesi sebagai nelayan, sekaligus menolak reklamasi pantai di Sario Tumpaan.

Persoalannya, informan satu ini, bukanlah orang yang banyak bicara. Untuk itu, saya memutuskan bermalam di Daseng, sekretariat Asosiasi Nelayan Tradisional (Antra) Sulawesi Utara. Membeli satu paket captikus dan menawari Didi.

“Minum, bro?”

“Boleh,” jawabnya.

Kami bicara santai, belum menyinggung topik-topik reklamasi. Saya masih menunggu efek yang akan ditimbulkan alkohol. Indikatornya kepleset lidah, frekuensi bicara dan kecepatan mengeluarkan kata-kata. Singkat cerita, momentum itu tiba juga. Saya langsung to the point.

“Bisa kita (saya) wawancara untuk skripsi, bro?”

“Ah, ngana so dapa ley noh!”

Didi merasa dikerjain. Tapi, saya katakan, santai saja. Seperti ngobrol biasa. Dia sepakat dan kami mulai membicarakan keterlibatannya dalam penolakan reklamasi di Sario Tumpaan.

Kepada saya, dia bilang, “Kita nda sering iko diskusi. Mar, kalau ada aksi, kita pasti turun.”

Menurut Didi, reklamasi pantai membikin masyarakat sekitar, terutama nelayan, jadi semakin susah. Karang rusak, ikan semakin jauh, pengeluaran bertambah dan pendapatan menurun. Selain itu, pengembang telah melanggar perjanjian damai para pihak.

“Buat kita, kalau torang pe belanga dapa kore, berarti, musti malawang!” serunya.

Kami bicara sepanjang malam. Hingga paket captikus ludes. Seiring waktu, saya menyaksikan secara langsung peranan Didi dalam menggalang solidaritas. Ia mengajak teman-temannya di komunitas punk, dan menarik simpati individu-individu pecinta alam di Sulawesi Utara.

Setidaknya, beberapa  kegiatan untuk menyuarakan penolakan reklamasi pantai pernah dibuat di Daseng. Penggasnya anak-anak muda. Ya, komunitas punk, ya, individu pecinta alam, ya, mahasiswa, ya, orang-orang yang tidak masuk kategori itu.

Torang, di party punk, sering ma nyanyi lagu perlawanan. Makanya, kita ajak anak punk iko solidaritas. Bagitu juga deng tamang-tamang pecinta alam. Pantai ini juga alam. Bukan cuma gunung, toh?” kata Didi.

Selain musisi, punkers dan nelayan, Didi juga pecinta alam. Dia dulu ikut mendirikan KPA Mangrove. Karena itu, dia punya banyak sebutan, Didi “mayana”, Didi “Sotset”, Didi “Daseng” atau Didi “Mangrove”.

Pada beberapa tahun silam, dia ingin membuat komunitas pecinta alam di Daseng. Namanya, KPA Gunung dan Laut, yang tak kunjung terealisasi. Penamaan ini, untuk membuka wawasan pecinta alam, bahwa yang dimaksud alam bukan hanya gunung. Laut juga bagian dari alam.

Karena cinta alam, Didi menolak reklamasi. Dia tak ingin alamnya disakiti.


DALAM kurun 2012 hingga, setidaknya, tahun 2016, saya menyaksikan pemanfaatan Daseng Panglima, sekretariat Antra Sulut, bukan hanya sebagai simbol penolakan reklamasi, tapi juga ruang untuk mempraktikkan demokrasi.

Penghuni Daseng, sebagian besar didominasi pemeluk agama Islam. Namun, ketika mereka sedang berpuasa, mereka memberi makan orang-orang yang tidak puasa di siang hari. Makanan itu diambil dari rumah menantu Didi, yang tak jauh dari Daseng.

Kami, beberapa orang yang tidak puasa, merasa kurang enak. Kami biasa merokok di belakang Daseng atau bergerak ke tengah pantai. Ketika makanan tiba, Didi atau Dewi, Om Pony atau Tante Dada, langsung menyuruh kami makan. Saya, tentu saja, malu. Meski demikian, secara diam-diam, tetap mengambilnya dan menuju ke tempat tersembunyi.

Pernah suatu kali, saya bentak teman yang merokok di hadapan orang-orang yang sedang puasa. Didi senyum. Lalu bilang, “Biasa aja, Them. Nggak pa-pa, kok!”

Saya diam. Masih memendam kesal, dan tak habis pikir. Mereka puasa, memberi makan (pada yang tidak puasa) dan santai ketika cobaan hadir di depan mata. Sementara, di tempat lain, televisi menyiarkan razia warung makan yang buka di bulan puasa.

Malam Natal tahun lalu juga agak aneh, setidaknya buat saya. Ketika orang-orang Kristen pada umumnya masuk gereja dan memanjatkan doa, saya lebih memilih datang ke Daseng. Ha-ha-hi-hi dan minum-minum. Tepat pukul 00.00, kembang api mewarnai langit. Orang-orang membakar uang. Saat itu, orang-orang Daseng menyalami saya.

“Selamat natal, bro!” kata Didi.

“Nggak haram, bro?” saya tanya. Bercanda.

Didi tak membalas. Dia hanya tertawa, lalu bilang, “Besok bawa alkitab, bro.”

Dahi saya mengkerut. Bingung.

“Nggak punya.”

“Nanti aku cariin deh.”

“Untuk apa?”

Didi menjelaskan, bahwa menantunya akan bikin open house untuk merayakan Natal. Mereka sudah beli kue dan bir kaleng. “Besok kamu jadi MCnya, ya!”

Saya tertawa terbahak-bahak. Bercandanya sudah kelewat lucu. Saya tak menanggapi, lagi pula, malam ini akan mabuk berat dan kecil kemungkinan bangun pagi.

Tapi, suasana malam itu, jelas memberi kejutan pada saya. Didi, juga orang-orang di Daseng, memandang perteman secara murni. Melihat manusia sebagai manusia. Makanya, jika ada diskusi-diskusi tentang demokrasi, pluralitas dan keberagaman, saya akan selalu ingat orang-orang di Daseng. Ingat Didi.


Tahun 2015, Didi punya vespa baru. Warnanya biru. Beberapa bulan dia membawanya mengelilingi kota Manado. Barangkali, perjalanan paling jauh ke Aermadidi, Minahasa Utara atau ke kota Bitung.

“Vebi, namanya. Vespa biru,” kata Didi.

Saya lihat dia senang sekali dengan mainan barunya. Tiap ke Daseng, saya nyaris selalu lihat Didi mengutak-atik vespa. Saya tahu, dia belum begitu paham. Dia banyak berkonsultasi dengan Arek, kawan yang kini tinggal di Solo.

Saat itu, saya bilang, dalam waktu dekat akan ke Bolaang Mongondow Selatan. Ada evaluasi Program Mangrove For the Future. Ketika mengetahui rencana saya, Didi langsung menawarkan diri untuk ikut.

Sebelumnya, dia pernah datang ke desa tersebut dan memberi pelatihan alat tangkap ramah lingkungan, pada nelayan setempat. Saya ingat, betapa antusias nelayan melihat alat-alat yang Didi bawa dari Manado. Malahan, beberapa alat tangkapnya diminta nelayan.

“Buat saya, ya, pak?”

Didi senyum. Agak bingung, tapi merasa tidak enakan.

“Iyo, pak. Boleh. Cuma ini sih, kita punya. Mar ambe jo. Nanti kita bekeng ulang,” kata dia, saat itu.

Honor memberi pelatihan itu, kalau tidak salah, juga digunakan untuk membeli vespa.

Sekitar jam 6 pagi, kami berangkat. Didi menggunakan jaket berwarna merah dan membawa galon kecil untuk bensin cadangan.

Waktu tempuh Manado hingga desa Deaga, sekitar 8 jam, menggunakan mobil. Jadi, dengan vespa, kami perkirakan akan tiba di sana menjelang malam. Didi khawatir, lampu vespanya tak mampu menerangi tikungan tajam di Bolaang Mongondow Selatan. Jadi, kami sepakat untuk menginap semalam di desa Doloduo, Bolaang Mongondow.

Kami tiba di desa Doloduo sekitar pukul 4 sore. Bermalam di rumah kerabat Didi. Besoknya, pukul 6 pagi, kami melanjutkan perjalanan menuju desa Lungkap, Bolsel, dan tiba di sana sebelum pukul 9 pagi. Yakob telah menunggu, dan tersenyum menyambut kami.

“Gila ngoni eee. Datang kemari naik vespa!” kata Yakob, sambil tertawa heran. Yakob kemudian, mempersilakan duduk, membuatkan kopi lalu menawari makan.

Sudah jo, nda biasa makan pagi kita. Kopi jo,”  balas Didi.

Kami ngobrol sambil ngopi, kemudian melanjutkan perjalanan hingga desa Matandoi. Vespa sempat mogok di sebuah tanjakan. Saya melompat dan segera menahannya dari belakang, supaya tak tergelincir mundur. Didi menginjak stater, vebinya kembali meraung. Satu jam kemudian kami tiba di desa Matandoi, minum kopi dan kembali bermalam di sana.

“Ini kita pe touring pertama. Cuma macet di tanjakan tadi, noh,” terang Didi pada Yakob.

Saya bangga mendengar itu. Setidaknya, dengan menggunakan vespa jenis apapun, saya orang pertama yang menempuh perjalanan jauh bersamanya.

Pagi-pagi sekali, ketika hendak menuju desa Deaga, vespa tidak mau nyala. Didi sudah berulang kali menggebernya tapi percuma. “Pemar ley. Riki so kram ni hole-hole.”

Dia kemudian ingat sesuatu. Ada bagian mesin yang seharusnya menjadi penutup lubang. “So nda ada ni tutup noh,” kata Didi. Dia ingin menghubungi Arek, tapi jaringan komunikasi di desa Matandoi tak memungkinkan.

Didi lalu mengajak saya mencari tutup mesin itu hingga ke pantai. Sehari sebelumnya, kami memang menikmati suasana pantai di desa Matandoi. Dia yakin, alat tersebut jadi di sana.

Kami berjalan sambil menunduk untuk menatap aspal. Mondar-mandir, hingga 3 kali. “Rupa cari mushroom di aspal ini, bro,” saya bilang. Didi tertawa, tapi tetap putus asa. Sekali lagi, dia otak-atik vespanya lalu menggeber sambil memaki, dan... “trong, tong, tong, tonggggg...”

Mesin vespa nyala. Saya juga ikut memaki, sambil tertawa terbahak-bahak. Didi lega, tapi dia yakin ada bagian vespa yang hilang. “Ini depe bunyi masih aneh, dang. Coba ngana dengar.”

Saya mengiyakan, walau tak begitu paham. Belakangan, kata Arek, penutup yang dimaksud Didi tidak punya pengaruh.

Kami lalu menuju desa Deaga, dengan beberapa kali mogok. Begitu tiba di sana, saya mengikuti evaluasi sebentar. Lalu, kami beramai-ramai, mengelilingi desa untuk menyaksikan hutan mangrove.

“Kalian ini nekat bener,” kata mas Sugeng, perwakilan MFF.

Saya kira, kenekatan itulah yang membuat Didi, pada kemudian hari, memahami vespa dengan lebih baik. Ia cepat belajar, dan juga lebih sering memacu vespanya hingga ke Gorontalo.

Tak hanya itu, setahu saya, Didi juga yang menjangkiti pemuda-pemuda Daseng untuk beli vespa. Dia lalu berencana membuat sebuah komunitas bernama Ofulaut atau bikin bengkel vespa.

Ya, saya kenal Didi dengan berbagai latar belakang: musisi, anak punk, pecinta alam, nelayan, dan anak vespa.

Jika semua itu dijadikan satu, Didi adalah sahabat baik saya.


DEWI, istri Didi, menelpon saya dari akun facebooknya pada Sabtu pagi (6/5/2017). Dia langsung bilang, “So dengar kabar, Them?”

“Kabar apa?”

Perasaan saya agak tidak enak, tiba-tiba kacau. Tapi saya tak mau menarik satu kesimpulan pun.

“Didi ada orang tikang tadi subuh.”

“Bagaimana depe keadaan, Dew?”

“Sekarang lagi dioperasi.”

Pikiran saya semakin kacau, dan bingung menyusun kalimat. Saya khawatir mengeluarkan pertanyaan bodoh macam, “semoga dia tidak pa-pa” karena pada kenyataannya Didi sedang dioperasi. Lalu, saya alihkan pertanyaan.

Depe pelaku so dapa tangka, Dew?”

Dewi lalu menjelaskan persoalan. Tapi, saya tidak begitu menangkap maksudnya. Saya mendengar, tapi otak terus bekerja secara membingungkan. Yang bisa saya pahami, akar persoalan masih dicari tahu. Karena, subuh itu, Didi tidak membuat suatu masalah apapun.

Saya menghubungi Lulu, pacar saya, dan memintanya untuk datang ke rumah sakit. Saya juga menghubungi beberapa kawan di luar Manado. Pada saat-saat membingungkan itu, kak Yaya, menelpon.

“Them, Didi dapa tikang, kata?”

Iyo, kak Yaya. Kita baru ditelpon Dewi.”

Pemai dang. Ada masalah apa so?”

Nda ada kata, kak. Itu pelaku tikang kong lari.”

Pemai, dang.

Saya bayangkan, kak Yaya mengatakan itu dengan mata berkaca-kaca dan keinginan untuk meremukkan kepala pelaku penikaman.

Beberapa jam kemudian, saya menghubungi Terri dan memperoleh informasi, bahwa Didi telah selesai operasi. “Tinggal tunggu pemulihan. Dokter bilang, dia kuat,” kata Terri.

Saya lega. Lalu, memutuskan untuk tidur lebih cepat dari biasanya.

Begitu saya bangun, Minggu (7/5/2017), sekitar pukul 11 Wib, Lulu menelpon.

“Beb, so dengar kabar?”

“Kabar apa?”

“Kak Didi meninggal!!!”

Saya kaget bukan main.

“Serius? Dengar dari mana? Tunggu dang, kita telpon pa Dewi!”

Saya coba telpon Dewi, tapi nomornya sibuk. Saya telpon Terri, lalu mendengar suara beratnya.

"Iyo, Them. Kita baru mau ke rumah sakit."

Saya masih agak ragu dan perlu dengar kabar dari orang di rumah sakit. Lalu, sekali lagi saya menelpon Dewi.

“Dew, betul kata itu berita?”

“Betul, Them. Tadi jam 12 dia meninggal.”

Saya menangis ditelpon, dan hanya bisa bilang, “Nda sangka, eh, Didi.”

Di telpon itu, saya dengar Dewi juga menangis dan bilang, “So siksa kasiang dia, Themmy!”

Saya masih menangis, dan tidak bisa percaya. Didi meninggal di usia yang terbilang muda. Masih banyak yang bisa dan ingin dia buat. Saya ingat, beberapa waktu lalu dia telpon dan bilang mau bikin mini album buat The Sotset.

“Kapan ngana pulang? So kangen kita,”

“Nah, ini kita so di rumah,” jawab saya bercanda.

“Ke Manado maksudnya.”

Saya bilang satu-dua bulan lagi. Lihat kondisi.

“Ayo ke mari jo. Bulan April ada CSP (Celebes Scooter Party) di Gorontalo. Kong Mei ada party punk. Kong kita bicara deng Cecep mo bikin mini album. Ke mari jo.”

Didi bicara cepat. Kalimatnya berputar-putar dan mulai kepleset menyebut huruf ‘R’. Sejurus kemudian, Cecep menyaut, “Ke mari, bro. Fuck, kita so kangen pa ngana!”

So mabo ngoni kang?” tanya saya sambil ketawa-ketawa.

Nyanda, cuma minum sadiki ini, deng Cecep.”

“Wih, so kangen kita mabo deng ngoni noh!”

Percakapan itu dan berbagai memori datang ketika Didi sudah pergi. Saya tahu, dia masih punya beberapa atau mungkin juga banyak keinginan. Tapi, pembunuh itu menghancurkan semuanya.

Saya tidak peduli siapa pelakunya. Saya hanya tak habis pikir, kenapa seseorang bisa dengan mudah menghunuskan pisau tanpa memikirkan konsekuensi-konsekuensinya? Kenapa seseorang bisa mengambil nyawa yang tak pernah bisa diciptakannya?

Saya sedih dan emosi. Saya teringat kisah-kisah betapa bangganya orang-orang yang keluar dari penjara. Saya ingat skripsi Nono, yang menggambarkan kehidupan di dalam penjara. Saya ingat absurditas Albert Camus, yang menyatakan, “Seorang yang bisa hidup sehari di penjara, akan bisa hidup seratus tahun di sana.”

Bisa jadi itu salah. Tapi, apakah hukuman bertahun-tahun penjara akan setimpal? Saya kira, tidak. Berapa lama pun dia dikurung, tidak akan mungkin mengembalikan nyawa yang sudah dihilangkannya.

Saya khawatir dengan pikiran-pikiran itu. Emosi yang bergejolak membuat segalanya lebih kacau.

Saya masih tak percaya.

Di lini masa facebook, orang-orang membagikan kenangan, cerita dan foto. Saya membaca semuanya. Dari situ saya tahu, ada begitu banyak orang yang menyayangi Didi. Banyak orang yang tak percaya dia pergi. Banyak orang yang kehilangan seorang kawan baik. Banyak. Tapi, hanya ada seorang bebal yang memisahkannya dari kami semua.

Saya sedih tak bisa melihat wajah sahabat baik saya untuk terakhir kali, menyentuh pipinya dan membisikkan sesuatu di telinganya. Saya sedih tak bisa menyaksikan prosesi pemakamannya.

Tapi saya bangga pernah hidup bersamanya.


Selamat jalan, Didi.

You Might Also Like

0 comments

Tentang Saya

My photo

Dengan bakat masak telur, mie instant dan air panas, saya bercita-cita jadi master chef.

"Tembok!"

Informasi diperoleh secara cuma-cuma. Ia ada disekitar kita. Tiap orang berhak mengaksesnya untuk mengembangkan diri atau menghindari pembodohan. Karenanya, privatisasi informasi merupakan sebuah bentuk penyelewengan intelektual.

Coretan di Tembok!